The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 66. Another Reward 1




POV Bova


Persiapan pernikahanku sudah selesai, hari ini hanya memastikan hal-hal kecil sesuai dengan. Aku juga mengundang Guilio, karena bantuan dari temannya aku berhasil mengendalikan semua situasi ini. Selebihnya mungkin hanya teman dekat dan keluarga, undangan kami tak sampai 100 orang. Tapi entah kenapa dia meneleponku sekarang.


“Bro, aku ada pertemuan mendadak di Hongkong, mendadak sekali. Aku tak bisa hadir di pestamu, aku minta maaf, sekarang aku sedang di bandara.”


“Oh tak apa. Lain kali jika kami akan berkunjung ke Catania kami akan ke resortmu.”


“Apa Gianni masih membuat masalah denganmu?”


“Tidak, kurasa dia sudah mendapatkan deal yang dia inginkan, mungkin saja dia mencari kesempatan untuk membalasku di masa depan. Siapa yang tahu.”


“Kurasa dia mau membalas bagaimanapun, posisi kalian mendapat banyak dukungan sekarang dari partai. Apalagi karena kalian partai oposisi kali ini berganti menjadi partai pemerintah, sudah tak diragukan beberapa tahun ke depan adalah tahun kalian. Kita perlu berbisnis lebih banyak di masa depan. Ohh ya aku memasukkan berbagai jenis kopi premium sekarang import dari Asia Tenggara, jika kau ingin mendapatkan list baru untuk jaringan restoran dan hotelmu, kita bisa bicara diskon khusus.”


“Premium coffe Asia Tenggara. Maksudmu seperti Black Ivory dan Luwak?”


** Luwak Coffe = kopi yang dicerna musang ( yang memproduksi ini adalah Indonesia dan India) kisaran harga USD 180 per pound \,  Black Ivory Coffee= kopi yang dicerna oleh gajah\, diproduksi Thailand\, sekarang jadi kopi termahal di dunia USD 1\,500 per pound/ 1 pound= 0.45 kg).


“Ya dua kopi itu termasuk. Aku juga menjual the premium tea dari sana.”


“Baiklah. Aku tak bisa memutuskan secara langsung, tapi akan bertanya kepada beberapa orang yang memegang bagian itu. Tunggu saja kabar dariku oke”


“Oke kalau begitu, selamat untukmu sekali lagi brother.”


Pamanku dan sepupu-sepupuku berkumpul di Palermo Minggu ini, ada banyak waktu membicarakan bisnis.  Sebuah intercom datang padaku.


“Tuan, Allesio Giani, ingin bertemu dengan Anda.”


Orang tua itu masuk ke ruangan diantar oleh seorang assistennya, dia sekarang duduk di kursi roda, kondisinya agak memprihatinkan sebenarnya setelah terserang stroke. Aku melihatnya sekarang merasa aneh  kenapa dia menemuiku. Bukannya kasusnya sudah diputuskan, dan semua sudah selesai sesuai dengan perjanjian kami, sudah diputuskan kasus anaknya 7 tahun.


“Tuan Gianni, saya tidak tahu Anda akan kesini. Apa yang bisa saya bantu, bukankah kasus anak Anda sudah diputuskan.”


“Sudah, saya  berterima kasih atas pengaturannya. Sebenarnya tadi saya sehabis bicara dengan Tuan Antonio. Tuan Antonio bilang bicara kepada Anda saja...”


“Ohh, masalah apa.”  Masalah apa  yang harus bicara denganku? Aku tak punya kekuasaan apapun di lingkungan eksekutif.


“Saya minta remisi hukuman untuk anak saya kepada Tuan Antonio Segni. Saya hanya berharap saya bisa melihat anak pertama saya keluar dari  penjara sebelum saya mungkin meninggal. Tuan Segni mengatakan untuk merundingkan syaratnya kepada Anda. Saya tidak akan mencari masalah ke keluarga Bova lagi, saya mengakui apa yang terjadi adalah kesalahan  anak saya dan kami membayar harganya seperti yang Anda minta, saya sebagai seorang Ayah meminta bantuan Anda, jika kau ingin aku bicara kepada Pamanmu akan  kulakukan juga.”  Ternyata Tuan Segni membiarkan dia yang berurusan  dengan keluarga Gianni ini sebagai rewardnya. Bukan menemui Pamannya tapi menemui dia langsung. Tapi tentu saja dia tidak bisa memutuskannya langsung dia harus bertanya pada Antonio Segni.


“Ohh begitu ternyata.” Dia harus menelepon Antonio Segni sendiri. “Anda bisa tunggu sebentar di ruang meeting, saya harus  bicara dengan Tuan Antonio langsung, saya tidak bisa memutuskan ini sendiri. Sekertaris saya  akan mengantar Anda.”


“Tentu, saya akan menunggu.” Aku menelepon sekertarisku untuk mengantar mereka sebelum aku bicara ke Tuan Gianni.


Aku menelepon orang tua berpengaruh itu, teleponku diangkat dalam deringan kedua.


“Fabricio, aku tahu kau  akan meneleponku. Tenangkan saja Gianni tua, kasihan juga melihat orang tua yang sudah tak berdaya itu, kita atur remisinya, pikirkan saya kesepakatan bisnis yang tidak terlalu berat sebagai bayaran remisi yang dimintanya.” Ternyata dia sudah tahu apa yang aku ingin tanyakan.


“Begitu Tuan. Baik saya akan mencari kesepakatan yang kira-kira sesuai nanti.”


“Tapi tetap saja, dia harus memintaanya tahunan. Supaya dia ingat dimana tempatnya dan tidak berani mencari  masalah padamu.”


“Ohh ternyata begitu maksud Tuan. Saya mengerti.” Tuan Segni ternyata memikirkan sampai jauh  ke tahun-tahun ke depan.


“Bagus, kau atur saja. Anggap saja ini reward. Yang jelas dimasa depan, kami memerlukanmu orang sepertimu di partai, periode mendatang usiamu sudah mencapai 40, salah satu syarat kau bisa duduk jadi senator di parlemen, awal yang tepat kau bisa masuk di parlemen Fabricio. Pamanmu pun mendukungmu, kau punya jaringan yang dapat diandalkan. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana kau bisa menyelesaikan penculikan adik iparmu itu sendiri, sangat mengagumkan,  bahkan  kau mungkin tak perlu jasa pemerintah untuk bisa sampai ke FBI. Aku benar-benar kagum kau punya jaringan seluas orang-orang senior pemerintah...” Aku meringis, jika bukan jasa Nathan dan  Guilio aku tak  akan berdaya. Berkenalan dengan orang sekaliber Nathan memang punya keuntungan sendiri. Dan sampai ke parlemen di awal  usia 40, sungguh tak pernah aku pikirkan sebelumnya.