The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 89. Amateurs 1



Nathan menelepon calon Ayah mertuanya itu setelah mendapat laporan dari timnya.


"Sir, aku menyiapkan back-up empat orang, ada safe house yang bisa kau akses untuk interogasi nanti. Kita tak tahu berapa orang dengan persiapan sesingkat ini. Mereka akan mempersiapkan transport dan yang lain." Nathan mempersiapkan back up, dia merasa dua orang tidaklah cukup. Interogasi memerlukan tempat tersendiri.


"Ohh unitmu bisa mengakses tempat interogasi sendiri, tadinya aku ingin meminta bantuan seorang teman. Bagus-bagus, aku ingin mencoba kekuatan generasi sekarang. Cecunguk-cecunguk ini perlu mencoba interogasi metode lama supaya lebih lancar bicara."


"Mungkin kau harus menggunakan kevlarmu Sir, ini musim dingin mudah menyembunyikannya dalam jaket lebih tebal, untuk berjaga-jaga, apa kau masih punya, jika tidak aku akan mengantarkannya malam ini." Nathan memberikan saran tapi tak berusaha menggurui seniornya itu.


"Aku punya. Tak usah khawatir...mereka tak akan membunuhku, jika mereka mau membunuhku, mereka punya banyak kesempatan tak usah melakukan survey merepotkan. Tapi memang kau benar kita tidak tahu berapa orang. Orangmu sudah berhasil diam-diam menempelkan pelacak ke mobil itu. Kita tidak akan melewatkan apapun. Kau tenanglah ini bukan hal yang terlalu merepotkan akan selesai dengan cepat. Aku yakin." Nathan bukan petugas lapangan, dia memgerti jika pacar putrinya itu agak khawatir padanya.


"Baik jika begitu Sir."


Orang-orang suruhan ini cukup amatir menurut pengamatan Daniel, tak mungkin mereka menjadi terlalu menyulitkan.


Pagi yang terlihat biasa saja di depan toko Daniel Heatherton, tapi tentu ada yang tak biasa van yang mengawasinya sudah tak ada. Van itu terlacak sudah berada di dekat taman. Mereka akan beraksi hari ini, menunggu orang tua yang mereka sangka lemah itu lewat.


'Kalian sudah siap?' Dia mengirimkan pesan ke dua pengawas yang Nathan kirimkan.


'Kami sudah siap Sir, kami sudah melihat ada 2 orang mondar-mandir disini. Kami sudah siap ditempat. Menunggu perintah Anda.' Apa yang dia perkirakan benar. Dalam lima hari survey dan mendapat pola yang sama maka mereka akan bertindak sekarang. Saatnya membuat gerakan kejutan.


'Harusnya ada 1 orang lagi yang akan mengikutiku dari belakang dan 1 orang di van.'


'Benar sir, kami sudah melihat posisi van Fast Clean itu di dekat taman yang akan Anda lewati, satu orang dari kami akan membereskannya begitu Anda mulai memasuki titik temu dengan mereka...'


'Bagus dalam 10 menit aku akan mulai berjalan, dalam 25 menit sampai ke sana. Begitu aku masuk taman suruh dua orang yang lain melumpuhkan orang di van."


'Mengerti Sir.' saluran komunikasi tetap terbuka. Sementara dia menyamarkannya dengan tutup kepala yang menutupi telinganya di pagi yang cukup dingin itu.


Ada empat orang, dia yakin dia bisa mengurus cecunguk-cecunguk hijau yang tak tahu siapa dirinya ini dengan cepat. Dia mulai kembali ke rutinitas.


"Kenney, mana kesini aku mau jogging, kau sudah membawa barang yang kemarin?"


"Sudah Sir. Alan yang menerimanya tadi." Daniel memberikan stamp penerimaannya di form pengantaran barang itu.


"Ini." Dia melakukan kegiatan seperti biasa, tak ada yang berubah, karena dia tak tahu dari mana mereka mengawasi. Hanya tahu dimana mereka akan menyerang.


Daniel Heatherton mulai berjalan ke taman seperti biasa, pura-pura berlari 30 detik dan berjalan kaki sisanya, supaya dianggap orang tua biasa yang lemah.


Tempat yang di lewatinya adalah jalan pintas taman yang punya jalan setapak kecil yang agak tersembunyi rimbunan pohon dan semak yang menguning yang masuk ke dalam pagar taman, dan keluar di ujung jalan yang lain, sedikit orang yang tahu, cuma lintasan kecil sejauh seratus lima puluh meter dan karenanya sangat cocok untuk penyergapan seseorang karena sepi dan jarang dilalui.


Satu orang mengikutinya dari belakang dari semenjak dia keluar dari tokonya, sementara dua yang lain akan ikut menyergapnya di taman itu. Dia melihatnya dari pantulan kaca marka jalan, kadang dari bayangan kaca bangunan pertokoan yang di lewatinya, sama sekali tak usah melirik kebelakang sehingga yang mengikutinya curiga, dia tahu satu orang itu ditugaskan memastikan arahnya sehingga pencegatnya bisa masuk tepat waktu dari sisi lainnya.


Daniel memasuki jalan setapak itu, segera dua orang tambahan memasuki kedua ujungnya. Ada 3 orang akan memastikan dia disergap.


"Sir, depan satu dan belakang dua." Suara pengamat yang mengambil tempat di sebuah gazebo yang agak tinggi di ujung taman memberi tahu.


Dalam hitungan detik kemudian mereka telah cukup dekat. Daniel tidak bergeming dia tetap tenang dan berjalan gak cepat seperti biasa saat dia jogging.


