
Teman-temanku langsung juga ingin berkenalan dengannya, tapi aku tidak tertarik memilih duduk dan mencari meja kosong. Entah bagaimana dia kemudian berakhir di belakangku akhirnya. Setiap jam istirahat aku harus mengungsi karena mejaku dikerubungi gadis-gadis yang ingin bicara dengannya. Apa dia tahu namaku, kurasa tidak. Dia kemudian mulai memperhatikanku karena aku kebanyakan selalu mendapat nilai ujian harian tertinggi. Aku dikenal oleh guru-guru, tidak dikenal oleh Guilio...
“Hai, kau Monica bukan?” Pertama kali dia menyapaku setelah dua bulan aku duduk didepannya.
“Iya, dan kau Guilio.” Aku bertatapan dengannya di sebuah siang selesai hasil ujian dibagikan. Dan tebak hasil ujian Guilio jauh dari kata cukup. Sementara aku mendapat hasil sempurna.
“Kau anak jenius ya?” Dia mengomentari hasil ujian sempurnaku.
“Tidak, aku hanya belajar lebih baik darimu kukira.” Dia langsung tersenyum lebar dengan sindiranku, bagaimana dia belajar, kerjanya adalah ngobrol dengan gadis-gadis, tebar pesona dan berkelahi. Dia punya geng pembela karena dia kaya, dan punya keluarga terkenal. Kombinasi yang kubenci, arogan, playboy, mau menang sendiri. Jika gadis-gadis lain mengaguminya, maka aku membencinya. “Karena kita sekarang bicara, lain kali jika istirahat, pergilah keluar, aku perlu kursiku sendiri bukan untuk tempat duduk gadis-gadismu , kau mengerti!” Pembicaraam pertama aku langsung memarahinya. Aku menarik tasku dan berbalik pulang.
“Hei...heiii, Monica, tunggu dulu.” Dia mungkin belum pernah dimarahi seorang gadis dalam hidupnya karena dia tertegun saja saat aku memarahinya saat pertama bertemu dengannya.
“Apa maumu?!” Aku memasang sikap permusuhan dengannya. Karena kesal harus selalu pergi dari mejaku waktu istirahat, karena dia menjadikan area disekitar mejanya sebagai markasnya.
“Oke-oke, aku akan pergi keluar jika waktu istirahat nanti, aku minta maaf oke.”
“Ya sudah!” Aku berjalan lagi tanpa memperdulikannya kemudian.
“Monica-monica,...” Aku menghela napas lagi saat dia memanggil dan menjejeriku.
”Apalagi maumu?”
“Baiklah.” Dengan cepat aku terjebak, senyumnya mengembang awalnya membuatku terpesona juga. Aku menolak menatapnya kemudian.
Keluar dari pintu kelas aku diiringi oleh tatapan iri gadis-gadis. Kenapa gadis kutu buku ini bisa berjalan bersama Guilio yang diburu para gadis-gadis cantik, yang tak kutahu adalah awal bencana lebih lanjut setelahnya.
“Aku minta tolong, bisakah kau jadi teman belajar pribadiku,... Aku dimarahi orang tuaku habis-habisan karena nilaiku jelek dalam beberapa ujian.” Dia bicara pelan-pelan setelah mengajakku bicara berbagai macam hal setelahnya. Dari awal berkenalan aku tahu dia punya bakat negosiator mumpuni. Walau untuk urusan rumus matematika dia sangat payah.
“Hmm, ... jadi kau membawaku kesini karena itu.”
“Aku akan membayarmu. Ini bukan bantuan gratis.” Dia menyebutkan sebuah nilai cukup menggiurkan untuk anak sekolah waktu itu. Tentu saja dia mampu karena uang jajannya berlimpah.
“Jadi kau akan membayarku? “
“Iya, ajari aku sepulang sekolah boleh, sopirku akan mengantar jemputmu. Aku akan minta izin ke Mamma-mu.”
Karena tergiur uang aku langsung mengiyakannya yang kemudian kutahu adalah dia memanfaatkan jasa tutor itu sangat berlebihan, contekan PR, tugas, bahkan contekan ujian ikut dalam biaya jasa itu. Walaupun harus kuakui dia loyal dan menempatkanku sebagai teman berharganya. Ibunya mengenalkanku dan langsung menyukaiku, karena sejak berkenalan denganku setidak-tidaknya dia tidak berada di urutan menyedihkan lagi nilainya. Dan Zia memakaiku sebagai mata-mata di sekolah. Aku dengan senang hati melakukannya karena Zia sangat baik, dia selalu menyediakan banyak makanan, memastikanku pulang dengan kenyang ke rumah. Membawakanku Mamma-ku oleh-oleh, dan akhirnya orang tua kali terutama Mamma juga dekat.