The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 33. Loss the Brake 2



"Maaf Nona, mobilmu akan ringsek."


"Lakukan saja asal kita selamat." Jika aku tak selamat siapa yang akan menjaga Valentina dan Papa. Ya Tuhan kumohon selamatkan kami. Doaku satu-satunya sekarang.


"Lindungi kepalamu Nona. Aku mulai!" Bersamaan dengan itu mobil yang lain mulai memepet kami. Aku menaruh tanganku di kepala sebagai bantalan guncangan dan Juan mulai mengambil posisi  sudut tumpul untuk menggesekkan mobilku ke pembatas jalan tapi tak menabraknya. Bunga api tercipta sementara suara gesekan antara logam membuatku memejamkan mata. Kami melambat pada percobaan pertama tapi belum bisa  berhenti sepenuhnya.


“Aku akan mencoba lagi, kali ini pepet dan tahan aku.” Percobaan kedua mobil Jose sekarang memepetku kami menambah daya geseknya. Dan  akhirnya setelah beberapa belas meter mobil kami bisa berhenti. Akhirnya!Terima kasih Tuhan aku masih hidup.


“Nona kau baik-baik saja.” Juan bertanya padaku.


“Ya aku baik.” Mobilku pasti rusak parah sekarang, tak bisa dielakkan lagi.  Aku keluar melihat kerusakan mobilku. Astaga mobil ini harus masuk bengkel lama.


Orang-orang berhenti di jalan melihat mobil  kami, sementara tak jauh rupanya ada patroli polisi yang menolong kami. Kamu ditanyai beberapa saat dan mobilku sekarang bukan berada di bengkel tapi akan dibawa ke kantor polisi.


“Selang remnya pasti diputus, kami akan memeriksa mobilmu Nona, kau bermasalah dengan seseorang Nona?” Polisi meminta keterangan dariku.


“Aku sekarang dalam kasus melawan Adriano Gianni, jika kau memperhatikan berita...”


“Ohhh,  aku merasa pernah melihatmu dimana, ternyata kau yang di berita. Baiklah. Ada lagi? Apa kau pernah menerima ancaman.”


“Baru sejam yang lalu aku menerima telepon  dari orang tak kukenal Pak Polisi, dia mengancamku dan mengatakan aku wanita jahat. Sebenarnya ada wanita yang sedang dekat dengan mantan suamiku...”Aku memperlihatkan catatan telepon yang baru kuterima tadi dan apa yang pria itu ucapkan. Walau  aku tak bisa serta merta menyimpulkan bahwa telepon itu berasal dari orang yang mengenal Silvia, tapi aku curiga karena dia satu-satunya orang yang memanggilku ular.


“Aku akan mencatat itu sementara, besok kau harus melapor ke kantor, akan ada penyidik yang  meneleponmu segera...”


“Baik officer.”


Aku pulang dengan menumpang mobil yang dibawa  pengawal lain akhirnya.


“Kita harus segera kembali dan melihat kamera keamanan, berikan pada kami nomor laki-laki yang meneleponmu Nona,kami akan segera menyelidiki ini sendiri.”


“Kalian tidak menunggu polisi?”


“Menunggu polisi akan memakan waktu lama. Kami harus  punya bahan laporan ke Tuan Bova segera  karena kami bertanggung jawab atas keamananmu.” Mereka mengantarku, hanya Juan  yang kemudian tinggal di apartment kemudian, sementara mereka pergi meneliti kamera keamanan.


“Istirahat saja Nona. Kita akan menemukan segera siapa yang bertanggung jawab.” Aku beristirahat malam itu diiringi rasa syukur bahwa aku masih bis melihat matahari pagi.


\=\=\=\=\=*****\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


POV Bova.


“Sir, mobil Nona Eliza disabotase. Rem mobilnya blong....” Sebuah laporan lewat jam tengah malam membuatku mengerutkan kening dan sekaligus khawatir sekarang. Jose menceritakan semua peristiwa yang terjadi.


“Lalu bagaimana keadaannya?”


