The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 55. Try to Hide 2



Tapi aku akan tetap menelepon diluar saja melihat kenapa boss-ku menyuruhku menelepon. Aku bersiap pergi kemudian setelah sarapan, sudah cukup lewat tengah hari saat aku pergi.


"Sir, ada apa?" Aku sampai disebuah pusat perbelanjaan dengan taxi, kurasa tak ada yang mengikutiku. Aku memperhatikan dengan cermat sekelilingku.


Aku berjalan beberapa saat sebelum masuk ke sebuah department store khusus pakaian dan mulai menelepon.


"Aku mendapat kabar, mereka sudah mendapatkan indentitas orang kedua yang mencoba membunuhmu kemarin. Tapi orang ini menghilang, polisi sedang melacaknya. Nampaknya benar, dia punya hubungan dengan Elizabeth Ailes."


"Begitu rupanya. Kau menyelidiki rumah yang kulaporkan padamu Sir."


"Polisi sudah mengeceknya rumah itu kosong sekarang, sama sekali tak ada orang. Mereka tak bisa menerobos properti pribadi tanpa izin khusus. Jika kami memaksa mereka akan tahu itu kau yang melapor, kurasa orang yang kemarin sudah dihilangkan entah kemana." Dia memang bisa menghilangkan orang seperti yang dia bilang, menghilangkan lima orang seperti menghilangkan sampah untuknya.


"Aku dicurigai Sir, aku tak diperbolehkan lagi terlalu mendekatinya. Aku tak bisa memaksa, kurasa kau salah mengirimku, dia bukan orang yang bisa didekati oleh wanita, dia malah curiga kenapa aku bersedia terlibat masalah seperti ini. Apa sebaiknya kau menarikku saja dari sini...." Aku mengatakan sebenarnya bahwa harusnya aku ditarik dari posisi ini.


"Kalau begitu jangan melakukan hal yang mencurigakan. Tetaplah disana, ... Jika dia bertemu tamu yang belum pernah kau lihat laporkan pada kami." Aku menghela napas, tetap disuruh menunggu disini.


"Baiklah..." Akhirnya aku harus tetap disini. Entah apa yang terjadi sekarang, tugas penyusupan kali ini membuatku frustrasi.


Aku berjalan ke sebuah restoran Jepang untuk makan siang, sambil memperhatikan ponselku.


"Kau ..." Seorang wanita ada didepanku sambil menunjukku. Aku tak mengenalnya, tapi pria disampingnya membuatku mundur.


Dia adalah Shun Oguri, Ayah dari Masaki Oguri, orang kebangsaan Jepang yang kuburu dan kupenjarakan karena kasus pencucian uang dua tahun lalu. Mungkin wanita itu mengenalku karena aku bersaksi di pengadilan. Keluarganya yang kaya raya di Jepang itu bukan tak tahu anaknya punya bisnis terlarang tapi mereka malah mendukungnya.


Aku yang menyelidiki kasus itu dan membongkar semua sistem kerjanya setelah berhasil masuk ke perusahaannya di negara bagian Texas yang punya sistem perbangkan lebih tertutup dari negara bagian lainnya.


"Kau pengkhianat itu,..." Aku mundur. Aku tak bisa terlibat masalah dalam penyamaranku sekarang. Aku mundur. Dia tampaknya membawa bodyguard! Sial!


"Jangan pergi kau! Aku mau bicara padamu!" Wanita itu menunjukku, aku reflek langsung berbalik dan lari secepatnya. Sial!Sial! Untung aku memakai sepatu kets dan bisa berlari dengan cepat.


Aku berbelok pada kemungkinan pintu darurat pertama department store itu. Tujuanku adalah menghilang di tempat parkir bersembunyi di antara mobil, menuju bagian lain mall besar itu dan menghilang dari sana.


