
"Dia seorang.... putri." Bova tersenyum dengan kata-kata dokter saat dia melihat monitor USG kami, harapannya untuk memiliki seorang putri yang bisa disayanginya terwujud. Aku juga senang akan punya putri yang kuajak berbicara panjang lebar. "Perkembangannya bagus, tak ada masalah memasuki 23 minggu ini, seharusnya semua akan baik-baik saja."
Dia menjelaskan janin yang berdiam di dalam rahimku bertumbuh dengan berat sekitar 500 gram dan panjang sekitar 30 sentimeter, pembuluh darah pada paru-paru janin mulai berkembang, bersiap untuk bernapas. Telinganya mulai mengalami perkembangan, semakin tajam menangkap suara dari luar meski masih samar. Aku mulai bisa memperdengarkan musik untuknya, membuat perkembangan otaknya lebih terstimulasi.
“Kalian harusnya sudah bisa mendengarkan suara detak jantungnya.” Dokter kami meminjamkan stetoskopnya pada kami, setelah sedikit menentukan dimana dia bisa mendengarkan dengan jelas yang tentu saja kusambut dengan rasa penasaran. Benar saja, mendengarkan detakan jantung kecilnya sebuah keajaiban baru ditambahkan ke dalam hari-hariku.
“Sayang dengarkan ini,...” Aku menyuruh Bova ikut mendengarkannya.
“Wow...” Dia takjub dan melihat ke arahku.
“Wow bukan.” Dokter ikut tersenyum, nampaknya dia sudah terbiasa menghadapi pasangan suami istri yang terkagum-kagum dengan perkembangan janin mereka. “Baiklah, dia baik-baik saja. Perkembangannya bagus. Kita jumpa lagi di jadwal kunjungan berikutnya....”
Kami tak sabar menyampaikan kabar ini ke Kakek dan Neneknya yang sudah menunggu kami dirumah. Serta adikku yang sudah kembali untuk menghadiri pernikahanku.
“Ma, Zio cucumu seorang putri yang cantik.” Bova menyampaikan saat kami menjumpai mereka yang sedang duduk bersama di dapur.
“Benarkah, cucuku seorang putri cantik, apa yang kurang sempurna. Aku bisa mengajarinya memasak dan menanam bunga. Rasanya tak sabar Ibu menunggunya besar Fabri." Semua orang tertawa sekarang.
"Putri lagi,ahhh ponakanku perempuan, Ayah rejekiku memang Ayah dan Kakek putri-putri cantik." Adikku langsung berkomentar.
“Ayah menerima siapa saja, dan punya putri seperti kalian rasanya hidup Ayah sudah diberkati berkali-kali lipat. Cucu putri lagi, kali ini Ayah perlu belajar mengepang rambut hal yang Ayah tidak sempat lakukan sebelumnya dengan putri Ayah.”
“Kurasa kau akan mengacaukan rambutnya Ayah....” Semua orang tertawa sekarang.
"Kurasa entah putra atau putri sama saja. Tapi Fabri memang lebih condong ke putri. Dia akan jadi Ayah yang dikagumi putrinya."
“Tentu saja, semua Ayah akan berusaha sebagai pahlawan putrinya.”
"Kau akan jadi Ayah, jadi jangan terlalu mementingkan pekerjaanmu selalu, ingat kau sudah punya keluarga.” Zia mengingatkannya.
“Iya Mom, anakmu ini akan berusaha.”
Dua hari lagi adalah hari pernikahan kami, dan hari ini kami mendapat berita gembiranya. Semua persiapan pernikahan kecil kami sudah selesai, malam ini kami menghabiskan waktu berdua sebagai kekasih, besok kami akan menjadi suami istri.
"Benar-benar seorang putri, kita mendapat keajaiban yang luar biasa." Dia senang sekali mengelus perutku yang belum seberapa menonjol itu.
"Iya seperti yang diinginkan oleh Lola, kita benar-benar mendapat bantuan doa darinya kurasa." Aku sudah terbiasa merasakan pergerakannya sekarang. Malam-malam begini kadang dia bangun. Mungkin karena mendengarkan suara Ayahnya.
"Bantuan dari siapapun kita akan bersyukur saja."
"Tidak. Ini buat keluarga dan teman dekat kita saja."
"Jadi dia bukan teman." Oven ini tersenyum semang sekarang.
"Dia teman, tapi nanti kau salah paham lagi kalau aku mengundangnya. Jadi sudahlah aku nanti akan memberitahunya jika dia menelepon."
"Aku memang akan salah paham..." Kudorong mukanya yang dari tadi tersenyum itu.
"Jangan terlalu cemburu Oven, apalagi yang akan kau cemburui."
"Aku tak cemburu, hanya ingin pamer kau dipupuk dengan tepat baru bisa menghasilkan." Sekarang dia menciumku dengan gemas. "Dan sering-sering dipanaskan hingga gosong." Dia senang sekali menyinggung tentang oven sekarang.
"Aku bukan tanaman yang bisa dipupuk." Aku cemberut, mendorongnya menjauh dan dia tertawa.
"Apa kau bahagia denganku sweetheart." Belaian tangannya sekarang membawa aku kedekatnya membuatku merasa aman dan terlindung.
"Sangat... terima kasih sudah memberiku semua ini."
"Dan terima kasih untukmu sudah memberiku keberanian mengambil tanggung jawab ini." Kami berpandangan, kupikir ini saat terindah. Saat kami begitu bersyukur menemukan satu dengan yang lain dan menerima keajaiban ini.
"Besok kita menikah. Kita seterusnya harus berusaha bersama demi putri kita. Berusaha berbahagia bertiga. Berjanjilah padaku kita berusaha menyelesaikan masalah kita bersama-sama dan tidak meninggalkan keluarga."
"Aku berjanji, tak akan kubiarkan putriku merasa aku tak ada untuknya. Dan kita akan berbahagia bersama."
"Dan aku berjanji, selalu menjadi teman terbaikmu, Vanillamu dan menjaga keluarga kita."
Rasanya semuanya akan baik-baik saja dengannya disampingku.
\====0000====
Hai gengs, buat kalian yang belum tahu. Mak sudah ada novel baru ya
Judulnya agak-agak, katanya biar 'click bait' wkwkwk, jangan protes, nurutin judul pasaran yang agak -agak gimana gitu
Yaa isinya normal, tetep mak gak cuma anget-anget nyerempetnya hehehe
Di klik ya di profile atau search pake Margaret R juga bisa