
“Raoul, apa yang kau lakukan disini.” Sebentuk wajah tampan itu muncul di belakangku saat aku sedang melihat panen anggur dilakukan. Kali ini dia memakai kaca mata hitam dengan baju bermerk Giorgio Armani, dan kacamata hitam stylist, busana ini yang membuatnya seperti salah tempat sekarang. Harusnya dia berjalan di boulevard via Monte Napoleone di Milan, bukan tersesat diantara ranting-ranting menguning kebun anggur ini.
“Buoungiorno, bellezza.” (Selamat pagi, cantik) Dia memamerkan senyum menawannya. Sapaan akrab yang dulu selalu membuatku tersenyum senang dan membuat hidupku penuh warna, mengisi hari-hariku sampai tiga tahun lalu sekarang terdengar lagi.
“Buoungiorno, apa yang kau mau...” Aku tak mempan lagi rayuannya yang luar biasa itu. Apapun yang dia katakan, aku tak akan percaya lagi. Sudah cukup rasanya.
“Aku baru kembali dari Milan, aku membawakanmu hadiah.” Dia mengangsurkan satu kantong kertas belanjaan berlambang Prada, entah apa isinya aku tak perduli. Aku menatapnya dengan sangsi, aku bisa membaca polanya. Dulu kukira dia juga melakukan hal yang sama. Bukan sekali, aku menyangka dia bekerja sebagai bankir sukses yang mengelola dana nasabahnya. Awalnya loyal memberiku hadiah, bunga, semua hal yang bisa dia usahakan. Sebelum aku tahu dia tidaklah sesukses yang dikatakannya dan akhirnya lebih suka menikmati hidup, mengikutiku menghibur tamu setiap malam, bicara dengan gadis-gadis sehingga aku muak.
Entah apa yang dilakukannya dibelakang saat itu, aku tak mau memikirkannya lagi.
“Aku bisa membeli sendiri hadiahku. Kau tak usah memberiku hadiah...” Aku mengabaikannya dan berjalan terus menyusuri row-row anggur varietas Nerello Mascalese, sering disebut volcano grapes, karena dikenal luas ditanam di lembah gunung Etna. Diperlukan 2,5 pound anggur Nerello untuk menghasilkan satu botol anggur.
“Monica, amore...aku khusus membawakannya untukmu. Aku teringat padamu...” Tetap pada pendiriannya menawarkanku hadiahnya. Prada, apa yang kubuat dengan Prada yang anggun dan dipakai wanita-wanita yang turun dari mobil sport para milyuner itu, di antara ranting anggur dan zaitun ini, merk ku kesukaanku adalah FILA.
“Dan apa yang kau inginkan dengan hadiahmu itu?” Aku berbalik padanya sekarang, apa dia belum kapok diberikan bogem oleh Guilio saat dia muncul lagi.
“Hanya makan siang,...” Dia mengedipkan matanya dan tersenyum lebar. "Hanya makan siang,amore..."
“Pergilah Raoul, aku sibuk. Ini musim panen. Banyak wanita yang menginginkan hadiahmu itu, bukan aku.” Aku mendengus dan berjalan lagi. Mengabaikan keberadaaannya.
Belakangan hidupku sudah tenang, aku menikmati ketenangan ini kenapa dia harus mengganguku lagi. Akhir pekan seperti ini mungkin aku dulu merindukan romansa, tapi belakangan, aku lebih tertarik menikmati ketenangan ini dengan hanya duduk bersantai, menghitung luas tanah baru, mungkin merencanakan cottage baru. Kadang aku membiarkan seseorang menggodaku di bar, hanya untuk mendapatkan pujian-pujian manis. Tapi selain itu, entahlah aku belum berencana menukar ketenanganku ini lagi dengan rollercoaster cinta.
“Amore...ayolah. Hanya makan siang.”
“Aku lelah menjadi Amore-mu Raoul, kenapa kau tidak paham itu.”
“Aku berubah Monica, sekarang aku mengelola klub di Milan, kau tak percaya, aku punya uang sekarang, aku punya mobil baru, apartment baru, apa tak sekalipun hubungan kita dulu lekat di hatimu.” Dulu pun dia mengaku begitu, tahunya dia hanya menjual ketampanannya untuk memanjakan kliennya, memujinya dan mendapatkan uang dari mereka. “Monica, dengarkan aku...”
"Lepaskan aku Raoul." Dia menangkap tanganku dan mencoba mendapat perhatianku, aku segera menariknya.
“Stronzo! (As*shole), kau masih berani muncul disini?!” Dan suara Guilio mengagetkanku. Sekaligus membuat Raoul menoleh kepadanya.
“Monica, jadi bastardo (bastard) bermulut besar ini yang bersamamu sekarang?! Tak disangka kau menolakku karena playboy sialan ini.”
“Aku berteman dengan Monica puluhan tahun Figlio di puttana! (Son of a bitch*!), musuh Monica sama dengan musuhku, aku memang tak menyukaimu dari awal jadi pergi dari sini, A fanabla! ( Go to hell!*).”