Aku membuka pintu secepatnya dan berlari merunduk secepatnya begitu aku menemui barisan mobil pertama, berbelok tajam ke kanan menuju pintu masuk utara memutari bangunan, aku mendengar pengawal-pengawal itu mencoba menyusulku tapi mereka dengan cepat kehilangan jejakku karena terhalang mobil-mobil.


"Dimana kau Nathalie?" Tiba-tiba Nathan meneleponku setelah aku tiba di sebuah mall lain. Masih jam dua sore bukannya dia mau mengajakku makan malam.


"Ehmm aku di Macy. Kenapa? Bukankah kita baru makan malam nanti malam. Aku dekat dari rumah..." Macy department store itu hanya lima belas menit dari kediaman Nathan di Belden Avenue, padahal tadinya aku sudah berputar ke Nordstrom's.


"Aku hanya mengecek saja..."


"Ohh..." Aku langsung curiga ada orang yang mengikutiku. "Kau mau kita bertemu sekarang? Aku ada di Macy." Dia pasti tahu aku berlari dengan dari seseorang. Aku saat bicara mengawasi sekelilingku kurasa tak ada orang didekatku, tapi mungkin entah siapa bisa mengikutiku walaupun dia tidak bisa mendengarku.


"Kau baik-baik saja bukan?" Apa dia khawatir padaku? Atau dia hanya ingin tahu apa yang terjadi tapi dia tentu saja tidak bisa bertanya.


"Iya, aku baik-baik saja, tidak ada yang salah denganku. Memang kenapa?"


"Tak apa. Ya sudah nanti jam tujuh kita keluar makan malam. Baiklah nanti malam kita bertemu."


Aku diikuti pastinya. Dia sengaja ingin tahu kemana aku akan pergi dan sialnya aku bertemu orang itu. Bagaimana jika dia bertanya pada Oguri... Walaupun aku tak pernah membuka aku adalah agen FBI bahkan di pengadilan. Aku bekerja tetap sebagai sipil, jika dia tahu apa yang akan dipikirkannya.


Aku pengkhianat. Aku menghianati bossku sendiri. Ini benar-benar tak baik. Apa yang harus kulakukan sekarang. Aku mungkin benar-benar akan terbunuh di operasi kali ini.


"Iya, sampai nanti malam."


Aku dengan cepat menelepon bossku lagi.


"Sir, baru saja aku tahu aku diawasi." Aku bercerita bahwa aku bertemu case-ku yang lama.


"Kau tidak pernah kedapatan membuka penyamaranmu. Bilang saja saat itu kau diamcam oleh jaksa penuntut untuk ikut diseret. Lagipula Oguri diadili dan dipenjara di Jepang. Tak mungkin orang tua Oguri mau memberi keterangan, lagipula mereka hanya pernah melihatmu sekali. Kau hanya muncul di persidangan itu sekali. Tenanglah...."


"Sir, aku diawasi, dia tidak percaya padaku! Bisakah kau menarikku saja dari operasi ini. Dia membunuh lima orang dalam semalam. Dia bisa menghabisiku hanya dalam lima detik."


"Hanya kau yang bisa menyusup sejauh ini, tidak bisa, aku akan berusaha memblok informasi apapun mengenai Oguri, bahkan jika dia bisa ke Jepang dia tidak akan mendapatkan apapun. Kau harus tetap disana! Jangan melakukan hal yang mencurigakan, dia sudah baik padamu, jangan sia-siakan itu. Berpikir bagaimana caranya kau bisa mengenyahkan kecurigaannya. Jika kau berhasil menyelesaikan kasus ini kau akan mendapat promomu menjadi pimpinan unit. Kau tidak akan lagi bekerja di lapangan, kau akan menjadi otak tim." Boss-ku tidak mau mendengar alasanku sama sekali.


Aku dijanjikan kenaikan. Astaga jika dia tahu aku bahkan jatuh ke pelukan targetku sendiri, apa yang harus kulakukan jika aku diamati seperti ini dan yang mengamatiku licin seperti belut.