
"Cookies yang kau buat sangat enak. Tunanganku membawa pulang ke rumah kami dan membiarkanku mencicipinya." Aku semangkin binggung.
"Ohhh iya, kau suka aku punya banyak. Nanti kuberikan juga pada kalian." Aku menjawabnya dengan biasa, tapi apa dia tahu bahwa Bova membantuku membuatnya sampai jam 2 pagi?
"Dia dan Bova memang serasi, Bova sangat menyayangi kekasih hatinya ini. Coba perlihatkan cincinmu sayang..." Seorang temannya yang lain menimpali. Woow...cincin?! Aku sekarang tertarik.
"Kau lihat bagus bukan." Sophia memperlihatkan cincinya padaku. Dan aku yang terpesona pada cincin itu sekarang mengerti kenapa gadis-gadis ini datang ke sini.
Untuk memperlihatkan padaku, Bova sudah punya tunangan. Astaga, aku benar-benar ingin tertawa ngakak sekarang.
"Astaga cantik sekali. Kau sangat beruntung Sophia." Tapi tentu saja aku tak bisa menertawakannya. Aku hanya berlagak terpesona pada cincinnya. Nampaknya gadis ini tak tahu siapa Bova sebenarnya, dia pikir Bova bisa diikat dengan cara seperti ini.
Nampaknya Sophia yang cantik dan muda ini sangat mencintai Daddynya. Aku akan mengikuti permainannya saja sekarang. Tak mau mencari masalah... Tinggalkan saja masalah pada sugar daddynya.
"Aku tak tahu kalian akan segera menikah. Selamat sayang, jangan lupa mengundangku sayang." Aku menyerah Sophia, kau menang, bendera putih sekarang berkibar diatas kepalaku. Ambillah sugar daddymu kembali. Aku ingin mengikik tertawa sekarang...
Gadis ini akan patah hati, dan aku turut bersedih untuknya. Entah gadis ke berapa yang dipatahkan hatinya oleh Don Juan tak berperasaan itu.
"Tentu saja, kami masih perlu banyak persiapan. Aku menginginkan pesta yang mewah seperti cincin yang dia berikan padaku." Aku meringis lebar. Tentu saja kau butuh banyak persiapan, mengambil hatinya saja kau belum bisa. Berjuanglah Sophia sayang....
"Kelihatannya kalian akan mempunyai pernikahan yang luar biasa. Aku turut senang mendengarnya."
"Terima kasih Eliza." Dia tersenyum lepas sekarang padaku, karena aku tak nampak keberatan sedikitpun.
"Kalau begitu, kalian sihlakan nikmati makan malamnya. Aku masih mempunyai pekerjaan sedikit. Terima kasih sekali lagi kalian sudah datang kesini. Kami punya cookies hadiah untuk kalian." Aku pamit dan melambai kepada mereka.
Jika aku mengatakan ini pada Bova, aku yakin dia akan menyelesaikan kontraknya dan mencari sugar baby baru segera. Tapi sekali lagi biarlah itu menjadi masalahnya. Aku sudah mempunyai banyak masalah.
Ahh ... benar juga kata Bova, tak ada makan siang yang gratis.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Boleh aku masuk?"
"Masuklah." Aku tersenyum kecil saat Fabricio Bova datang sore itu, mengetuk pintuku dan memunculkan kepalanya di ruanganku. Aku harus memenuhi undangannya untuk jadi temannya datang ke pesta keluarganya dengan status sebagai teman.
"Selamat sore,..." Dia datang ke restoranku menjemputku. Dan sekarang sampai ke kantorku yang sederhana. Dan dengan jasnya kau bisa melihat dia luar biasa. Aku menghela napas melihat sosok sempurnanya.
Aku siap dengan gaun hitam dengan aksen lipatan elegant. Sedikit memperlihatkan bahu tapi karena tubuhku kurus itu tidak akan terlihat terlalu se*xy. Aku tersenyum padanya saat dia masuk.
"Selamat Natal." Dia tiba-tiba mengangsurkan kado Natal di dalam sebuah kantong.
"Ehh untukku?" Don Juan ini tahu cara membuat wanita tersenyum. "Kau seharusnya tak perlu melakukannya. Kau sudah banyak membantuku. Boleh kubuka..." Kado selalu menyenangkan untuk dibuka.
"Bukalah..." Aku membukanya. Parfum. Dior Vanilla Diorama. Bagaimana dia tahu jenis parfum yang kusukai.
"Kau suka..."
"Bagaimana kau tahu aku suka ini?"
"Ehmm... kau berbau Vanilla. Sangat enak." Bahasa yang digunakannya membuatku merinding. Kapan dia mencium wangiku. Apakah kemarin saat dia memelukku dirumah sakit?
"Terima kasih."
"Tentu saja untukmu... Terima kasih bersedia menemaniku."
Aku bersedia, ini teman lagipula. Dia menolongku aku juga bersedia menolongnya. Setelah pikiranku memahami sedikit banyak tentangnya, sekarang aku bisa membuat benteng pertahanan yang cukup kuat dalam pikiranku untuk pesona Don Juan anti komitmen ini.
"Kau cantik sekali hari ini, terima kasih sudah meluangkan waktu sekali lagi..." Don Juan yang terlalu pandai memuji wanita. Matanya menatapku yang sedang duduk di kursi kantorku.
"Terima kasih Tuan Bova, Anda juga terlihat tampan." Aku mengembalikan pujianya dengan tenang dan menatapnya di matanya tanpa takut. "Ada yang harus kulakukan malam ini? Katakan aturanmu? Aku hanya harus memegang lenganmu sebagai temanmu bukan."
"Hmm... nanti ada Ibuku. Bisa minta kau sedikit terpesona padaku. Kau tahu para Ibu mereka mengkhawatirkan masa depan terlalu banyak." Aku mengulum senyum mendengar permintaannya.
"Aku mengerti, kadang para Ibu memang harus ditenangkan ..."
"Mungkin nanti aku minta dansa padamu agar terlihat sedikit akrab. Apa tak masalah untukmu?"
"Ohh baiklah, tentu tak apa."