
Pesta itu diadakan di Excelsior Hotel Gallia. Hotel bintang lima itu lobbynya terlihat cantik dari kejauhan dengan hiasan season greetingnya.
"Kau baik-baik saja?" Bova yang kelihatan seperti memikirkan sesuatu dari tadi, dan agak diam. Nampaknya masalah Sophia menganggunya. Dia melihatku yang memperhatikannya...
"Baik, hanya memikirkan sesuatu."
"Masalah Sophia nampaknya menggangumu. Wanita memang mudah jatuh cinta. Apalagi dia merasa kau baik."
"Dia tidak menghormati kesepakatan." Hati nampaknya tak mengenal kesepakatan. Mungkin orang seperti Bova tak mengerti itu.
"Kau tak punya anak dengan suamimu? Berapa lama kalian menikah?"
"Lima tahun, tidak kami tidak punya anak.Aku yang bermasalah tidak bisa memberikannya anak, kami berpisah karena itu." Dia melihatku sebelum kembali ke jalan. Aku akan mengatakan itu padanya, supaya dia tidak berpikir mendekatiku, karena aku tidak sempurna.
"Anak adalah tanggung jawab besar."
"Iya, tapi bagi sebagian besar orang itu adalah kebahagian. Aku tak menyesali perpisahan kami, kurasa dia berhak untuk memutuskan itu. Hanya hal yang menyebalkan adalah dia tidak memberiku hasil kerja kerasku, aku hanya ingin bagian dari kerja profesionalku selama hampir 6 tahun aku memanage restoran itu sendiri, tapi wanitanya yang baru nampaknya tidak menyetujuinya, itu menyakitkan... bukan hanya soal materi, tapi juga soal hati..."
Aku hanya ingin perpisahan yang baik. Aku tak pernah mempersulit perpisahan kami, aku menandatangani semuanya. Berharap kami masing-masing tetap menjadi teman akhirnya, karena kami pernah punya waktu yang baik bersama, tapi harapan kecil itu nampaknya tak terwujud.
"Maaf, aku hanya... kau tahu... hanya ingin bercerita."
"Tak apa, semua hubungan memang ada ada masalahnya."
"Dan kau menghindari masalah."
"Kurang lebih, masalahku sudah banyak."
"Apa kau tak pernah jatuh cinta?" Sekarang aku tertarik dengan prinsipnya. Dia tertawa dengan pertanyaanku.
"Tentu saja pernah, tapi kami tak berjodoh kukira."
"Lalu apa kau menganggapnya masalah."
"Tidak, tentu saja tidak. Dia pun tidak punya masalah jika tidak ada aku..." Dia meringis lebar. Kurasa dia masih normal juga. Tapi yang dia cintai ini mungkin punya spesifikasi khusus yang bisa menariknya.
"Ohh, kau bertepuk sebelah tangan." Aku langsung membuat kesimpulan lanjutan sambil tertawa.
"Sepertinya tidak juga. Tapi jika aku maju mengejarnya banyak masalah terjadi. Mungkin pertumpahan darah."
Dia membelokkan mobilnya ke lobby. Mengambil valley sementara petugas membukakan pintu untukku. Aku turun, melangkah ke arah lobby sementara Bova disampingku.
"Aku boleh memegang lenganmu?"
"Tentu saja boleh. Kita datang bersama kesini." Lebih mudah daripada bergandeng tangan. Tapi sensasi berjalan dengan Don Juan kadang mengelitik, perutku dipenuhi kupu-kupu, padahal aku tak ingin punya perasaan apapun.
Kami berjalan di lobby, kami berjumpa dengan beberapa orang yang dikenalnya. Sementara dia mengenalkanku sebagai temannya, dan aku bebas mengobrol dengan beberapa dari mereka. Aku berusaha memberi kesan yang baik sebagai pendamping jika berjumpa dengan koleganya.
"Fabri..." Seseorang memanggilnya. Wanita paruh baya, mungkin Ibunya.
"Mama..." Ternyata benar. "Akhirnya Mama memutuskan datang juga. Katanya Mama tak mau datang?"
"Bibimu memaksaku kesini, tapi baiklah aku sekalian melihatmu." Dia melihat ke arahku, aku tersenyum padanya. "Ahh siapa gadis cantik ini."
"Aku Eliza, Zia."
"Dia temanku Mom,..."
"Teman? Temanmu ini cantik." Aku tersenyum untuk pujiannya. "Akhirnya aku melihat Bova mengandeng seorang teman, akhirnya dia bertemu teman yang dia inginkan, aku sedikit tenang...." Kenapa aku sedikit merinding dengan istilah teman ini, sepertinya teman ini seperti jabatan yang tinggi sekali. 'Akhirnya aku melihat Bova mengandeng teman.' Kalimat ini kenapa terasa janggal?
"Eliza, bisakah kau menemani Zia(bibi) mengobrol, bibi jarang bergabung ke acara seperti ini. Mereka punya bisnisnya masing-masing, Bibi tak mengenal yang lain kecuali keluarga. Bibi perkenalkan kau ke keluarga yang lain." Dia langsung mengandeng tanganku. Ehmm tunggu dulu, dikenalkan ke keluarga yang lain. Bukankah ini agak berlebihan? Tapi Bova mengangguk memberikan persetujuan ketika aku melihatnya.
"Ehm...Baiklah. Tapi aku cuma teman Bova Zia... Mungkin dikenalkan ke keluarga Bibi agak terlalu ... aneh? Bukan begitu?" Kenapa aku merasa terjebak sekarang. Ini cuma teman kenapa rasanya seperti calon menantu. Kenapa dia langsung menarikku bersamanya.
"Ahh tak apa. Temanpun dia jarang membawanya, maksudku jarang membawamu teman wanita. Temanpun jadi. Bibi pikir tadinya dia ...tak berteman dengan wanita." Apa!? Tak berteman dengan wanita, maksudnya ga*y?! Aku meringis. Bagaimana mungkin! Dia hanya senang menjadi sugar daddy.
"Ohhh tak apa. Fabri, Mama boleh membawa temanmu sebentar."
"Iya Mama. Aku akan bertemu Paman. Aku akan ke meja Mama nanti." Dan aku diseret ke mejanya sekarang.
"Kau cantik sekali, kau tinggal di Milan?"
"Iya Zia."
"Kau bekerja dimana?" Aku menceritakan pekerjaanku. Dia tersenyum dan mengangguk.
"Jadi kau seorang profesional chef yang menjalankan restoran keluarga." Ini interogasi pada pertemuan pertama. Sangat mengesankan. Aku jadi tak nyaman. Posisiku hanya teman, apa mereka harus menjalankan interogasi seperti ini kepada teman anaknya.