The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 64. My Baby 2



"Pil yang kau katakan, dimana itu, aku semalam lupa..." Dia menatapku yang tiba-tiba panik.


"Sebenarnya kau bermimpi apa? Kenapa kau begitu panik?"  Dia bertanya dan menatapku dengan heran.


"Aku bermimpi aku punya bayi kemudian aku punya banyak sekali pekerjaan, manager-manager mengerumuniku, semua orang mengerumuniku, bayiku diambil oleh mereka karena mereka mau mengurus pekerjaan, aku tak memberikannya lalu tiba-tiba mereka menyalahkanku atas semua kegagalan, pekerjaanku berantakan, bayiku menjadi sangat kurus... Aku tak mau itu terjadi Guilio, aku benar-benar belum siap untuk ini." Aku langsung menjelaskannya dengan ketakutan dan  menguncangkannya, mimpi melihat bayiku sendiri tak terurus itu sangat mengangguku. Dia melihatku bicara begitu cepat.


"Mana pilnya, aku benar-benar takut, berikan aku pilnya Guilio..." Dia terdiam sebentar, entah apa yang ada di pikirannya, aku tak tahu, bukan aku tak mau bayi, kami belum kemana-mana dan belum siap untuk itu.


Dia  terlihat enggan. Tapi akhirnya dia beranjak, mencari di sebuah laci dan memberikannya padaku.


"Ini..." Dia terlihat setengah hati memberikan pil itu.


"Terima kasih Guilio." Aku langsung meminumnya, aku melihat jam ternyata ini sudah jam delapan. Aku tertidur cukup lama untuk mendapatkan mimpi menggangu itu.


"Apakah seburuk itu..." Dia melihatku. Apa dia tersinggung karena sepertinya aku sangat terlihat tidak menginginkannya.


"Cara, kau tahu aku mengatakan aku tak keberatan." Rupanya dia tidak mengerti ini bukan masalah dia yang keberatan atau tidak, tapi kami yang belum siap.


"Aku tahu kau tak keberatan, tapi punya anak tidak sesederhana itu. Banyak yang kita perlu persiapkan, bagaimana jika anakmu tidak bahagia, aku tidak bahagia karena terlalu tiba-tiba, jika ibunya tak bahagia apa bayinya juga akan sehat? Bagaimana karena jika aku yang belum siap aku membahayakan anak kita menyebabkannya tak terurus. Kau mengerti bukan... Bukan aku meragukanmu atau menolakmu Balena. Ini juga demi kebahagiaan anak kita." Dia  akhirnya memandangku dengan tersenyum.


"Maafkan aku aku terlalu banyak bermimpi indah sejak bersamamu, pikiranku terlalu banyak memikirkan banyak hal dimasa depan kita. Kau benar, banyak hal yang harus dipikirkan, yang aku ingin katakan padamu adalah jika sesuatu terjadipun aku tak akan meninggalkanmu sendiri, aku juga akan memastikan kau bahagia." Aku tersenyum padanya.


"Aku tersanjung kau mengatakan itu... Bahwa kau akan siap akan resiko apapun. Bagiku itu  segalanya.  Tapi ini sangat aneh, kita sudah membicarakan anak Balena... Kita baru semalam..." Dia tersenyum dan jarinya merapikan rambutku, membuat aku berdebar melihat matanya yang begitu lembut padaku. Apa yang ada dalam pikiranny, apa dia benar-benar sudah memikirkan seorang bayi.


"Cara, sudah kubilang padamu... aku tak bisa hidup tanpamu." Sebuah kata  yang membuatku terdiam ketika dia mengatakannya dengan pelan. "Sudah dua puluh tahun kita berteman, aku selalu mempercayaimu, tak pernah sekalipun aku meragukan siapa kau. Aku menceritakan semuanya padamu, kau tahu siapa aku, semuanya tentang aku... Jika kau ingin kita menikah sekalipun hari ini aku akan bilang iya." Aku tersenyum dan memukul pelan dadanya.


"Guilio... kau ini ..." Dia merengkuhku dalam pelukannya. Membuatku terbenam dalam rangkulannya dan merasakan kehangatan tubuhnya.