The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 25. Palermo



Lihatlah dia,  hanya dengan modal jeans dan sweater hitam berleher tinggi itu dia sudah mengumpulkan dua gadis di sisinya yang melihatnya dengan tatapan memuja dan terpesona. Astaga pesona Don Juan ini memang tak bisa ditolak siapapun.


Aku baru sampai dan mencari duduk di ruang  tunggu Malpensa International Airport, melihat  teman dalam penerbanganku sedang ditempel oleh dua gadis cantik, kubiarkan saja dia,  aku mengambil kursi  kosong , di barisan yang lain dan menjauh dari Don Juan yang  sedang merayu para wanita itu, walau aku tak yakin siapa yang merayu atau dirayu. 


Don Juan itu seperti properti milik bersama. Oven kapasitas besar yang bisa memanaskan banyak cookies tanpa kecuali. Jangan tanya kenapa aku memikirkan oven sekarang. Aku Vanilla, salah satu cookies yang takut panas berlebih.


Aku menghela napas dan mengambil ponselku. Mengenyahkan pikiranku, mengambil ponselku, melihat kembali gambar flat yang dikirim oleh Valentina untukku. Flatnya cukup bagus, dia bisa bicara denganku dengan nadanya yang biasa itu sudah cukup membuatku gembira dan bersemangat tentang kemungkinan studi barunya memperoleh pekerjaan disana. Sementara berita tentang Gianni terus menggulung beberapa hari ini, bahkan sudah  ditargetkan ke patriach keluarga Gianni, karena dia memang  salah satu pemegang sahamnya.


“Kenapa kau tak menyapaku Vanilla.” Vanilla, aku melihatnya tersenyum padaku sambil menghela  napas. Dia duduk disampingku dan membiarkan dirinya sedikit menempel bahunya padaku. Dan melihat brewok rapinya aku harus menghela napas lagi.  Aku memalingkan pandanganku, takut terpapar terlalu banyak panas yang menyebabkan jantungku berdetak terlalu kencang.


“Kau sedang merayu dua gadis disana, nanti aku merusak usahamu.” Aku meliriknya sedikit sebelum berpaling lagi, tak perduli walaupun rasanya juga menggangu. Aku membayangkan jika benar aku Vanillanya,  aku harus menghadapi kecemburuan seperti ini setiap hari. Bukankah itu melelahkan.


“Aku tidak merayu mereka, mereka yang tiba-tiba ada disampingku dan mengajak mengobrol.” Dia menjelaskan tapi aku sebenarnya tak punya hak untuk penjelasannya.


“Hmm, baiklah. Terserah padamu, kau tak perlu menjelaskannya padaku sebenarnya.”


“Kau selalu punya pikiran  buruk tentangku bukan? Padahal kau tahu aku sangat ketat dengan lingkunganku. Bagaimana mungkin aku merayu gadis yang kutemui di bandara sembarangan, kau pikir aku punya waktu untuk kencan buta seperti itu” Aku melihatnya dan tersenyum.


“Baiklah Don Juan,  aku hanya kadang berpikir orang sepertimu complicated, apalagi dengan prinsip unikmu itu.”


“Aku hanya menyederhanakan hidup kau menganggapnya terlalu jauh. Bukan tidak mungkin  aku mengambil langkah berkomitmen seperti orang biasa, mungkin satu saat nanti. Jika aku bertemu seorang yang tepat.” Aku sekarang melihat padanya sambil bertopang dagu.


“Ohh yang  itu  baru kudengar sekarang. Semoga sukses kalau begitu.” Kenapa dia mengatakan itu padaku? Apa dia berharap  sesuatu dengan mengatakan itu? Panggilan Vanilla ini menbuatku selalu berpikir lain. Aku melihat padanya dan mendapatkan dia melihat padaku. “Ada apa, kenapa kau menatapku begitu?”


“Tidak, hanya kau terlihat cantik hari ini Vanilla.”


“Apa kau sedang berusaha merayuku.” Aku meringis, tapi dia tidak menjawabku.


“Bagaimana beberapa hari ini, ada kesulitan?” Dia mengubah topik pembicaraan. Mungkin dia tahu aku tak mempan rayuannya.