“Nona Eliza baik-baik saja Tuan, kami berhasil menghentikan mobil segera setelah saya menyadari remnya blong. Hanya mungkin mobil Nona sekarang ditahan di kantor polisi. Tapi Nona tidak cedera. Dia sudah kami antar kembali kw rumah setelah urusan dengan polisi selesai...” Syukurlah Vanilla tak terluka.


“Bagaimana itu bisa terjadi. Kalian mendapatkan tersangka?”


“Kami mendapatkan tersangka di kamera pengawas, tapi untuk mengetahui siapa yang  disana kami perlu waktu Tuan."


"Baiklah kerjakan secepat kalian. Kali ini kalian teledor, bagaimana bisa orang mensabotase mobilnya. Padahal itu di parkir di dekat restoran."


"Kami mengerti, belakangan kami sebenarnya berpencar mengawasi sekeliling restoran. Ada orang mencurigakan yang selalu tertangkap berada di samping restoran dan kami curiga itu mata-mata Gianni. Kami teledor mengawasi mobil Nona."


"Ada orang mencurigakan berkeliaran di samping restoran?"


"Kami akan memastikannya segera Tuan. Kukira dia mata-mata Gianni. Untuk mengawasi Nona dan melihat dengan siapa saja dia bertemu."


"Gianni seharusnya tak akan bisa bertindak macam-macam sekarang. Taringnya sudah dilucuti untuk sekarang. Yang penting kalian tak kecolongan lagi. Dan secepatnya temukan orang itu."


"Mengerti Tuan. Secepatnya kami akan mengurusnya."


Aku ingin menelepon Eliza menanyakan keadaannya tapi kemudian kuurungkan. Dia perlu beristirahat. Besok aku akan menemuinya di apartmentnya saja.


Sebuah telepon dari Tuan Armando masuk.


"Saya hanya ingin laporan, Juan melaporkan bahwa Nona Eliza kecelakaan, saya akan menggunakan ini untuk membuat berita juga walau tidak menyudutkan? Tapi cukup membuat segala percobaan apapun dari Gianni berenti. Kudengar dari Juan kemungkinan mereka mendapat pengintai di sekitar restoran."


"Iya lakukan. Aku rasa aku tak akan bersembunyi lagi sekarang. Aku akan terang-terangan melindungi Eliza dari Gianni. Mereka sudah kehilangan taringnya sekarang. Karier politik patriarchnya tidak akan bisa berkembang setidaknya dalam 2x pemilihan ini. Dan Pamanku, Vittorio Bova sudah mendapatkan cukup banyak dukungan orang partai karena peristiwa ini."


Aku tidak akan menempatkan Eliza dalam bahaya lagi, jika tidak aku akan terlambat menyesal jika sesuatu hal terjadi padanya.


"Saya mengerti Tuan."


Dan besok aku tak akan lagi bermain dengan kata teman. Sudah cukup kami mengatakan mereka teman, sudah cukup masa penjajakan ini.


Sekarang waktunya untuk hubungan sebenarnya.


\=\=\=\=\=*****\=\=\=\=\=\=


POV Eliza


“Kau baik-baik saja?” Don Juan dan Tuan  Armando muncul pagi ini di ruang tamu, pasti Juan yang  membiarkan mereka naik. Aku samar-samar memang  mendengar orang bicara diruang tamu tadi, tapi kupikir Jose dan teman-temannya, aku  tak tahu Bova dan Tuan Armando akan muncul di sini.


“Aku tak tahu kalian  disini?” Aku baru keluar kamar dan akan berangkat ke tempat kerja lagi dan dia sudah duduk diruang tengah dengan Jose.


“Baik, berkat mereka akhirnya aku bisa berhenti dengan aman. Kalian sudah lama disini?”


“Terima kasih.” Aku duduk disampingnya, tersenyum dan melihat padanya.


“Syukurlah kau tak apa.” Kali ini dia  merangkulku, membuatku tersenyum menerima perhatiannya. “Mereka sudah menemukan seseorang yang mencurigakan dari hasil CCTV.” Aku diperlihatkan rekaman yang sudah mereka copy di laptop mereka.


“Nampaknya laki-laki Nona Eliza, mungkin orang ini adalah orang yang sama yang mengancammu, kami akan segera mengetahuinya setelah menyelusuri nomor teleponnya.” Mereka menunjukkan gambar tak jelas yang mereka dapat, seorang pria berkeliaran di dekat mobil. Lalu menghilang ke bawah dan tampak  pergi kemudian.


