
Aku masih berpikir kenapa aku tak menerima undangan Javier. Dia dan kekasihnya itu, bukankah mereka akan menikah. Sampai dua minggu kemudian dia berdiri di depanku. Aku terkejut melihatnya sudah duduk di restoran di jam makan malam itu.
“Javier, kau disini. Kenapa tak memberitahu kau akan datang?”
“Apa aku menggangu, aku hanya makan malam. Kau tak usah menemaniku.” Sebuah perasaan akrab melihat senyum hangatnya membuatku langsung duduk di depannya.
“Tidak bukan menggangu, hanya kaget. Aku tak berpikir kau akan datang. Tak apa aku akan menemanimu mengobrol.” Dia nampaknya berterima kasih aku mau duduk bersamanya, wajahnya terlihat senang.
“Aku tak melihat Zio,..” Dia bertanya tentang Ayah.
“Ohhh dia menjadi inspector di cabang lainnya. Dia suka berkeliling. Kau tak datang bersama kekasihmu?” Aku mencoba bertanya apa yang kupikirkan setelah dia memesan menu yang diinginkannya.
“Ohh... aku memutuskan berpisah dengannya?” Aku tak tahu menjawab apa.
“Begitu. Kenapa? Ehm.. tidak-tidak, maksudku, bukankah kalian sedang merencanakan pernikahan.”Dengan cepat aku meralat kalimatku. Aku takut disangka masih ingin mencampuri urusan pribadinya. Dia hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaanku dan memandangku, sebuah rasa dari masa lalu terasa di pandangannya.
“Aku tak tahu , belakangan kupikir bukan dia yang aku cari. Aku tak yakin dan ragu ketika dia memaksaku untuk menetapkan pernikahan segera, seperti ada yang salah. Kami banyak bertengkar kemudian dan aku memutuskan tidak melanjutkan ini.” Aku terkejut dengan berita ini, kurasa dia sudah sangat menginginkan keluarga sendiri. Tapi kemudian dia mundur.
“Jangan terlalu memasang ekspektasi tinggi, semua orang tak ada yang sempurna, aku tersenyum padanya.”
“Ya kau benar, kita memang tak sempurna.” Dia tersenyum sedih, entah apa yang ada di pikirannya. “Kau terlihat berbahagia sekarang.”
“Aku biasa saja, syukurlah semuanya sudah terlalui. Hidup tenang seperti biasa, bekerja dengan hati, mendapat reward yang baik, kadang mengejar sesuatu untuk membuktikan diri, sudah cukup kurasa. Apa lagi yang kuharapkan...”
“Dan kekasih yang menyayangi, membelamu begitu rupa...” Dia menambahkan membuat aku tertawa kecil.
“Itu memang bonus yang menyenangkan.” Dia tersenyum melihat aku tersenyum. Ada bagian hati yang rindu akan pembicaraan seperti ini, duduk tenang, hanya tersenyum mengerti satu sama lain.
“Aku turut bahagia untukmu.” Dia tulus dengan ucapannya itu aku tahu. Mungkin dia juga kehilangan kebersamaan kami. Orang bilang saat orang itu menghilang baru kau itu hilang.
“Nanti kau akan menemukan seseorang yang membuatmu tergerak. Tidak akan lama, siapa yang bisa menolakmu.” Dia tertawa.
“Ya semoga kau benar.” Andai aku sempurna untuknya.
“Vanilla, kau sudah makan.” Suara seseorang yang kukenal membuatku menoleh, oven disampingku berdiri dengan wajah sedikit kaku. Nampaknya karena dia melihat Javier. Mereka tak pernah bertemu,tapi dia pernah melihat fotonya. Javier berdiri melihat ada yang menghampiri kami dan memanggilku dengan Vanilla.
“Kau pasti Fabricio Bova. Javier, akhirnya kita bertemu, aku kebetulan lewat disini, dan ingin mampir. Kebetulan juga dia ada...” Javier dengan bijak meredakan kecurigaan Bova untukku. Aku harus berterimakasih untuk pengertiannya.
