
"Aku harus kembalikan uangmu." Javier meneleponku karena mendapatkan aku mengembalikan dua juta euro ke rekeningnya.
"Kenapa? Kekasihmu tak suka?" Dia langsung menebaknya.
"Iya begitulah."
"Ya aku sudah menebaknya, jika dia tahu dia tak akan suka. Ya sudah, lagipula kau bisa minta padanya jika kau butuh sesuatu." Aku tertawa kecil. "Nampaknya dia kekasih yang loyal bukan."
"Menurutmu dia orang yang baik." Aku bertanya kepada Javier, kami sudah ditahap saling mendoakan yang terbaik satu dengan lainnya.
"Hmm nampaknya dia orang yang lugas. Tapi melihat semua yang dilakukannya untukmu selama ini, nampaknya dia baik bukan, kurasa dia orang yang memegang perkataannya."
"Iya, setidaknya begitu. Well, hanya aku tak mau dia mau berkomitmen atau tidak, tapi dia teman, kekasih yang loyal mungkin. Tapi mungkin kata suami belum. Tapi kami belum setahun, mungkin perlu waktu. Lagipula sebelumnya dia adalah playboy, hmm...bukan playboy, dia tak mau berkomitmen." Aku mengeluh dengan Javier.
"Jangan meragukannya, jalani saja. Lagipula kadang sebuah ikatan yang kau katakan itu berlaku sebagai sebuah beban. Kadang punya teman dekat yang bisa saling mengerti itu jauh lebih menenangkan."
"Iya kau mungkin benar, nikmati saja. Dia baik, sebenarnya perhatian juga, aku tak bisa mengharapkan orang yang sempurna seperti bayanganku."
"Semua orang tak ada yang sempurna oke. Hanya jika kau nyaman dengannya nikmati saja dulu, tak usah memikirkan selembar surat dan sepasang cincin...kau tahu kadang itu tak ada artinya dibanding rasa nyaman satu dengan yang lain..." Aku tersenyum mendengar kata-kata Javier.
"Mungkin kau benar, aku harus let it flow saja. Tak ada gunanya memasang ekspektasi terlalu tinggi..."
"Hmm aku pasti benar. Kita sudah melaluinya. Bisa menjadi teman akhirnya terasa seperti sebuah anugerah dari kehancuran kita. Kita tak bisa bersama, tapi kita menjadi lebih tulus berharap yang baik."
"Kau benar..."
"Ya sudah, ingat jika kau butuh bantuan jangan sungkan. Aku nanti setiap datang lebih baik menelepon kekasihmu. Nanti dia cemburu." Aku tertawa. Javi yang baik hati itu mengerti kesulitanku.
"Bye Javi, terima kasih banyak oke."
"Tentu."
Aku akhirnya lega Javier tidak tersinggung. Oven panas itu agak mendingin harusnya, dia tidak bertanya apapun soal dua juta setelah itu. Tapi kurasa aku harus mengatakan padanya aku sudah mengembalikannya, agar dia merasa dihargai setidaknya.
Beberapa hari ini dia mengurus bisnis di Catania. Akhir pekan dia kembali. Jadi aku menunggunya kembali sekarang. Sudah jam 7, dia bilang jam segini dia akan kembali. Jadi aku menyempatkan diri membuatkan sesuatu untuknya di dapur.
Dulu Javier selalu senang melihatku menyiapkan makanan untuknya. Jika Bova mungkin dia lebih praktis, dia datang makan di restoran bersamaku. Walau dia pernah bilang dia senang jika aku bisa memasak untuknya.
Jadi inilah aku sekarang dengan celemek dapur, plus bahan-bahan yang kudapatkan di dapur restoran sebagian. Memasak untuknya bersama Marriane.
Dia kembali dan mendengarku bicara dengan Marriane didapur.
"Vanilla, kau memasak?" Suprise nampaknya baginya melihatku dalam celemek.
"Ahh iya sedikit, sudah selesai." Salad, makanan pembuka sudah ada di meja, tinggal finishing pastaku dan daging.
"Aku boleh makan disini saja."
"Hmm...boleh." Dia langsung mengambil piring sendiri dan sendok garpu. Aku melihatnya duduk di meja marmer dapur dengan senang.
Dia mencomot begitu saja makan dengan lahap. Aku jadi senang melihat seseorang makan dengan begitu lahap.
"Ehh sorry aku tak menunggumu selesai, ..." Dia sadar tak menungguku makan.
"Tak apa makan saja. Kau tampaknya lapar." Aku melihatnya duduk di meja marmer dapur nampak kelaparan. Senang melihatnya makan dari masakan tanganku. Kadang hanya butuh hal sederhana untuk merasa bahagia.
"Lapar sekali Tuan Bova..." Aku menyindirnya dengan senang melihat kecepatan dia makan. "Makanlah pelan-pelan makanannya tak lari kemanapun."
"Hmm..." Dia tersenyum padaku, menikmati makanannya. Sementara aku menyelesaikan pasta dan memindahkannya ke piring saji dari pan panas.
"Ini pastamu. Dagingnya sebentar lagi siap."
