The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 26. New Piece of Puzzle 3



Mungkin 1/4 penduduk Los Angeles bekerja di sektor film dan sektor pendukungnya. Hollywood menghidupi kota ini, bertemu artis di salah satu Starbuck shop bukan suatu yang terlalu luar biasa. Banyak artis disini, jika kau punya seorang tetangga mungkin dia kenal salah satu artis, entah mungkin bekerja di salah satu set filmnya, atau mungkin pernah melayaninya di sebuah salon.



Los Angeles juga adalah salah satu alpha city dengan banyaknya milyuner yang bermukim disini, banyak Lamborghini berseliweran karena di LA, mobil adalah statement siapa dirimu dan sebuah keharusan, banyak rumah mewah, banyak coffee shop, banyak dokter bedah plastik sekaligus, penduduknya hippie, terobsesi dengan diet sehat, banyak gym dan personal care lainnya, karena penduduknya sangat memperhatikan penampilan.



"Hei, kau benar-benar tak punya pacar? Kenapa, apa pria itu complicated atau kau suka sesamamu sendiri..." Dia menanyakan itu dengan mata panasaran.


"Aku menunggu Mark Zuckerberg menjadi duda. Dia satu-satunya dalam listku, yang lain tak memenuhi syarat." Kujawab dengan seenaknya pertanyaannya. Bagaimana aku berpacaran, aku undercover agent, kadang ditempatkan di situasi yang sulit. Jika aku terlibat dengan seseorang dia tahu apa yang aku lakukan. Tapi kami tak punya waktu banyak tentu saja. Jadi paling jauh itu hanya semacam teman dekat dengan kencan singkat.


"Aku serius, mau kukenalkan dengan seseorang. Kau temanku aku akan mengenalkanmu dengan teman yang kukenal juga... Baiklah dengan nerd kaya, sepertinya aku punya."


"Aku tak tertarik menjadi peserta biro jodohmu...."


"Ternyata kau lesbian. Baiklah kau cari sendiri, aku tak bisa menolongmu jika itu masalahmu."


"Ohh benarkah? Ini serius? Kau benar-benar..." Nathan yang baru muncul dengan jasnya dari atas cuma mendengar ujung percakapan itu sekarang tersenyum lebar sambil melihatku dan Louis.



"Baik-baik, terserah padamu. Mungkin seorang Don Juan pernah membuat hatimu sakit. Tapi ingat tak semua orang sama."


"Sekarang kau jadi filsuf..." Aku mencibirnya.


"Kalian semua jangan saling menjelekkan, tak ada satupun dari kalian yang berani berkomitmen. Kalian itu masih pengecut semua..." Ternyata Tuan Alan duduk di kursi besar yang menghadap pemandangan laut, aku sama sekali tak melihatnya.


"Tuan Alan,... Kau bersembunyi disana, aku bahkan tak melihatmu disana." Dia tertawa sambil melambaikan tangannya dari atas kursi besar itu.


"Natalie, kau jangan mau dikenalkan Louis, semua temannya rata-rata seperti dia... Anti komitmen." Kami tertawa, Tuan Alan karena aku sudah membuktikan diriku bisa dipercaya dengan pekerjaanku lebih bisa bersikap lebih hangat. Karena dia tertua diantara kumpulan ini yang lainnya baru berusia tiga puluh tahunan. Kali ini untuk pertama kalinya aku akan bertemu Tuan Diego Garcia, Komisaris Utama Garcia Int.


"Ada masalah belakangan Natalie?" Dia bergabung di ruang tengah yang menakjubkan itu. Rumah ini benar-benar punya pemandangan laut dibelakang halamannya. Kontras dengan rumput hijau yang bagai karpet melapisi horizonnya.


"Belum ada yang besar Sir, aku sedang membereskan hal yang kurasa kurang tepat sistemnya setelah mempelajari beberapa unit usaha." Aku biasa melapor via telepon padanya tapi belakangan dia sudah mempercayakan aku membuat keputusan sendiri.