“Sebenarnya tidak, Tuan Armando yang mengurus semuanya. Aku mempunyai pengawal, rasanya seperti orang penting. Dan pemasukan restoran bagus. Valentina menikmati waktunya di NY dan bersiap mencari kampus yang dia inginkan. Semuanya baik-baik saja, banyak hal yang membuatku senang beberapa hari ini.”


“Itu bagus. Senang melihatmu tidak sedih lagi.”


“Ohh ya, aku menyiapkan kado untuk Ibumu. Aku tak tahu apa yang dia suka. Jadi kubelikan bracelet dengan hiasan enam ring cantik, kotak  kadonya ada tulisan ‘six rings for six faboulus decade.’ . Apa menurutmu itu bagus.”


“Tentu saja. Dan  aku memberikan dia kalungnya.”


“Rumah Ibuku? Ehmm, dia terobsesi dengan mawar dan segala macam bunga, plus semua tanaman dia punya banyak tanaman di  kebun pribadinya. Dia sebenarnya mengubah area kebun dan tanahnya menjadi permaculture, bahasa kerennya adalah food forest, jadi dia menggabungan ekosistem  pohon  besar dan berry, kacang, sayuran, segala macamnya disana, membuatnya  tumbuh sendiri secara organik, membuat ekosistem hutan bekerja untuknya menghasilkan panen tanpa pupuk kimia 100% organik hanya kompos dan dari perternakan kecil yang dia buat. Halaman   rumahnya adalah rumah berbagai macam bunga, dan area tanahnya yang lain adalah food forest. Jika kau mengunjungi food forestnya seperti kau tersesat ke sebuah hutan dengan banyak pohon buah, sayuran dan buah-buahan. Sayangnya ini bukan musim panas atau gugur, mungkin ada beberapa buah yang  masih ada. Tapi jika kau datang pada musim panas atau gugur, kau akan kagum pada panen mereka.” Penjelasannya sangat mengagumkan, food forest, nampaknya jika kiamat zombie terjadi mereka yang paling siap.


“Ohh benarkah. Kedengarannya seperti surga  buah.”


“Iya, di musim panas, itu terasa sejuk, lokasinya dekat Madonie Park, jadi ekosistem hutannya sangat terjaga. Itu cara Ibuku menikmati pensiunnya, dia sangat suka desa, kebun dan bunga.”


Aku terpukau dengan penjelasannya. Kupikir rumahnya akan seperti villa besar dengan mungkin  taman indah, tapi yang akan kutemukan nampaknya lebih mengagumkan.


“Sepertinya sangat mengagumkan.”


“Hmm, kau akan  suka.” Sesuatu terlintas di kepalaku tentang Sophia, dia bilang dia dan Sophia sudah berjalan selama dua tahun. “Apa Sophia  pernah bertemu Ibumu?”


“Ohh, pernah Mama langsung tak menyukainya, dia langsung  menginterogasiku dan menemukan kebenarannya. Aku tak bisa membohonginya.”


“Maksudnya Ibumu tahu kau membayarnya untuk jasa?”


“Iya. Padahal aku membawa  seorang gadis untuk menenangkannya, tapi akhirnya malah berakhir aku dimarahi habis-habisan dan tak pernah diizinkan membawa Sophia ke depannya.”


“Wow, kenapa dia menyuruhku datang bersamamu? Padahal dia  tahu apa sebenarnya hubungan kita.”


“Entahlah,  mungkin dia menyukaimu.”


“Dia menyukaiku...” Rasanya sedikit tersanjung. “Dia akan berusaha mendekatkan kita?”


“Dia akan berusaha kurasa...” Jawabannya membuat banyak pertanyaan di kepalaku.


“Lalu apa yang harus kulakukan.”


“Bersikaplah biasa seperti teman, tak akan terjadi apa-apa. Tenanglah ini hanya dua  hari Vanilla.”  Hanya dua hari? Tak akan terjadi apapun, tak ada pelukan, dansa, atau aku terlalu terperangkap padanya? “Apa sebenarnya  yang kau takutkan.”


“Tidak,... tak ada apapun.”


Apa yang kutakutkan. Aku takut jatuh cinta  padamu dan sulit  melepaskan karena terlalu nyaman disampingnya. Aku perlu meyakinkan diriku lagi, teman adalah teman. Jangan berharap banyak. Walaupun dia terlihat sangat baik dan menawan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=****\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=