“Jika begitu nampaknya kita bisa makan malam bersama saja.” Oven ini mungkin cemburu melihatku duduk dan berbicara dengan mantan suamiku. Katanya aku pernah mengantikannya saat aku mabuk dengan nama Javier, plus saat di Palermo. Sekali lagi aku menyebut nama Javier dengan tak sadar seperti itu, nampaknya akan ada masalah besar yang terjadi.
“Tentu kenapa tidak.” Aku memanggil pelayan untuk memesan.
“Iya, kebanyakan memang di restoran dan hotel. Kau sendiri...”
“Aku di konstruksi, finansial dan winery, sedikit bisnis hiburan ...” Bova ini nampaknya sedang pamer. Oven ini sedang panas karena cemburu. Makan malam ini nampaknya akan berisi pamer prestasi. “Kau punya jaringan hotel di sini? Kau sering ke Milan.” Dia sedang melakukan interogasi ke Javier.
“Iya, aku memang punya bisnis disini. Makanya kadang beberapa bulan sekali aku mengecek ke Milan.”
“Ohh, ternyata begitu. Sama dengan Vanilla, kau juga familiar dengan bisnis ini. Ehh maksudku Eliza, dia sudah membuka lima cabang sekarang, gadis ini tahu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.”
“Kau menyindir atau memuji.” Aku menyambung perkataannya karena oven ini membicarakanku.
“Itu memuji Vanilla sayang.” Dan dia menambahkan kata sayang dibelakangnya. Tanda kepemilikan. Javier tersenyum melihat kami.
“Bagus untuknya, aku senang dia bisa mengembangkan yang dia punyai disini. Tapi dia memang selalu tahu bagaimana menjalankan restoran dengan benar. Dia executive chef mumpuni, manajemennya sangat baik.” Aku senang dipuji oleh pria-pria ini sekarang. Tapi nampaknya sepanjang pembicaraan Bova tak menarik urat juga. Aku cukup senang tidak ada sindir-sindiran disini. Keadaan damai sampai akhir acara makan malam itu.
“Baiklah, senang bisa bicara dengan kalian lagi. Lain kali semoga kita bisa mengobrol lagi...”
“Tentu, mampirlah kapan saja.” Aku melepasnya.
“Jika kau mampir, teleponlah aku, banyak yang bisa kita bicarakan.” Bova menyalaminya saat dia akan kembali, nampaknya kata-katanya itu mengatakan ‘jangan bertemu Eliza jika tidak ada aku.’
“Baik. Aku akan mengingatnya.’
Javier pergi, Oven menatapku dengan pandangan panas.
“Apa dia sering kesini.” Sekarang dia memulai interogasi nampaknya.
“Tentu saja tidak, dari 4 bulan yang lalu baru sekarang lagi dia kemari. Dia tinggal di Madrid, bukan di Milan, bagaimana dia bisa sering ke sini.” Langsung merasa terancam nampaknya dengan kehadiran Javier. Dia pasti melihatku dengan banyak hal berlalu lalang di pikirannya.
“Ovenku sayang, kau tak usah cemburu.” Aku meringis lebar menyenggolnya. Dia tampaknya tak memperpanjang lagi sekarang karena aku kembali bekerja menerima beberapa laporan dari staffku kemudian.
“Vanilla kembali bersamaku malam ini oke.” Aku meliriknya. Apa masalah tadi belum selesai? Masih ada yang mau dibicarakannya.
“Hmm baiklah, ...”
Di jalan dia agak diam, aku tak memperdulikannya. Javier tinggal di Milan kenapa dia harus menyiksa dirinya dengan kecemburuan berlebih. Itu sama sekali tak masuk akal bagiku. Lagipula sudah kukatakan padanya aku tak mungkin kembali ke Javier.
“Sayang aku mau bicara, ...” Setelah beberapa saat kami tiba di rumah tampaknya sekarang dia serius mengajakku bicara. Baiklah kita dengarkan saja apa kekhawatirannya.
“Hmm, apa, ada yang penting?” Aku duduk disampingnya di bed-nya, dia memeluk pinggangku dan membawaku ke pelukannya.