The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 94. Kimiko Yamasaki 27



"Kenapa aku harus takut padamu, aku sudah bilang jika aku mau aku bisa membuat Inagawa bertekuk lutut padaku."


"Bualanmu menembus langit Hisao."


"Aku tak membual, kau pikir kenapa Soul Stream Club termasuk wilayah yang tak boleh disentuh oleh Inagawa. Jangan mencoba masuk ke daerah yang kau tak tahu, kau sudah menjalankan bisnis dengan benar, kenapa kau harus masuk dunia yang tak kau tahu." Aku ingin membuatnya berpikir.


"Kau memang berlagàk kau menguasai sekuruh Tokyo Hisao, kau tak perlu menguliahiku. Biar kutebak, kau suka dengan Geiko murahan itu karena dia penurut, dan aku yang sekarang yang bisa mengancammu sedikit membuatmu tertekan... Bagaimana rasanya jika bisnismu diganggu. Kau bisa membayar padaku untuk mendapatkan perlindungan. Hmm... bagaimana kalau 10 juta yen per bulan."


Gadis ini mulai keterlaluan. Dia terlalu berani karena dia merasa mendapat perlindungan family yakuza dibawahnya.


"Apa kau masuk menjadi anggota? Kau mengucapkan sumpahmu?" Satu-satunya penjelasan kenapa dia terlalu berani sekarang.


"Itu bukan urusanmu Hisao." Dia didepanku.


"Kau tahu, kuberi kau kesempatan terakhir, dalam dua hari ini, jika kau tak menarik berandalan penggangu di wilayah Soul Stream aku akan membuat Kenzo membayar. Satu hal yang harus kau tahu Masaharu Kenzo pernah kuhajar saat aku masih muda. Dia memanfaatkanmu membalas dendam padaku. Kau gadis pintar, jangan biarkan dirimu dimanfaatkan orang lain. Jadi temanku akan lebih baik daripada kau jadi lawanku."


"Dalam dua hari?! Beberapa bulan kedepan Kenzo akan menjadi penguasa Inagawa, aku tak takut padamu. Inagawa tak pernah takut pada siapapun!" Sekarang malah gadis yang nampaknya sopan itu berani menaikkan suaranya padaku.


"Baiklah, aku tak punya hal yang dikatakan lagi. Lebih naik kau tanya kepada Oyabun Inagawa. Dua hari Kimiko, suruh Kenzo menarik orang-orangnya atau dia akan berhadapan denganku." Aku beranjak dari dudukku.


Dalam dua hari ini jika dia masih mencari masalah aku sendiri yang akan mendatangi Oyabun Imagiwa meminta bukti kesetiaannya pada Pamanku.


Aku melangkah pergi kembali ke rumah Kimiko. Sepertinya ancaman ini tak akan berhasil. Dalam beberapa hari kedepan aku akan membuat Kenzo membayar.


"Hisao, pagi-pagi kau jalan kemana." Setsuko ternyata sudah sampai pagi ini. Kami punya acara besok dan hari ini aku memberinya liburannya.


"Hanii bee, kau sudah sampai..." Aku menciumnya dengan gemas. "Kenapa kau sepagi ini sudah sampai, acara kita sore, kau harusnya istirahat saja."


"Aku merindukanmu,..." Aku tersenyum padanya. Mendapatkan gadis keras kepala ini adalah perjuangan. Dia menolakku habis-habisan, bahkan tidak pernah menyukaiku.


Tapi sebagai balasannya aku mendapatkan seorang gadis mengagumkan, pekerja keras sekaligus lembut. Sopan santun tanpa celanya itu kadang membuatku gemas dan kesal, tapi itu senjata terbaiknya menghadapi siapapun.


"Kau merindukanku?" Aku memeluk pinggangnya yang ramping. Dan ingin mencium bibirnya yang lembut itu lagi, karena aku juga merindukannya.


"Hisao-san." Dia menahanku.


"Hmm?"


"Ini ruang tengah... Bagaimana jika..." Dia membuatku tersenyum. Kutarik dia ke kamarku dan mukanya bersemu merah begitu saja, dia menggigit bibirnya dan mengulum senyumnya. Menggemaskan sekali reaksinya...


"Kau merindukanku... datang sepagi ini? Kau tak bisa tidur semalaman memikirkanku?" Dia tertawa kecil, malu mengakui isi hatinya. Membuat dadaku mengembang bahagia memikirkan gadis manis yang masih malu-malu ini datang secepat ke Tokyo karena rindu padaku. Aku pernah begitu merindukannya, tengah malam dengan kereta terakhir mendatanginya di Kyoto, sekarang dia tampak begitu manis dipelukanku.