
"Sudah rapi, kau terlihat tampan." Mama yang merapikan jasku. Sementara matanya terlihat menggenang basah melihat sosokku.
"Terima kasih Mama." Kucium pipinya sekarang mengatakan aku mencintainya dan berterima kasih dia telah mengantarku sampai di sini.
"Anak Mama akan menikah, punya keluarganya sendiri. Mama akan punya cucu... betapa membahagiakan akhir-akhir ini. Aku tersenyum melihat binar bahagia dimatanya. Itu berharga, untuknya dan untukku.
"Mama kau pernah tahu kabar Ayah?" Mama diam sebentar.
"Dia di Marseilles sekarang, punya keluarganya sendiri dengan seorang anak. Beberapa kali dia menelepon dalam beberapa tahun ini, terutama hari ulang tahunmu. Dia menanyakan kabarmu tentu saja. Mama tak pernah cerita karena hidup kita sudah tenang, kubilang dia boleh menemuimu. Tapi dia bilang lebih baik dia tak menggangumu. Mama tak menyalahkan keputusannya. Mungkin saat kami muda dulu kami menikah terlalu emosional, cinta, ... cinta itu perlu banyak hal untuk memeliharanya, mungkin Mama yang tak siap berjuang dan banyak mengeluh atas keadaan saat itu. Mungkin memang saat itu lebih baik kami berpisah. Jangan menyalahkan Ayahmu, Mama juga banyak bersalah... dan Mama minta maaf tak bisa memberikan contoh yang baik untukmu.”
“Aku tak membencinya, jika Mama tak membencinya, aku lebih lega.”
“Mama, belajar instropeksi selama bertahun-tahun sendiri. Mama bahagia, hidup tenang, kurasa perpisahan itu tak pernah Mama sesali, tapi yah Mama harus memaafkan masa lalu agar bisa lebih lega menjalani hidup, termasuk memaafkan Papamu, memaafkan diri Mama sendiri... Mama senang kau bisa memaafkan kami berdua tak memberimu keluarga seutuhnya. Bagaimana jika kita mengundang mereka ke Milan, mungkin Thanksgiving nanti, anggaplah kita berkumpul lagi, berdamai lagi, kami sudah tua, yang kami cari mungkin hanya berdamai dengan semua orang...
“Tentu saja Mama, itu usul yang bagus. Mungkin saat itu kandungan Eliza sudah di bulan ke delapan.” Mama tersenyum. Nampaknya walau Ayahku tidak hadir kali ini, tapi semuanya akan baik. Aku tahu dia masih mengingatku itu sudah cukup.
“Kau tumbuh menjadi pria yang bijaksana, semoga Tuhan memberkati perjalanan hidupmu Anakku, membuat anak cucumu berbahagia, dan kau menjadi Ayah yang bangga akan anakmu ....” Sambil mengelus kepalaku, seperti seorang anak kecil diaDoa Ibu adalah segalanya untukku.
“Amin Mama.” Aku mengaminkan doanya, berharap aku bisa melihatnya bermain dengan cucunya, melihatnya besar, mungkin melihat pernikahan cucunya jika dia diberi umur panjang.
“Ayolah, kita tak boleh terlambat. Paman, Bibi dan sepupu-sepupumu sudah menunggu dibawah.”
Aku turun dan rumahku sudah ramai, Paman, Bibi semua keluarga sudah berkumpul.
“Wah pengantin pria yang tampan. Akhirnya pria terakhir dalam deretan keluarga menikah, setelah ini kita semua harus menunggu pernikahan generasi ketiga.” Semua orang tertawa. Aku benar-benar terakhir menikah diantara empat orang anak kakak beradik, bahkan keponakan tertua di lingkaran sepupuku sudah berumur 17 tahun.
“Kau benar, tugas kita menikahkan anak-anak sudah selesai. Kita perbanyak liburan ke Palermo saja.”
“Jangan harap kau bisa ke Palermo terlalu sering, nenek ini lebih mementingkan bermain dengan cucu kecilku setelah ini.”
“Tenang saja, aku tetap mencintai kebunku tentu saja musim panas dan gugur aku akan harus melihat panenan. Aku tak sabar melihat cucuku besar dan liburan musim panas ke Palermo.” Aku yang bahagia melihat kebahagiaan Mama, cucu yang diidam-idamkannya, sebelumnya dia hanya bisa bermain dengan anak-anak sepupuku, seperti Lola, namun sekarang dia akan mempunyai cucunya sendiri.
“Ohh ya ada kabar gembira juga untuk kalian yang belum tahu.” Paman sekarang membuat pengumuman.
“Apa Vittorio? Anakmu akan menikah? Dia baru 17 tahun...”
“Bibi! Masa depanku masih panjang, kau menyuruhku menikah? Tega sekali.” Yang disebut langsung protes sekarang.
“Tidak ini berkaitan dengan Fabricio. Kemarin Tuan Antonio Segni meneleponku, katanya dia akan mempromosikan Bova sebagai anggota parlemen periode yang akan datang, saat itu Bova sudah bisa masuk ke parlemen karena usianya sudah cukup 40 . Keluarga kita sekarang punya wakil yang benar-benar menaruh namanya di Parlemen.”
“Woow, benarkah. Selamat Fabri...” Para Paman dan Bibi memberi selamat padaku.
“Kau sangat beruntung Tuan Segni memperhatikanmu, kurasa kasus Eliza kemarin entah bagaimana membuka jalan bagimu.”
“Benar sekali, dia berani menyeret Gianni ke dasar, Tuan Segni menghargai usahanya, dan dia mendapatkan rewardnya. Selamat untukmu. Ini mungkin hadiah pernikahanmu.” Paman menepuk bahuku.
“Ini berkat Paman, aku mengikuti Paman sampai berada di titik ini.”
“Kau berdiri di sini karena dirimu sendiri, Fabri. Yang Paman lakukan adalah memberi kesempatan padamu, dan kau melakukan semuanya dengan serius. Paman hanya bisa ikut bangga dengan pencapaianmu sekarang. Di masa depan keluarga ini mempunyai seseorang untuk di banggakan. Selamat buat pernikahanmu sekarang. Selamat buat promosimu, jadilah Ayah dan suami yang baik.”
Paman yang sudah kuanggap Ayah ini memelukku, aku memeluknya dengan erat. Mungkin aku tak punya kesempatan memiliki keluarga yang utuh, tapi keluarga besar yang saling mendukung satu sama lain ini adalah segalanya. Dengan mereka aku merasa tak pernah kekurangan apapun.
Moment haru itu kemudian berganti dengan moment ceria ketika Mama memaksa semua orang masuk mobil. Jika tidak kami akan terlambat. Eliza akan membuat masalah besar buatku jika aku terlambat.
Tapi sebentar lagi, aku akan menjadi seorang suami. Tak lama seorang Ayah. Perjalanan baru, hidup baru, masalah baru juga pasti ada. Tapi di setiap masalah mungkin ada kebaikan tersembunyi di belakangnya.
Aku meyakini itu,...