"Old man ikut dengan kami, ..." Seorang yang ada didepannya langsung berbicara dan menghalangi jalannya. Dan dalam sekejab dia mengubah jalannya menjadi posisi penyerangan. Daniel menyembunyikan brass knuckle (besi tinju yang dipasang di jari-jari tangan) khusus untuk memperoleh impact yang dia inginkan.


"Now!" Kata-kata itu adalah tanda untuk dua orang yang bersembunyi sisi lain pagar hijau samping jalan untuk masuk. Tiba-tiba mereka meloncat masuk dan memburu dua orang di belakang dari belakang mereka.


Sementara dua orang itu kaget tiba-tiba ada dua orang yang mengurung mereka dari belakang. Belum lagi merela terpaku karena rekan mereka tiba-tiba terkapar. Daniel hanya melambai ke mereka sebelum mengeluarkan taser gunnya dan kabelnya menancap ke kulit penyerang didepannya.


"Sial!" Tapi kata-kata itu tidak cukup karena sekarang posisinya adalah 3 lawan 2, mereka tak bisa lari kemana-mana.


"Kau tahu kami mengikutimu?" Dia bicara berharap satu orang yang merupakan backup ikut membantu, yang mereka tak tahu adalah sebenarnya dia sudah dibereskan dan diikat di van nya sendiri.


"Aku hanya pria tua biasa. Kalian kenapa harus mencegatku disini." Dua orang dibelakang mereka tak menunggu aba-aba untuk memulai menyelesaikan pertarungan.


Dalam sepersekian detik berikutnya. Kabel senapan taser melayang ke arah tengkuk mereka sementara perkataan Daniel selesai. Cara tercepat untuk menyelesaikan perkelahian. Efektif, cepat dan aman, tanpa banyak mengeluarkan tenaga, menjamin hasil, karena sekarang Daniel tak suka rencana yang memakai pertarungan, jika bisa dia akan memakai cara tanpa mengeluarkan tenaga, tiga orang semuanya pingsan tanpa perlawanan.


Mereka menyelesaikan semuanya dengan cepat. Mereka sekarang mengikat, membungkam mulut para korban yang semuanya sukses pingsan itu dan van sudah bersiap diujung sana untuk menjemput korban. Satu orang lagi segera datang untuk membantu mereka memanggul korban sejauh 50 meter kedepan. Daniel tinggal melihat para anak muda itu bekerja dengan cepat.


"Sir, ikut ke safe house?"


"Tentu saja, aku tak akan melewatkan bagian interogasi." Orang-orang Nathan tertawa.


"Menyiksa orang adalah seni Sir." Mereka melemparkan orang terakhir ke van operasi mereka. Mengikatnya lagi di dalam agar tak menyusahkan. Ada tiga orang di belakang sekarang dan dua orang mengawasi mereka.


Daniel duduk didepan disamping salah seorang anggota yang bertindak sebagai supir, sementara satu lagi datang dengan sepeda motor. Dia akan mengikuti mereka di belakang.


"Ayo pergi..." Daniel tersenyum puas karena hari ini ternyata dia masih bisa mematahkan rusuk seseorang dalam sekali pukul. Latihan staminanya masih berguna ternyata.


"Berapa lama?" Dia bertanya kepada sopir yang bernama Liam itu.


"Safe house kami agak terpencil dipinggir kota Sir, di Katonah mungkin 45 menit perjalanan..Semoga tidak terlalu macet..."


"Berarti banyak ruangan kedap suara dan ada faselitas penahanan?" Daniel suka ini, berarti dia bisa melakukan banyak hal pada tahanannya untuk memperoleh informasi. Tapi dia bertaruh orang-orang ini akan gampang dikorek.


"Benar Sir, kami kadang menghabiskan waktu libur disana juga. Itu daerah yang tenang jarak satu rumah ke yang lain jauh, cluster penahanannya menjamin kita bisa melakukan apapun."


"Bagus..."


"Anda hebat Sir, pukulan Anda masih seperti masa muda Anda." Daniel tertawa mendengar pujian itu


"Tidak aku tadi memakai knuckle, aku sudah tua. Bukan anak muda seperti kalian lagi."


"Tetap saja Sir, itu tak bisa dilakukan tanpa latihan. Sir Nathan bilang Anda senior yang dihormati, kami harus belajar banyak hal dari Anda, strategi Anda jitu, efektif dan taser itu sangat berguna. Ini penyergapan tercepat saya. Bahkan tak perlu terlalu banyak usaha..."


"Cecunguk-cecunguk dibelakang sudah terlanjur meremehkanku. Kita menang di elemen kejutan, mereka pikir mereka bisa menyeret kakek tua renta ini dengan mudah. Jadi mereka tidak membuat persiapan yang memadai. Kita setengahnya beruntung kukira."


"Saya rasa Anda yang terlalu pintar berakting dan menyadari Anda diawasi." Liam yang berada di belakang setir tertawa.


"Mereka bahkan memarkir van mencolok mereka hanya 20 meter dari tempatku. Siapa yang menelepon jasa pembersih di jam 7 pagi. Amatir... melakukan survey hari pertama saja langsung ketahuan." Daniel tertawa sementara uang mereka bahas di belakang sana sukses pingsan.


"Anda memang sudah terlatih memperhatikan sekitar Anda Sir."


"Iya mungkin aku sudah terlatih sejak lama, amatir begini mudah kukenali." Daniel diam sebentar dia ingin mengorek tentang calon menantunya itu.