The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 22. We're Friend Only 2



“Amanda... Kejutan melihatmu disini.” Seorang gadis cantik menghampiri kami, rambut bergelombang ditata sedemikian rupa, makeup sempurna untuk wajah  cantiknya. Hidup mungkin lebih mudah untuk gadis-gadis  cantik seperti ini, mereka punya previlage yang tidak dipunyai orang lain. Aku tak mengatakan diriku jelek, aku hanya tidak manis, manja seperti  mereka, dan lebih suka terlihat acuh pada pria, memang duniaku tak sama dengan mereka. Aku mengalihkan diriku dari gadis itu dan membiarkan diriku menikmati coktail di tanganku, aku tak melihat pada Fabian.


“Aku selalu bertanya kapan  kau datang ke Catania, bertanya ke Messi juga . Kau tak meneleponku,... Kau jahat.” Dia mengatakan itu sambil memukul pundak Fabian. Suara manjanya membuatku marah, dia menganggu pembicaraan kami, apa previlage itu mengajarkannya untuk menjadi sombong dan tidak tahu sopan santun. Gadis muda yang sombong.


“Mungkin lain kali Amanda... Aku cukup sibuk belakangan.”


“Liburan akhir tahun nanti. Kau tak mengajak kami liburan lagi ke Monaco lagi...” Hmm Don Juan, gadis-gadis memujanya seperti merindukan mengu*lum per*m(en. Tak salah aku menggolongkannya ke kelasnya Guilio. Basta*rdo  absolute.


“Tidak, aku sibuk.” Kali ini dia menjawab  tegas. “Ini Monica, temanku, aku sedang bicara dengannya, mungkin lain kali kita bisa bicara Amanda.”


“Kau mengusirku, kau jahat...” Gadisnya merajuk. Mereka bisa membuat suara menggemaskan, sangat lucu. Kadang aku mengagumi kemampuan mereka untuk merayu para  pria. Membuat ego mereka diatas, tapi sepertinya Don Juan ini sudah terlalu ahli bagaimana cara menangkal rayuan seperti ini.


“Aku sedang bersama temanku. Maafkan aku, kembalilah bersama temanmu.” Benar bukan, dia tahu bagaimana menghindari mereka, jika dia sedang ingin menanggapinya maka dia akan menanggapimu, tapi jika dia sedang tak  menganggapmu maka dia akan memilih mengabaikanmu.


“Baiklah. Aku pergi.” Dan gadis itu akhirnya menyerah. Dan akhirnya tak sekalipun dia memberikan salam padaku.


“Maaf, cuma penggangu tak penting.”


“Kau tak marah padaku kan.” Aku  meringis.


“Kau boleh marah, itu namanya menginterupsi pertemuan  bisnis. Gadis itu tak punya manner, dia bahkan tak menyapamu saat aku mengenalkanmu.”


“Hmm...mereka punya previlage untuk merasa cantik dan tidak memperdulikan orang dibawah mereka. Aku sudah mengenal perilaku itu sejak aku adalah teman Guilio...”



Aku sering dibully oleh wanita cantik karena kedekatanku dengan Guilio sejak SMA, lama-lama aku bahkan menikmatinya. Kadang aku sengaja memperlihatkan aku bisa mendekati Guilio dengan bebas, tanpa perlu berusaha terlalu keras seperti mereka, Guilio  juga kadang  tidak menyadari permainanku,  aku tak pernah berniat mengejarnya tapi dengan sadar aku membuatnya nyaman karena aku tak mengejarnya, kebal dengan pesonanya , bahkan berpura-pura teraniaya agar Guilio membelaku sebagai temannya yang berharga.


“Rupanya begitu. Kau dan Guilio itu nampaknya memang teman yang aneh.”


“Dia teman yang  loyal. Mungkin dia hanya nyaman padaku,  karena aku  satu-satunya gadis yang bisa memarahi dan menendangnya tanpa memandang ketampanannya itu. Serius aku melakukan itu...” Fabian tertawa sekarang.


“Baiklah, aku percaya  padamu walaupun itu sedikit aneh. Jadi kau benar-benar tidak menganggapnya.”


“Bukan tak menganggapnya, aku sudah tahu aku mencari sakit  hati jika terlibat dengannya, jadi aku sudah mengecapnya jelek untuk soal  wanita, dan memasang sikap tidak perduli padanya dan berhasil  sampai sekarang.”