
"Aku tak mau pergi Kak." Adik kecilku yang berumur 27 tahun itu menangis meraung-raung di pundakku sementara tukang pukul dan Andriano Gianni menunggu didepan pintu kamarnya.
"Aku akan mencari cara untuk membawamu pergi Valentina, ... Kakak berjanji, kau tak akan pergi kemana-mana" Aku berbisik padanya.
"Nona jika kau jadi wanitaku kujamin hidupmu enak. Apa yang kau takutkan, kau harusnya merasa beruntung aku membawamu ke tempatku. Aku punya apartment bagus untukmu tinggal." Adriano Gianni sekarang yang bicara didepan pintu kamarnya, aku sangat membenci mafioso penjerat ini.
"Penjarakan Ayahku saja, dia yang berhutang kenapa harus adikku yang menanggung! Kau sengaja mengincar adikku!?" Aku sekarang menudingnya terang-terangan.
"Tubuh Ayahmu tak berguna untuk dipenjarakan! Kau pikir aku memberi uangnya untuk ke sia-siaan?! Apa gunanya tubuh renta sakit-sakitan Ayahmu? Aset kalian dilelang pun kalian tak bisa membayar hutang kalian, aku sudah baik hati melihat Ayahmu yang sudah sakit-sakitan dan memberi kalian tempat tinggal sementara dan tidak menjual restoran kalian."
Bella Hadid as Elizabetta Canalis
---------###
Tukang pukul itu lebih kejam dari pada penjagal, dan lebih kejam lagi adalah Adriano Gianno, dia memberi pinjaman dengan mudah tapi dengan bunga tak main-main, berakhir dengan orang tersebut harus merelakan asset yang dijaminkannya, dalam kasus ini dia menargetkan adikku sejak semula.
Dia berpura-pura jadi teman dan tahu-tahu Ayah yang tidak punya Ibu disampingnya sudah menandatangani perjanjian dengan bunga mencekik leher yang menggulung selama bertahun-tahun. Aku pulang ke rumah dan menemukan kenyataan pahit ini.
Adriano Gianni, laki-laki mafioso 42 tahun itu punya reputasi buruk dengan banyaknya wanita yang menjadi wanitanya di Milan. Dia punya segalanya, harta, tahta, wanita. Dan sekarang adikku harus menjadi penganti pembayaran hutang Ayahku. Laki-laki ini sungguh iblis yang tak punya hati.
"Aku bisa mengusahakan membayarnya sisanya dengan dicicil, kenapa kalian harus mengambil adikku!"
"Ohh baik, kuhentikan bunganya sekarang dengan jaminan adikmu, kutunggu sampai kau bisa mencicil hutangmu! Kau bicara mau mencicil hutangmu? Apa kau punya kemampuan?! Kau uruslah restoran kalian itu dengan baik! Kau mau bayar dengan apa?!" Dia menunjukku dan aku mundur. Aku tahu kebenaran kata-katanya sekarang.
"Bagaimana jika kau tutup saja mulutmu dan rawat Ayahmu Elisabetta Canalis! Aku tak memasukkan Ayahmu ke penjara saja kau harusnya bersyukur, dia akan langsung..." Dia dengan bengis menunjuk tanda memotong leher dengan tangannya.
Di balik wajah tampan dan sukses seorang Adriano Gianni adalah penghisap darah dan pengambil keuntungan yang keji. "Kuberi dia waktu setengah jam! Tak usah membawa apapun bisa, akan kuberi dia uang membeli segala sesuatunya. Kalian harusnya berterima kasih padaku!"
"Jadi kalian pilih sekarang, adikmu ikut denganku atau Ayahmu kukirim ke penjara? Jawab sekarang?!" Aku diam tak bisa menjawab.
"Aku ikut denganmu." Adikku muncul dari kamarnya dengan mata sembab. Tapi dia berhenti menangis.
"Valentina..."
"Aku akan membayar ini Kak, Dad sedang sakit, sudahlah...aku bisa menghadapi ini. Paling dia juga akan bosan dalam satu dua tahun denganku. Satu dua tahun tak apa... Kita akan menemukan jalan kita lagi. Kau lebih bagus mengelola restoran dulu ada kau Ayah lebih baik. Jagalah Ayah, kau tahu ...ini seperti tekanan bertumpuk karena banyak hal, kita tak bisa menyalahkan Ayah." Dia berbisik padaku. Adikku berusaha tegar didepanku. Tapi aku tahu itu tak semudah kelihatannya.
