The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR DADDY WANNA BE Part 6. First Meet 3



"Jika aku jadi kau aku akan membawa Ayahku ke luar negeri dan tidak membayar sepeserpun. Aku akan memaksanya ke meja perundingan. Tapi baiklah kalian diancam, keuangan kalian mungkin sedang tidak bagus, dan kau wanita, tidak punya back-up. Bangsat itu hanya berani kepada pria tua dan wanita lemah. "


Entahlah. Semuanya serba salah. Makanpun rasanya tidak ada rasa seenak apapun itu.


"Makanlah. Nanti kita selesaikan?" Aku melihatnya dengan terkejut.


"Kita selesaikan? Maksudnya kau ingin membantuku?"


"Aku punya urusan yang belum selesai ke stronzo itu, kita lihat siapa yang lebih pintar. Stronzo itu pikir tak ada yang berani melawan uangnya di seantero Milan. Akan kulihat sampai dimana otaknya mampu berjalan..."


Apa dia semacam Mafioso juga berani melawan Gianni. Aku tak tahu siapa dia.


"Tuan Bova, dia punya banyak pengikut. Apa kau tahu? Dia gangster berbahaya, dia bisa menghilangkan orang dengan mudah." Fabricio Bova hanya tertawa kecil.


"Tenanglah, ... jika aku berkata aku bisa menghadapinya maka aku sudah memperhitungkan segalanya." Dia menganggap itu bukan masalah besar tapi dia berani berkata seperti itu, tampaknya dia punya cara menghadapinya.


"Makanlah. Kau terlihat begitu khawatir, ..."


"Tuan Bova, saya tidak mengenal Anda. Anda membantu saya, bagaimana saya membayar ini. Anda bilang tidak ada makan siang gratis."


"Kita bicarakan nanti. Kupikir dia kelewatan membuat orang seperti kalian kesulitan. Sesekali dia perlu dihajar agar bertarung dengan orang yang selevel..." Aku menatapnya, jika dia bisa membantuku membebaskan Valentina kurasa aku tak keberatan menjadi sugarnya tanpa dibayar sekalipun. Mungkin dia membantuku karena punya dendam dengan Gianni. Entah apa motivasinya.


"Terima kasih." Kali ini aku bisa tersenyum padanya.


"Sekarang kau tersenyum."


"Aku memikirkan adikku, jika Tuan Bova benar-benar mau membantu membebaskan Valentina aku sangat berterima kasih. Apa Tuan Bova punya ketertarikan dengan Valentina?" Dia tertawa.


"Tidak, jangan salah, aku sebenarnya malah pernah mengobrol dengan Ayahmu beberapa kali bukan adikmu. Dia pria yang ramah dan kurasa dia dalam banyak hal lebih baik daripada aku dan tidak aku tidak mengincar adikmu, ..."


"Kau kesini apa ingin kita terlibat daddy dan sugar?" Pertanyaanku membuat dia melihatku dan tersenyum.


"Apa kau menginginkannya?"


"Kau tanya apa aku menginginkannya, jika aku punya pilihan tidak. Rasanya seperti..." Aku tak meneruskan kalimatku. Dia tersenyum.


"Aku tahu, itu sebabnya aku heran kenapa wanita sepertimu bisa muncul di site itu. Tak masuk gambaranmu sama sekali. Kalian berdua kakak adik yang kompak, bersedia menanggung beban satu sama lain, ...tapi tindakan kalian menyerah begitu saja padanya bodoh."


"Bagaimana aku bisa membebaskan adikku. Kau tahu Gianni sepertinya punya orang di polisi. Jika aku memberitahu polisipun tak akan ditanggapi..."


"Apa adikmu disekap?"


"Tidak, dia hanya disuruh tinggal di tempat Gianni."


"Jika Ayahmu sudah sehat, kau harus mengirimnya keluar Milan untuk sementara. Dan adikmu, mungkin kau lebih baik kau menemuinya untuk melihat keadaannya dulu." Kata-katanya supaya melihat keadaannya membuatku khawatir. Pikiran buruk mulai muncul di kepalaku. Apa Gianni ini punya reputasi penganiayaan terhadap pacarnya?


"Apa ada sesuatu yang buruk tentang Gianni?" Dia tidak menjawab lama. Sekarang aku benar-benar kuatir. "Tuan Bova, tolong katakan apa yang kau tahu?"


"Aku tak bisa memastikan, mungkin rumor dia harusnya kau melihatnya sendiri." Apa ini ada hubungannya dengan adikku menghindar bertemu beberapa hari ini.


"Kau benar-benar membuatku khawatir sekarang." Aku tak bisa makan malam lagi sekarang, rasanya aku sudah kenyang.


"Temui dia untuk memastikan."


"Kau mau membantuku? Apa kau bisa? Berapa biayamu? Atau apa yang kau inginkan?" Dia menimbang pertanyaanku.


"Aku belum pasti apa yang kuinginkan, nanti saja kita bicarakan..."


"Kenapa kau mau membantuku?" Apa motivasi pria ini membantuku.


"Aku memang punya masalah dengan Gianni..."


"Hanya itu? Kau membantuku karana kau bermusuhan dengan Gianni, aku sekarang belum punya uang, ada mungkin, tapi mungkin tidak cukup untuk membayarmu...


"Aku tak butuh uangmu. Aku hanya muak melihat Gianni bertindak dia seolah pemilik dunia. Dan kau perlu uangmu untuk mengeluarkan Ayah dan adikmu nanti." Dia memberiku kartu namanya.


"Telepon aku. Kau mungkin harus melihat adikmu sebelum terlalu malam."


Aku mengambil kartu namanya.


"Aku pergi. Aku akan meneleponmu." Aku pergi segera untuk memastikan apa Valentina baik-baik saja.