“Kalian bisa melacak nomor teleponnya?”


“Bisa tenang  saja Nona kami punya cara melacaknya, jika ponselnya tak dibuang. Tapi kukira dia tidak bodoh juga, jika dia berani melakukan ini pasti ponsel dan kartunya tidak akan digunakan lagi. Kami harus bekerjasama  dengan polisi melacak wajahnya jika begitu. Pastï ada kamera lain yang merekam wajahnya di sekitar wilayah ini.” Tuan Armando yang bicara  sekarang.


“Tak mungkin ini orang Gianni?”


“Kurasa mereka akan sangat berhati-hati sekarang. Tapi aku akan memanfaatkan ini untuk bahan berita juga. Walaupun aku tidak bodoh untuk menuduhnya, cukup mengatakan ada orang yang ingin mencelakakan Nona Eliza, akan cukup menimbulkan spekulasi di  masyarakat dan cukup menyudutkan karena Nona sekarang sedang terlibat masalah dengan mereka.”


“Kenapa kau bilang pada mereka kemungkinan yang ingin mencelakaimu adalah orang suruhan kekasih mantan suamimu bukan orang Gianni.” Sekarang Bova yang bertanya.


“Karena pria yang meneleponku itu memanggilku ular, mengingatkan cara Silvia menyebutku. Aku tak tahu terbayang begitu saja ketika dia mengatakan aku ular, seperti wanita itu yang sengaja memberikan pesan itu.”


“Cukup masuk akal. Kami akan coba mencari hubungannya. “ Tuan Armando yang mengatakan itu.


Sementara mereka meneruskan pembicaraan aku masuk  ke kamarku lagi untuk mengambil tasku, dan menyelesaikan make-upku. Seseorang mengetuk pintu. Aku menebak-nebak siapa yang mengetuk pintuku, kemungkinan besar adalah Don  Juan. Aku membuka pintunya dengan sedikit  berdebar-debar.


“Boleh aku masuk?” Kubiarkan dia masuk. Dia berdiri didepanku membuatku bertanya-tanya apa yang  ada dalam pikirannya.


“Kau muncul disini, apa kau tak takut Gianni membuatmu jadi sasaran tembak karena dekat denganku.” Di lain sisi aku takut debaran jantungku terdengar karena aku berdiri dekat dengannya.


“Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Dia tidak menjawab pertanyaanku, tapi sekarang dia merengkuhku dalam pelukannya. Dia wangi, aku suka bagaimana dia memelukku begitu erat, begitu hangat, membuatku merasa terlindungi.


“Kau teman  yang sangat baik.” Aku tersenyum lebar dalam pelukannya sekarang. Masih tak berani mengatakan apapun walaupun aku berharap doa mengatakan sesuatu yang membuatku tak usah menduga-duga lagi.


“Kau sangat senang menggodaku bukan?” Dia melepaskan pelukannya dan memandangku, tapi tetap menempatkan aku dalam jangkauan lengannya.


“Aku menggoda? Aku hanya mengatakan  kau dan aku teman yang sangat baik.” Dia menghela napas sekarang.


“Baiklah Vanilla. Aku ingin jadi kekasihmu, kau puas? Tak ada omong kosong teman lagi...” Aku memandangnya sekarang.


“Kenapa. Kau ingin kekasihku? Kenapa kau merubah pendapatmu tentang sebuah hubungan?”


“Kau perlu alasan?” Tentu saja aku perlu alasan kenapa dia tergerak mengatakannya sekarang.


“Iya, kenapa sekarang.”


“Aku takut sesuatu terjadi padamu dan aku tak sempat mengatakan  apapun. Lagipula kau sekarang sudah benar-benar bercerai.”


“Kenapa kau menunggu sampai sekarang?”


“Kemarilah kita bicara. Aku ingin kau tahu aku melakukan semuanya untukmu tanpa mengharapkan imbalan apapun. Aku ingin kau bisa mempercayaiku...” Sekarang dia membawaku duduk bersamanya dan merangkul bahuku tanpa ragu.


