
"Tapi..." Dia mengangkat tangannya menghentikan kata-kataku.
"Kau sudah kami anggap orang sendiri bukan orang luar. Louis sudah merepet aku memastikan keamananmu, tak akan lama kau bisa kembali ke rumahmu lagi. Mereka akan menyelesaikannya dengan cepat. Nanti John yang akan menjemputmu ke hotel dan mengurus pengawalanmu beberapa hari kedepan. Pengurus rumah sudah diberitahu. Oke..."
Aku tak bisa membantahnya lagi sekarang. Berapa lama dia akan berada di LA. Rasanya tak nyaman tinggal satu atap dengannya. Apa aku begitu dihargai.
Akhirnya malam itu aku benar-benar dijemput ke hotel dengan pengawal dan segala macam pengawalan. Jam sembilan malam aku sampai di rumah pinggir pantai itu.
"Nona Nathalie, saya Rosa, kita pernah bertemu sebelumnya." Aku memang pernah bertemu wanita gemuk yang ramah itu. " Tuan Nathan bilang kau akan datang. Biarkan Mia membantumu dengan kopermu. Kudengar kau dikirimin pembunuh Nona..."
"Iya begitulah..." Dia membantuku memberereskan koperku sambil bercerita.
"Tuan Nathan disini?"
"Dia tadi sudah sampai duluan dari Nona. Saya diberitahu assisten pribadinya tadi dia sampai kesini jam 10 pagi tapi langsung ke kantor, mungkin dia sudah tertidur, ini jika di NY sudah jam 1 malam."
"Ahh ya kau benar Rosa, aku benar-benar segan aku disuruh tinggal disini."
"Sir Nathan mungkin tak banyak bicara, tapi dia orang yang ramah dan baik ke teman-temannya jika kau sering bicara akrab dengannya, kulihat Nona lebih dulu akrab dengan Tuan Alan dan Louis, kadang mereka kesini jika sedang ada kunjungan berbarengan dengan Tuan Nathan."
Itulah masalahnya. Antara aku ingin menganggap mereka teman tapi tak bisa, aku harus meninggalkan mereka dan akhirnya dibenci. Aku selalu merasa penyusupan kali ini rasanya berat sekali.
Kamar tamu luas itu ditata dengan pantas, dengan nuansa biru dan kehijauan. Penghormatan Tuan rumah kepada tamunya. Tapi suara laut belakang rumah sana membuatku turun dan ingin pergi ke balkonnya yang indah.
Aku duduk merapatkan kamisolku membuka pintu geser balcony mengagumkan itu. Duduk di bangkunya mendengarkan samar suara ombak didepan sana.
Kehidupan sempurna para millionaire ini mengagumkan. Tapi bagiku rumah di perdesaan dengan kebun luas kelihatannya tetap sangat menggoda. Entah apa aku berhasil mewujudkannya atau tidak.
"Menyukai suara ombak?" Tiba-tiba seseorang duduk disebelahku.
"Sir Nathan, apa ini tempat favoritemu, apa aku menganggumu disini?" Ini rumahnya aku takut menganggunya, tinggal di rumah boss-mu sendiri ini benar-benar membuatmu sungkan.
"Panggil Nathan saja. Duduklah, aku tak terganggu apapun, kenapa kau begitu takut mengangguku, kau tamuku..." Dia tersenyum kecil. Melihat dia tersenyum di kantor itu jarang, kau harus ada di tempat yang tepat.
"Aku benar-benar sungkan disini... Ini rasanya terlalu... menganggumu."
"Kau ini sopan sekali, jika itu wanita lain mereka akan memanfaatkan kesempatan." Dia tertawa dengan kata-katanya sendiri.
"Saya tidak ... Saya benar-benar tidak punya maksud begitu. Apa saya pergi saja?" Jika aku jatuh cinta padanya akan menjadi bencana itu tak boleh terjadi. Teman saja sudah membawaku ke posisi canggung dan merasa sebagai pengkhianat besar. Kenapa penyusupan kali ini membuatku merasa sangat bersalah.
"Kau tak trauma bukan bekerja padaku?"
"Jika ini gara-gara Elizabeth Eiles, aku akan membawanya ke penjara, dia yang harusnya trauma bukan aku."
"Kelihatannya memang dia, Enrique tidak punya uang lagi, tidak punya nyali, kau menghancurkan hidup Elizabeth Eiles, semua kebanggaannya."
"Baguslah, dia juga menghancurkan hidup orang lain sebelumnya."
"Kita akan tahu segera." Dia melihatku. "Tapi kau hebat bisa memikirkan menembak penyerangmu. Keputusanmu itu yang menyelamatkan nyawamu."
"Aku memang pintar." Dia tersenyum."Dan tak punya rasa takut nampaknya, kau terlihat baik-baik saja." Aku tertawa.
"Kenapa pertanyaan Sir Diego dan kau sama saja, kenapa kau bisa baik-baik saja? Seakan aku harus histeris dan menangis seharian. Kau pikir aku punya waktu menangis saat pembunuh itu datang ke kamarku. Jika aku hanya menangis disana dan menunggu polisi kalian sudah pergi ke pemakamanku sekarang." Aku marah-marah sekarang.
Nathan tertawa. Sekarang kenapa aku senang sekali melihatnya tertawa wajahnya yang sendu itu berubah menjadi lebih ceria sekarang.
"Baiklah-baiklah, aku tak akan tanya lagi. Aku hanya berjanji padamu kita akan mendapatkan bukti pelakunya segera. Puas."
"Terima kasih boss."
"Sudah 7 bulan disini, belum punya kekasih."
"Pertanyaan apa itu. Kekasih itu bukan syarat untuk orang berbahagia." Aku melihatnya, termenung sesaat menatap kedepan, itu tunangannya, hampir menikah, sepertinya Amanda itu memang menghancurkan hatinya. "Kalau Amanda begitu berarti kenapa tak memaafkannya."
"Itu bukan hal yang bisa dimaafkan, kepercayaan tak akan pernah sama setelah dihancurkan. Seperti duri dalam daging."
"Hmm..." Jika dia tahu dia tak akan pernah memaafkanku. Setelah ini selesai aku akan menghilang saja sejauh-jauhnya.
"Apa kau akan memaafkan kekasihmu yang mengkhianatimu dengan berselingkuh?"
"Tidak." Jawabanku singkat.
Aku berharap dimasa depan akan melupakan ini. Melupakan pernah melalui kasus ini. Melupakan pembicaraan kami di pinggir pantai ini. Aku hanya akan pergi. Aku bahkan tak pantas berada disini.
Andai aku bukan seorang mata-mata.
Mungkin aku akan menganggap mereka keluarga keduaku disini.