Gigi Hadid as Valentina Canalis , Bella Hadid as Elisabetta Canalis
#####\=\=\=\=\=\=######
Yang bisa kulakukan sekarang hanya menangis melihat adikku harus pergi hanya dua bulan setelah kepulanganku lagi ke rumah ini.
"Hidupku sudah berakhir kakak. Mana mungkin Ayah dan kakak bisa melunasi hutang dan bunga sebesar itu." Adikku yang cantik itu terus menangis dan memelukku dengan dua bulan yang lalu saat aku kembali ke Milan. Aku tak tahu bagaimana menenangkannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi..." Aku tergangga ketika pertama Valentina memberitahu apa yang terjadi di rumah kami.
"Aku baru mengetahui Ayah terlibat hutang setahun yang lalu kak, kupikir semuanya baik-baik saja kecuali dia yang sejak kematian ibu banyak menyendiri. Dia membuka satu cabang lagi di Barona, dan hasilnya tak begitu baik. Kurasa ...dia juga berjudi. Dan inilah hasilnya ...hutang tak terbayar, bunga menggunung dan aku bahkan takut melihat rincian jumlahnya." Valentina mengatakan semuanya padaku sekaligus memperlihatkan semua rincian hutangnya. Jika kami menjual restoran dan rumah kami pun jumlahnya tak akan mencukupi.
"Kita akan mencari caranya...Apa kakak pernah mengecewakanmu Valentina, kakak akan mencari cara. Kau harus percaya pada kakak, walau kakak juga tak tahu bagaimana, kita akan menemukan caranya..."
Entah bagaimana hutang usaha Ayah menjadi begitu besar, sejak kematian Ibu empat tahun lalu, keluarga kami jungkir balik. Ibu yang sebenarnya menjalankan banyak keputusan bisnis restoran, sementara Ayah yang membantunya. Kehilangan Ibu sama dengan kehilangan nahkoda, dan kondisi Ibu dengan cepat menurun karena kangker paru dan kami kehilangan Ibu hanya setahun setelah diagnosis, Ayah limbung dan banyak membuat keputusan salah.
Bisnis tak terurus bertahun-tahun ini dan Ayah membuat keputusan bisnis buruk di restorannya dan meminjam dari Adriano Gianni terlalu banyak. Kurasa dia juga berjudi tapi tak mengakuinya pada kami. Tapi sekarang dia terbaring di rumah sakit, apa kami bisa menyalahkannya.
"Kakak, aku tak mau menjadi wanitanya..." Dia masih terus menangis.
"Kakak akan cara melunasi hutang ini. Pasti ada cara..."
"Bagaimana mungkin! Kita sudah terperangkap dari sejak aku melihatnya tiga tahun lalu aku tahu dia tak bisa dipercaya." Kenyataannya adalah pria kurang ajar itu sudah melihat adikku beberapa saat sebelum membujuk Ayahnya menandatangani surat hutang begitu besar.
Pria itu mengincar adiknya dan membuat Ayahku menandatangani surat hutang yang terlalu besar untuk ditanggungnya.
Dua bulan lalu saat aku pulang ke rumah aku dalam proses bercerai dari suamiku karena dia pernikahan kami sudah tak dapat dipertahankan, dia selingkuh saat kami memasuki usia perkawinan ke lima. Lebih tepatnya dia sengaja memperlihatkannya padaku, mungkin karena aku mempunyai masalah dengan kandunganku, dia merasa aku tak bisa memberinya keturunan. Dan sudahlah terlalu banyak yang salah kemudian terjadi diantara kami.
Aku menyerah mempertahankan pernikahan kami, kami memutuskan bercerai di usiaku yang ke 33 dan aku kembali ke rumah Ayahku di Milan. Dan inilah masalah yang kutemui setelahnya.
Bagaimana aku harus menyelesaikan ini. Aku benar-benar tak tahu, bagaimana nasib adikku, rasanya kepalaku mau pecah sekarang!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=