"Ayo, makanlah bersama. Ini masih panas, menyenangkan makan pasta yang baru keluar dari pan panas. Mama dulu sering membuatkan makanan langsung di dapur. Kadang kami berdua makan dari pan tanpa piring." Dia tertawa mengingat kenangan dengan Mamanya. Aku juga ikut senang mendengarnya.
"Tentu saja, bagaimana mungkin ini tak enak." Aku tersenyum mendengar pujiannya. "Terima kasih datang kesini dan menyiapkan semua ini." Pandangan hangat dimatanya membuatku tahu dia menghargai aku menyiapkan makan malam ini. Mungkin aku terlalu sibuk belakangan. Mungkin aku harus lebih seding pulang lebih cepat, pekerjaan jika dikejar tak akan ada habisnya.
Pembicaraan mengalir ringan kemudian. Kami bisa banyak bicara setelah hampir beberapa hari dia keluar kota.
"Aku sudah mengembalikan dua juta Javier seperti yang kau minta." Sebuah pemberitahuan untuknya ketika kami sudah duduk berdua selesai makan malam, bahwa aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan, semoga dia tidak tersinggung lagi.
Dia melihatku sesaat. Dan membawaku ke dalam rangkulannya.
"Maaf, aku mungkin terlalu emosi kemarin. Itu uangmu sebenarnya, aku mungkin terlalu cemburu..."
"Tidak, aku salah menerimanya tanpa kau tahu." Harusnya aku memberitahunya dulu. Aku mengerti ketersinggungannya. "Tapi kau tak perlu mengantinya, sebenarnya aku punya impian untuk membukakan sebuah restoran untuk Valentina di US, aku punya banyak orang yang ingin bekerja di sana. Dan Valentina pasti juga ingin memulai miliknya sendiri..."
"Itu mudah sayang, kita tinggal cari investor di sana. Pasti ada, aku bisa mencarikanmu partner kerjasama."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar. Sudahlah jangan bicarakan itu lagi. Anggap saja sudah berlalu. Oke. Tapi aku senang kau dirumah saat aku pulang." Itu sederhana tapi berarti, mungkin aku harus melakukannya lebih sering. Berada di rumah ini bersamanya.
"Aku akan melakukannya lebih sering jika begitu." Dia tersenyum.
"Kurasa kau kekasih yang sangat perhatian. Apa yang kau pikirkan."
"Aku? Hmm tidak. Hanya senang dengan kedamaian ini. Tidak ada kasus, hanya ada rutinitas untuk dipikirkan. Setelah beberapa tahun ini hidupku terasa bagai roller coaster, sekarang aku sangat menghargai hari-hari biasa seperti ini."
"Lebih berharga lagi karena kita bisa bersama." Aku melihatnya menatapku dengan hangat.
"Kau memang manis kadang. Aku lupa kau bisa begitu manis ovennya Vanilla..." Dia tertawa kecil dengan pujianku.
"Aku tak pernah melihat Ibumu datang, belakangan biasanya dia suka ke Milan..."
"Dia ada di Palermo, ini musim panas. Dia sangat sibuk dengan kebunnya, jangan harap kau bisa melihatnya di Milan musim seperti ini."
"Ohh, Bibi sibuk di kebunnya. Bagaimana kalau kita mencari waktu mengunjunginya. Aku punya hutang berkunjung ke rumahmu."
"Boleh, kulihat dulu jadwalku kapan aku agar spare oke. Mungkin kita bisa mengambil tiga hari ke sana..."
"Oke." Aku berpikir saat kami pertama ke sana saat ulang tahun Bibi musim dingin yang lalu. Harus tidur satu ranjang dengan oven ini.
"Kau ingat saat kita pertama pergi ke sana berdua dan dijebak oleh Ibumu." Aku tersenyum sendiri mengingatnya.
"Hmm, yang kuingat adalah kau memanfaatkanku sebagai bantal pelukmu kekasihku yang mesum, sambil memanggil Javier tercintamu itu." Aku tertawa sekarang. Itu kenangan tak terlupakan. Bagaimana aku membuat Don Juan ini merasa disepelekan. Kurasa itu juga yang membuat dia teralihkan perhatiannya padaku. Karena tak ada seseorang pun menyepelekannya sebelumnya.
"Ovenku tersayang, kau masih mengingat bagian itu. Bagaimana jika kita lupakan itu."
"Melupakannya? Entahlah apakah itu berhasil atau tidak." Dia pura-pura mengerutu. Aku naik ke pangkuannya sekarang untuk merayunya.
"Aku sekarang memanfaatku sebagai oven-ku Don Juan. Kenapa kau tak memaafkanku untuk hal sepele itu."
"Itu tidak sepele Vanilla cookies...." Dia gantian menyebutku sebagai cookies Vanilla.
"Oven, kau memang jual mahal." Dia tertawa juga akhirnya.
"Aku memang mahal, kau beruntung bisa mendapatkanku." Dia memeluk pinggangku dam memerangkap aku dalam ciumannya.
"Dasar Don Juan sombong." Aku memeluk tengkuknya menyisipkan jariku dalam rambutnya. Don Juan sombong ini milikku sekarang.
"Kau mencintai kesombonganku. Jika tidak akan mendapatkanmu." Aku menciumnya lagi untuk ucapan manisnya itu.
Malam masih panjang. Aku menyukai malam ini. Dimana aku marasa dicintai dan menjadi nyaman dipelukannya.