
Suara langkah kaki Nanao yang mendekat menyelamatkanku dan menghentikan kejahilannya walaupun senyum lebar masih menghiasi wajahnya.
"Tuan, ada Nona Kimiko Yasukuni ingin bertemu, katanya dia membawakan sedikit makanan untuk Tuan." Kimiko, bukankah gadis yang semalam itu.
"Kimiko yang semalam?" Hisao menghela napas sekarang.
"Astaga apa lagi yang dia mau. Suruh dia menunggu Nanao."
"Baik Tuan."
"Apa dia tinggal didekat sini?"
"Iya, segala macam cara aku sudah mencoba menolaknya. Tapi dia tetap datang karena rumahnya tak ada lima puluh meter dari sini. Dari alasan mengantar buah sampai mengantar coklat pernah dia lalukan. Entah hari ini dia mengantar apa lagi. Padahal aku tak pernah sekalipun membalas meneleponnya." Aku tertawa mendengar cerita Hisao. Jadi gadis ini semacam pasif aggre*sive. Dia tak memaksàmu tapi dia tetap ada disana sepanjang waktu.
"Apa dia temanmu sebelumnya?"
"Tidak, aku bertemu dengannya di acara Pamanku setahun yang lalu, pernah mengobrol sebentar. Kemudian ternyata orang tuanya mengenal orang tuaku, kemudian dia tahu rumahku yang sialnya hanya lima puluh meter dari rumahnya. Dan sekarang dia menjadikan jadwal mengunjungi rumahku adalah jadwal yang harus dipenuhi paling tidak sebulan sekali."
"Ahhh begitu, ternyata dia sangat terpesona padamu."
"Aku sudah punya orang yang ingin kubikin terpesona. Dia tipenya sepertimu, sopan, bicara halus, tapi mungkin cakarnya baru keluar saat hanya berdua. Lihat saja konsistensinya sekarang..."
"Sayang, pamerlah padanya..."
"Maksudmu?"
"Kenapa idemu terlihat seperti memasangku sebagai umpan. Kau ingin aku berpakaian seperti ini menemuinya..."
"Ayolah Hisao, aku akan datang menyelematkanmu nanti. Kalau aku datang dan menghampirimu dengan mesra, dia melihatku ada disini pasti dia menyangka kalau kita... " Aku tidak melanjutkan. Hisao jadi berpikir tentang usulku sekarang. Dia meringis kecil.
"Hmm, baiklah, tapi ingat kau harus datang nanti jika aku memanggilmu. Jika kau tidak datang dia akan menganggap aku sengaja pamer untuknya. Ini permainanmu okey,..." Dia mengetuk keningku.
"Tapi aku ingin melihatnya juga, ..."
"Aku punya sudut dimana kau bisa mengintip ke ruang tamu depan."
"Aku bisa mengintip?"
"Ayo kesini kutunjukkan. Jangan berisik..."
Ternyata ruangan tamu depan itu memang dedesain untuk observasi. Ruangan itu khusus terpisah dari ruangan dalam dengan pintu khusus di bagian dalam, plus ada lemari pajangan besar solid yang membatasi dibelakang itu ada beberapa lubang mengintip yang tidak akan terlihat.
"Ingat jika aku memanggilmu kau harus datang. Kau harus bersikap sedikit mesra padaku. Ehmm tapi kau pasti kaku, jangan protes jika aku sedikit mengerjaimu..." Hisao bersuara rendah padaku.
"Apa maksudmu mengerjai?"
Hisao tak menjawabku dia meminta Nanao membawa teh dan langsung keluar ruangan. Aku langsung mengamati ekspresi kaget Kimiko, dia kaget tapi dia tak menurunkan pandangannya. Dia malah nampaknya senang melihat Hisao muncul dengan pakaian seperti itu, nampaknya dia menganggap ini pemandangan bagus.
"Kimiko, pagi sekali aku melihatmu. Ada apa, aku ditengah latihanku. Maaf aku belum sempat berganti baju,...Aku takut kau menunggu lama." Hisao berlagak tak perduli tentang penampilannya sekarang ini. Aku meringis melihat Kimiko menatapnya seperti eskrim yang menggoda. Ohh dia tak sesopan itu ternyata. Dia tidak menundukkan pandangannya sama sekali malah terlihat menikmatinya sekarang.