Kau bisa bayangkan Guilio mengucapkannya dengan tangan dipinggang sambil tangannya insulting meremehkan Raoul. Guilio adalah orang yang tidak takut mencari masalah jika dia sudah tak menyukai orang, dulu sebelum kami berpisah dia menahan diri karena aku mengatakan Raoul tidak seburuk yang dia pikirkan, tapi sekarang jika Raoul di depannya dia akan mengatakan semua umpatan yang dia tahu dan tak keberatan beradu bogem langsung didepanku.
Itu yang terjadi sebelumnya ketika mereka bertemu.
“Sudahlah Guilio, Raoul pergilah. Aku tak akan makan siang, makan malam, ataupun hanya minum kopi denganmu. Kita sudah selesai jangan ganggu aku lagi berkali-kali kuulangi itu padamu. Kita tak akan pernah kemana-mana lagi.”
“Kau dengar itu, a fanabla!” Guilio menujukkan arah untuk pergi kepada Raoul.
“Kau pikir hanya kau yang punya pengawal Guilio, aku juga punya, jangan besar kepala kau Cornuto(cuckold)! Kau bersamanya Monica, kau tidur dengannya?!” Astaga pria-pria ini sungguh berisik dan sensitive. Kadang aku terbiasa, kadang tidak. Kadang aku berpikir untuk mencari londoner saja yang sopan dan sexy dengan logat posh-nya itu.
“Jika kalian mau berkelahi, sana ke lapangan terbuka. Jika pokok anggurku tumbang, aku sendiri akan menghajar kalian berdua dengan panci Ibu!” Aku meninggalkan mereka berjalan menyusuri kebunku lagi.
Mereka masih beradu argumen kudengar beberapa saat. Lalu Raoul akhirnya pergi.
“Stronzo itu mengelola pub di Milan sekarang? Dia punya pengawal?! Dia kesini hanya untuk merayumu?” Sekarang Guilio disampingku dan langsung bertanya.
“Aku tak tahu, bukan urusanku lagipula.”
“Kenapa dia kesini?”
“Membawakanku tas bungkusan hadiah dari Prada, entah apa isinya, aku hanya melihat merknya lalu mengajak makan siang.”
“Porca vacca! (Holy cow!)” Dia tertawa. “Dia benar-benar mencoba merayumu lagi?”
“Mungkin dia mendengar berita aku sukses sekarang dan membeli tambahan lahan, dia menganggap aku sangat cantik dan menarik untuk masa depannya. Cazzo mene (I don’t care)! Atau mungkin menganggap tangisanku yang dulu tanda aku belum rela melepasnya.”
“Hmm... aku akan tanya orang-orang dia bekerja dengan siapa. Stronzo itu nampaknya cukup menyombongkan dirinya sekarang.”
“Kau tak usah mencari masalah tak perlu.”
“Orang seperti dia tak akan menyerah dengan mudah. Dia pasti masih akan datang. Aku ingin tahu dengan siapa dia bekerja sekarang. Bagaimana dia bisa dipercaya mengelola pub,itu tak mudah Monic, aku hanya ingin tahu siapa yang ada dibelakangnya...” Nampaknya dia masih sangat tak suka dengan Raoul. "Well, iya. Sebenarnya dia bekerja dengan siapa di Milan, jika dia bekerja dengan wanita, ayahnya mafioso dan entah bagaimana wanita itu tahu Raoul merayuku, bisa ada pertumpahan darah disini.
“Kau tak pulang kerumah Ibumu? Kau tidur ditempat yang benar semalam?” Pertanyaan lanjutankuku membuatnya meringis.
“Aku tidur dikamarku, bukan di kamar orang lain. Aku bersumpah.”
“Ohh, sumpah selibatmu masih berlaku rupanya.” Aku tertawa.
“Boss! Claudia akan kesini!” Pengawalnya tiba-tiba membuat laporan sambil berlari.
“Cuzzo! (F*uc*k!)*” Dia langsung menyumpah. “Kenapa dia bisa tahu aku disini, aku hanya memberi tahu Momma. Astaga tentu saja momma memberitahunya.” Semua laki-laki Italia adalah anak momma. Itu stereotype tak terbantahkan.
“Wow nampaknya momma-mu mendukungnya. Jangan jadi pengecut, hadapi dia. Kau yang merayunya pertama.”
“Aku yang merayunya?! Kau tak tahu betapa agresivenya gadis itu...” Mukanya terlihat kacau.
“Pergilah mencari gadis yang semalam. Mungkin sedang sesi makan siang sekaligus wine testing di restaurant sekarang.” Aku memberinya jalan keluar.
“Ahhhh....Kau benar-benar pintar Monica, ti amo con tutto il cuore (I love you with all my heart)...” Mukanya langsung cerah kembali , mendengar cara melarikan diri yang efektif.
“Vaffanculo Guilio!” Aku menyumpah panjang pendek mendengar rayuannya itu. ( Go fck yourself!*). Dia tertawa dan berjalan ke arah restoran.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Visual cewe yang kali ini bukan tua, cewenya lebih muda dari Guilio 3 tahun lhoo, emang mukanya begitu hehehe.