
"Entahlah mungkin kau tertarik mengejarnya, aku memberitahumu dimana dia berada."
"Hmm... tidak. Aku sudah merelakannya."
"Dia benar-benar menolakmu?"
"Dia memintaku menganggapku sebagai Pamannya." Aku tertawa miris menceritakannya.
"Begitukah? Dia memintamu menganggapmu sebagai pamannya? Hmm... Kasihan. Seleramu memang aneh..." Dia meringis lebar, tampaknya penderitaan putus cintaku sangat menghiburnya.
"Kau meledekku?"
"Iya." Dia tertawa. "Tak heran, tiap hari selama bertahun-tahun kerjamu bertemu kakek-kakek dan bapak-bapak tua. Seleramu pasti terpengaruh juga." Aku meliriknya dengan kesal.
"Sok tahu, kau tidak berhak berkomentar soal seleraku. Dia masih muda, punya badannya yang bagus..." Dia langsung melihatku.
"Badannya bagus? Ternyata kau dan dia pernah..." Aku kelepasan bicara, aku tahu pikirannya, sekarang dia menyangka aku pernah tidur dengan Tuan Tan.
"Aku hanya melihat dari penampakan posturnya." Dia melihatku dengan sangsi. Dia tak percaya perkataanku. Biarkan saja... dia penasaran. Toh dia bisa menanyakannya ke Tuan Tan.
"Tak kusangka... ternyata kalian." Dia masih tak percaya padaku.
"Hei aku tak pernah tidur dengannya! Kau tak percaya tanya sendiri padanya!" Dia diam sekarang. Tampaknya perkataanku barusan menghentikan pikirannya.
"Apa kau pernah tidur dengan seseorang?" Pertanyaannya berikutnya membuat mukaku panas. Sekarang dia membuatku kesal. Kenapa dia bertanya sampai urusan itu. Benar-benar tak sopan.
"Lebih baik kau keluar sekarang." Aku tak akan mengatakannya. Itu bukan urusannya! Siapa dia berani bertanya begitu!
"Aku hanya ingin tahu, kau dibawah pengawasan Bibimu dari lulus koko (SMA), semua orang tahu pacaran di sekolah itu sangat jarang karena kau msnghadapi jutaan ton buku, dan aku pun yakin kau termasuk kutu buku dan dilarang pacaran karena memang dilarang okiya, apa kau belum pernah sama sekali ..."
"Tentu saja aku pernah pacaran! Kau pikir aku gadis yang tak populer, kuno, kuper?! Kisa kau keluar sekarang. Aku mau istirahat." Aku mencoba lari sekarang.
"Ohhh ya, dengan siapa... Coba ceritakan bagaimana kau melewati pengaturan Bibimu? Siapa pacarmu? Aku akan cerita siapa pacarku yang pertama kapan dimana, kelas apa aku pacaran... ayo cerita bagianmu?"
"Aku punya waktu libur, aku bisa mengatur kencanku sendiri. Kenapa aku harus cerita padamu!? Sekarang keluarlah aku mau tidur!" Sekarang dia melihatku panik dan menghindar.
"Ternyata belum pernah sama sekali?" Dia masih mengawasi mimik wajahku lekat, semua interogasi ini sangat menyenangkan baginya.
"Pergi kau sebelum kau kutendang keluar."
"Keluar dari kamarku!"
"Astaga, kupikir kau setidaknya tahu sesuatu. Kau tertarik dengan Derrick yang sudah berpengalaman, kupikir kau spesialis menyukai orang yang punya jam terbang tinggi. Ternyata kau cuma gadis perawan tak berpengalaman. Jangan-jangan kau belum pernah punya pacar? Belum pernah punya hubungan serius?" Dia masih menertawakanku sambil menunjukku, mukaku panas dituding begitu.
"Aku bukan gadis Roppongi-mu! Kau puas!" Kenapa dia senang sekali membuatku kesal! Aku marah sekarang. Dan dia tambah tertawa, semua ini sangat lucu sekarang buatnya.
"Baiklah-baiklah, maafkan aku." Dia masih berusaha keras menahan tawanya. Tapi kemudiam dia tertawa lagi.
"Aku tahu kau playboy, punya banyak gadis! Tak usah mengurusi hidupku!" Aku marah.
"Bagaimana kalau kita pacaran saja. Aku janji akan jadi pacar pertamamu yang baik hati." Dia masih meringis lebar.
"Siapa yang mau jadi pacarmu? Aku cuma pendampingmu."
"Kau benar-benar lucu." Dia tertawa sepuasnya.
"Keluar sana!" Aku sekarang membuka pintu, tak tahan dengan ledekannya. Dia berdiri sekarang karena aku mengusirnya, kemudian berdiri didepanku, menghela napas dan tersenyum.
"Maaf, aku baru tahu kebenarannya. Ternyata kau itu sangat naif... Aku memang salah menilaimu, awalnya kupikir kau punya tujuanmu sendiri...." Dia tidak melanjutkan perkataannya, apa maksudnya aku naif?! Punya tujuan sendiri?! Jadi dia menganggap sikapku adalah permainan tarik ulur?!
"Jadi sekarang kau menertawakanku."
"Tidak, sekarang aku yakin kau temanku. Tadinya kupikir kau sengaja mempermainkanku. Baik-baik, aku keluar, aku tak akan menganggumu. Selamat istirahat. Besok tak usah mengantarku pagi, manfaatkan waktu liburmu sepuasmu. Nanti Mayumi akan menelepon jika aku perlu bantuanmu lagi."
Dan dia keluar sekarang sebelum melihatku sekilas dan kemudian hanya berlalu dengan senyum kecil dibibirnya.
Terserah apa yang dipikirkannya. Aku tak perduli.
---------
Belum up banyak 3 dulu, belum selesai administrasi sama NT hihi
Ntar yaaaa
Jangan lupa vote, like and hadiahnya ya
Makasih semua