
POV Bova
Seseorang tiba-tiba terasa memelukku. Aku membuka mata dengan kaget pagi ini.
"Javier..." Vanilla berguman di leherku.
Dan bayangkan bantal di tengah kami itu bergeser ke atas. Karena letaknya diatas selimut bukan di bawahnya. Entah bagaimana Vanilla sekarang tidur di lenganku. Dan kakinya naik ke pahaku, memperlakukanku seperti tumpuan tidurnya. Ini posisi cuddling sepasang kekasih.
****. Dia berkata aku tak boleh melewati garisnya, sekarang dia yang melewatinya sendiri.
"Jav.. " Tangannya menempel ke dadaku, sementara dia memanggil kekasihnya lagi. Untuk kedua kalinya dia membuatku sebagai mantannya, ini tidak bisa dibiarkan.
Dia menempelkan dirinya padaku sambil menyurukkan dirinya mencari kehangatan. Apa yang dimimpikannya. Mantannya lagi, sementara dia sedang memelukku. Vanilla ini sangat seenaknya. Apa jangan-jangan dia sedang mimpi panas!? Dia memimpikan mantan suaminya itu tapi memanfaatkanku! Pelukannya mengerat , sebuah gerakan di pinggulnya, dan caranya mengerakkan dirinya padaku belum lagi ******* yang membuatku berpikir jangan-jangan dia benar benar sedang bermimpi panas sekarang.
Vanilla ini benar-benar tak tahu siapa yang dia pegang.
"Ehmm.." Suaranya membuatku menghadapkan tubuhku ke arahnya. Tepat saat itu dia terbangun dari mimpi indahnya di keremangan pagi itu.
"Sudah bangun?" Dia kaget dan menjauh. Tapi aku menahan posisinya.
"Bova."
"Apa kau sedang bermimpi tadi? Kau memelukku begitu erat, tapi yang kau mimpikan orang lain."
"Aku tidak..."
"Kau tidak apa? Jangan bohong...Lihat posisimu." Kakinya masih menyelip di pahaku, sementara tubuhnya menempel di tubuhku dengan tangan melingkar didadaku. Dia tak bisa menjawabku hanya melihatku
"Maaf... aku ..." Dia lansung berusaha menjauh. Aku memotongnya perkataannya...
"Mungkin harusnya kita tanda tangan kontrak saja. Supaya kau bisa melupakan Javiermu itu Vanilla. Aku bisa lebih baik darinya..." Aku tak akan memaafkan dia karena telah berani menggunakanku seenaknya walau itu di mimpinya sekalipun.
"Bova..."
"Sudah kubilang sekali lagi kau memelukku kau tak akan lolos." Sekarang aku menghadap ke arahnya dan mengunci pinggangnya.
"Aku tak sengaja."
"Itu pelecehan namanya."
"Aku tak sengaja memelukmu. Mana ada pelecehan wanita memeluk pria." Dia selalu punya cara untuk berdebat denganku. Tapi kali ini dia tak akan lepas dengan mudah.
"Kau melakukannya sekarang, memakaiku untuk kepentinganmu sendiri.. Bukan hanya sekali ini kedua kalinya kau memelukku dan mengiraku sebagai mantan suamimu." Aku memasang wajah seram, tak akan kulepaskan dia. Dia gegagapan sekarang.
"Aku tak sengaja, lagipula kau yang tidur disini. Kau sudah berjanji kita akan pisah kamar. Lepaskan aku, aku tak sengaja memelukmu. Aku tak sengaja...." Dia kembali mencoba mendorongku, tapi aku tak melepaskan tanganku dari pinggangnya. "Bova, aku tak sengaja. Baiklah, aku minta maaf. Nanti aku yang tidur di sofa saja." Dia sama sekali tak memberiku kesempatan merayunya. Dia memilih tidur di sofa, daripada di pelukanku. Aku sakit hati.
"Kau kadang kelewatan jika mencari alasan...Aku tak keberatan sebenarnya kau peluk, mau dilanjutkan?" Aku mempertahankan pelukanku. Tak apa akan kubiarkan dia masih memasang tameng pertahanannya. Tak perlu buru-buru. Javiernya itu masih mempengaruhinya, lagipula surat cerainya belum keluar.
"Melepaskanmu? Kau harus membayar..."
"Apa maumu?"
"Beraktinglah lebih mesra di depan Ibuku nanti. Supaya dia menyangka usahanya berhasil."
"Baiklah."
"Peluk aku yang benar, jangan menaruh tanganmu didadaku. Kau ingin mengerakkan sesuatu disana, lagipula bukan hanya kali ini aku memelukmu..." Sekarang dia melihatku dengan takut, aku meringis menang.
"Kau mempermainkanku." Dia protes.
"Ku duluan yang mulai Vanilla." Sekarang nampaknya dia tidak punya pilihan, tangannya beralih ke punggungku dan wajahnya masuk ke pundakku. Dan aku bisa memeluknya sekarang, aku hanya ingin memeluknya saja.
Sekarangpun aku belum bisa sepenuhnya dekat dengannya karena jika aku masih harus mempertimbangkan efek kasusnya. Seiring waktu dia akan tahu aku bukan seburuk yang dia kira.
"Kenapa kau masih mengingat mantanmu itu?" Aku kemudian bertanya diantara dia yang bisa kupeluk.
"Aku hanya bermimpi tidak sadar. Bukan keinginanku." Perlahan dia nampaknya tak terlalu tegang lagi.
"Benarkah, orang sering bilang kalau mimpi itu adalah sebuah keinginan..." Dia menatapku, sementara aku masih memeluknya. "Kau harus melupakannya..."
Sekarang perlawanannya mengendur. Dia sepenuhnya membiarkan aku merangkulnya.
"Aku sedang berusaha."
"Ada aku membantumu melewatinya."
"Kau tak perlu melakukannya , kita cuma teman."
"Karena aku temanmu. Teman sejati itu selalu akan ada untuk satu sama lain." Dia diam. Mungkin berpikir apa arti kata-kataku itu.
"Kalau begitu kau teman yang baik. Tapi aku tak bermesraan dengan temanku." Dia tetap meninggikan pertahanannya. Bahkan sampai aku bicara beginipun dia tidak menurunkan pertahanannya padaku. Dia ternyata sama sekali tidak suka istilah teman.
Aku memutuskan melepasnyanya sekarang. Dia memandangku.
"Bova, sorry aku benar-benar tak bisa jadi sugar babymu."
"Aku tahu. Tak usah berpikir terlalu banyak. Kau akan belajar mempercayaiku nanti." Aku beranjak dari tempat tidurku.
"Aku mau jogging, sudah lama aku tak memutari kebun Mama."
Dan aku pergi, memakai jaketku sekarang.
Meninggalkan Vanilla dengan pikirannya sendiri, satu saat dia akan belajar bahwa teman yang baik itu lebih berarti dari hanya sebuah cincin.
Karena sekali aku berkomitmen maka aku tak perlu cincin atau sebuah surat untuk mengatakan itu. Kau hanya harus percaya padaku.