The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 40. He Not Coming



Natal sebentar lagi menjelang, udara dingin sekitar 12C tapi tidak membekukan. Aku menerima seorang tamu kemarin, yang ternyata adalah orang Bova membawa surat kuasa kemarin, dia benar-benar tidak datang.


‘Maaf aku tak bisa ke tempatmu besok, harus ke Napoli lebih cepat tahun ini, aku tak bisa menemanimu, tapi jika ada masalah kau bisa menghubungiku langsung.’  Sebuah pesan singkat melalui ponsel kuterima.


‘Iya tak apa. Terima kasih Fabian.’ Aku memilih tak memperpanjang pembicaraan setelahnya.



Aku tadinya mungkin masih punya sedikit harapan tapi sekarang sudah terkubur musnah semuanya  dibawah  salju gunung  Etna sana.


Tapi siang ini  ternyata Guilio yang bersedia menemaniku dan Mama di kunjungan  ini. Belakangan entah kenapa malam-malam dia sering menelepon dan kadang bicara denganku. Mungkin karena dia sedang tak punya gadis lain, jadi dia menggangguku.


“Kau benar-benar kesini?" Aku melihatnya melambai padaku siang itu saat aku sudah siap dan berada di restoran menunggu jam makan siang selesai.


"Tentu saja, aku sudah bilang padamu aku akan berada di sini." Rambut depannya yang berantakan mengingatkanku pada penampilannya beberapa tahun lalu dengan rambut panjang sebahunya. Saat itu aku menganggapnya seperti benar-benar Ketua Geng Mafioso yang tersesat di Linguaglossa.


Dia memang penerus keluarga Benetti, Ayahnya sangat dihormati di Catania dan seluruh region Sicilian tentu saja, dan mereka punya semacam usaha keamanan dengan  orang-orang yang bisa meyelesaikan masalah lebih cepat dari polisi. Banyak pebisnis menjalankan dan melindungi usahanya dengan bantuan biro keamanan Benetti ini.


Sekarang dia memakai cardigan gelap memperlihatkan tubuh kokohnya, agak mirip pekerja kantoran, tapi tetap saja masih terlihat seperti badboy. Aku kadang ingin manaruh kacamata biar dia sedikit manis.


"Kau mau makan aku masih menunggu manager dan Ibu nanti jam dua?" Dia duduk melihat menu dan memutuskan sesuatu, memanggil pelayan. Sementara aku sedang melihat ulang denah layout tempat Lucas.


"Apa yang kau lakukan."


"Aku ingin membangun area  bermain anak-anak, beberapa kontraktor memberiku penawaran mereka." Dia pindah duduk disampingku untuk melihat desain yang aku terima.


"Aku dari awal suka yang ini, bagaimana menurutmu? Dia menawarkan mengerjakan taman tambahan, aku suka idenya."



"Kau manis sekali Guilio."


"Aku memang manis, tampan, baik hati. Kau tak usah memujiku terlalu banyak, cukup bilang terima kasih saja."


"Dasar narcissus,..." Dia memang menerima pujian terlalu berlebihan. Aku ingin melemparnya ke ubur-ubur penyengat sekarang.


"Narcissus itu tampan. Tak apa aku bisa menerimanya. Itu pujian..." Aku meringis sambil membuka kotak coklatnya dan tersenyum lebar. Ini coklat favoritku juga, jika dipikir-pikir dia tahu semua yang aku suka. Kami terlalu lama saling mengenal.


"Nanti pulang aku harus mengirimkan sesuatu pada Zia, kau mau makan malam disini? Ohh ya kau sekarang sudah libur bukan?"


"Sudah, dua minggu aku tak akan kembali ke Milan."


"Hmm...  Baiklah." Makanannya datang kemudian, dia sibuk dengan makanannya sendiri sekarang.


"Akhir pekan selalu ramai disini...banyak pasangan pacaran disini."


"Kau iri? Makanya kembali ke Milan cari pacar sana..." Dia tertawa.


"Apanya yang lucu. Aku berkata sebenarnya."


"Bova tak meneleponmu lagi bukan?"


"Tidak, sudahlah jangan bicarakan Bova lagi." Aku merasa sedih saat Bova dibicarakan lagi.


"Hmm... Tidak, ayo bicarakan tentang hal yang menyenangkan saja. Tentang liburan kita. Aku sudah membooking akomodasinya. Kita akan ada lima hari disana. Dari tanggal 29 sampai tanggal 2. Aku tak sabar..."