“Aku tak bisa menerima pertemanan tanpa status.” Aku menjelaskan keinginanku, bahwa aku tak berniat menjadi sugar babynya yang dibatasi aturan tertentu.


“Aku kekasihmu, bukan teman kencan, bukan sugar baby. Aku mengerti maksudmu. Tidak, aku tak berusaha membuatmu terlibat hubungan sesaat, dan kau bahkan sudah bertemu keluargaku. Sebenarnya aku bukan anti komitmen, aku hanya menghindari  wanita manja yang terlalu banyak  menuntut, tapi kemudian aku menjadi terlalu nyaman di zona itu, aku tidak berganti-ganti pacar, aku pernah bilang padamu kontrakku Sophia sudah hampir dua tahun,  sampai aku bertemu denganmu. Kau mengerti Vanilla. Jadi mau kah kau jadi kekasihku...”


“Apa menjadi kekasihmu mempunyai aturan khusus.” Seperti apa menjadi kekasihnya? Aku ingin tahu yang dia harapkan.


“Aturannya adalah percaya saja padaku. Jangan meneleponku tiap jam, menanyakan aku kemana tiap jam, aku tak suka merasa dicurigai, aku ingin kita bisa membahagiakan satu  sama lain, tapi bukan mengawasi satu  sama lain. Aku kekasihmu, temanmu, bukan kamera pengawasmu, intinya  aku tak suka diragukan. Aku tak suka dipanggil Don Juan, aku  memang tampan  seperti yang kau katakan tapi aku sangat pemilih dan setia. Jelas aku bukan  Don Juan,  juga bukan Javiermu.” Aku tertawa sekarang, overdosis percaya diri, jadi dengan apa harus kupanggil Don Juan ini.


“Jelas kau bukan Javier, kau masih cemburu dengan Javier rupanya."


"Kau menggunakan tubuhku sebagai penganti Javiermu dua kali,...." Aku tertawa, tapi kemudian aku memeluknya. Lega semuanya sudah jelas diantara kami. Lega dia bisa menerima sebuah hubungan normal.


"Kita mungkin hanya akan berdua..."


"Kita sudah membicarakan ini, aku memang tak keberatan karena aku juga tak menginginkannya. Kita bisa masuk panti jompo berdua jika sudah tua, menikmati hidup kita berdua, tanpa perlu memikirkan apa yang kita tinggalkan. Selesai dengan diri kita sendiri..."


Aku memandang matanya yang mengatakan itu dengan penuh keyakinan.


"Kau seyakin itu..." Pertanyaanku membuatnya menghela napas.


"Kita akan coba menjalaninya seperti itu. Pasti ada masalah, tapi yang aku juga tidak suka hubungan seperti roller coaster, bertengkar berbaikan bertengkar lagi dan mengulang berbaikan lagi. Hidup kita sehari-hari sudah banyak roller coaster, apa kita harus menambah permasalahan di hubungan pribadi. Seharusnya kita pulang bersama dan menemukan tempat damai dirumah ketika kita bertemu, bukan saling mencurigai dan bertanya kemana aku sebelumnya. Bukankah begitu. Pergi liburan berdua dengan bahagia setelah banyak hari bekerja... Itu yang ada dalam pikiranku."


Rupanya itu yang di takutkannya. Aku mencurigainya, tak percaya padanya, menyangka dia punya wanita lain karena dia bisa dan sangat berbakat untuk itu.


"Aku bisa menangkap apa maksudmu. Baiklah, aku mau menjadi kekasihmu ..." Dia tersenyum sekarang.


"Vanilla, kau perlu ciuman?" Pertanyaannya membuatku berdebar. Sekarang kucuri ciumannya dengan cepat. Satu ciuman kecil yang membuatnya menatapku tak percaya.


"Itu apa?"


"Ciuman..." Aku meringis lebar.


"Itu bukan ciuman." Sekarang dia menarik pingangku lebih dekat. Memegang tengkukku dan memberiku ciuman pertama kami tanpa ragu. Membuatku terbelalak, kaget dan tersengal tak bisa bernapas sesaat, sebelum akhirnya bisa membalas ciumannya.


Kami kekasih sekarang.