The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 58. License To Ki*ll



Aku diam saja. Tak ada gunanya bicara, karena aku harus menahan diri demi penyamaran ini. Kapan aku bisa bekerja di belakang meja saja, kapan aku tak usah menyembunyikan siapa diriku, aku lelah. Kemarin dia merayuku mengatakan segalanya tentang kekasih tapi dia mengatur menjebakku kemudian. Rasanya berjalan di ladang ranjau.


"Kau baik-baik saja?"


"Baik. Tak usah kuatir ini cuma terserempet, perban dan anti infeksi cukup." Aku menolak melihat padanya karena belum bisa mengendalikan emosiku. Salah-salah aku malah mengacaukan operasi. Aku perlu waktu untuk berpikir tenang, lagipula dia pasti merasa bersalah padaku sementara waktu.


"Mereka akan membayar di penjara." Aku tak menanggapi perkataannya. Masih diam saja selama perjalanan itu. Tapi nampaknya dia membiarkanku sendiri kali ini. Dia mengemudi cepat ke sebuah rumah sakit terdekat. Apa aku sudah memyelesaikan kecurigaannya padaku. Kurasa tidak semudah itu. Tapi sementara dia tak akan mengangguku ...


Kami sampai di UGD, kain serbet bersih yang kugunakan untuk menekan luka basah oleh darah, blouseku sudah setengahnya berubah warna.


"Dia terluka karena tembakan di bahunya." Nathan dengan cepat membuka pintu UGD dan berteriak pada paramedis.


Paramedis segera mendekatiku, aku dipandu ke salah satu bilik UGD dan mereka mulai memeriksa lukaku.


Tidak sampai satu jam mereka menanganiku, menjahit lukaku, membuat balutan tahan air pada lukaku. Aku berganti ke baju rumah sakit, karena mereka mengunting blouseku.


Aku melihat Nathan menungguiku. Apa mungkin dia merasa bersalah. Kurasa tidak, dia hanya ingin aku tidak lari, memanipulasiku agar dia tahu siapa bossku.


"Sir, ini obat yang perlu Anda tebus di farmacy, bawa Nona ini kembali dalam dua hari untuk kami bisa memeriksa kembali lukanya, tidak apa-apa lukanya sudah dijahit..." Dokter menyerahkan copy resep padanya.


"Ohh baiklah. Nathalie, tunggu disini, polisi akan datang meminta keterangan."


"Ok."


Aku membiarkannya mengurus obatku sementara polisi kemudian datang dan meminta keterangan soal Oguri selama sejam berikutnya. Semua selesai, keesokan harinya aku diminta datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan resmi.


Aku pulang, masuk ke mobil dalam diam. Mengabaikan Nathan yang ada di sampingku.


"Masih sakit..." Apa yang dia harapkan, aku akan meminta dia menenangkanku. Dia tahu itu tak akan terjadi.


"Tidak terima kasih sudah menolongku. Terima kasih sudah mengantarkanku juga ke rumah sakit." Aku mengatakan kata-kata pendek padanya untuk menghindari pembicaraan lebih jauh. "Maaf menuduhmu tadi..."


"Aku memang melakukannya." Sekarang aku melihatnya dengan heran. Kenapa dia mengaku. "Josh melihatmu berlari di mall dan menghilang dikejar mereka. Aku khawatir padamu tapi kau bersikap tak ada yang terjadi. Jadi sekalian kubenturkan kau pada masalahmu."


"Kenapa kau mengaku."


"Tapi kau juga memancingnya. Bukannya aku tak tahu kau sengaja melakukannya untuk membuatku sibuk berkelahi dengan mereka, jadi anggap kau juga kena karmamu sendiri. Apa masih sakit? Tadi kita tak sempat makan... nanti mau kubelikan sesuatu?" Sekarang dia jadi bersikap manis. Apa yang sedang diusahakannya. Aku melihatnya dengan kesal, tak bisa marah karena aku harus terjebak dengannya.


"Kita beli makanan oke, tapi ini sudah jam 10. Yang masih buka mungkin Little Bad Wolf, ... Kau bisa pakai kemejaku, atau take away saja." Dia menyebutkan nama restaurant 24 jam disekitar kami.


"Take away..." Aku menjawabnya singkat. Masih merasa marah dijebak olehnya dan berakhir di rumah sakit. Hubungan musuh tapi teman ini sangat rumit.


"Baik."


Apa gunanya dia bersusah-susah payah begini. Jika dia menyangkaku bermuslihat kenapa tak menendangku saja keluar dari lingkarannya dia malah menaruhku disisinya. Apa gunanya nama atasanku? Kenapa dia berkeras kami bisa berteman ...dan bisa menjadi kekasih. Permainan apa yang dia mainkan.


"Kau tak takut aku mengkhianatimu seperti aku mengkhianati Oguri?"


"Itu bukan berkhianat, itu mencari jalan keluar, siapapun tidak mau dipenjara karena dianggap ikut terlibat kejahatan."


Apa dia tidak merasa terlibat kejahatan.


"Aku melihatmu menghilangkan lima orang. Kau tidak merasa itu kejahatan, apa kau semacam punya 'license to ki*ll' ?" Aku bertanya dengan penasaran.


license to k*ill \= izin membun*uh.


"Katakan saja begitu." Sekarang aku menatapnya dengan tak percaya. License to ki*ll, dia bercanda itu hanya bisa didapatkan oleh agen pemerintah tingkat tinggi dalam tugas operasi tertentu dan biasanya berkaitan dengan keamanan nasional.


"Kau bercanda." Aku tertawa tak mempercayainya, bagaimana seorang gangster Latin American yang mungkim terlibat pencucian uang punya 'license to ki*ll'. Siapa yang memberinya license to kil*l untuk kasus pencucian uang.


"Apa aku kelihatan bercanda Nathalie. Jika aku berusaha membuatmu jadi teman, aku serius. Termasuk semua perkataanku... Coba kau pikirkan orang-orang yang ada disampingku dan semua kejadian yang sudah kau lalui. Kau harus berpikir berhati-hati dengan siapa yang kau percayai. Jika aku berkata aku bisa melindungimu maka aku serius dengan perkataanku, kau hanya perlu mengatakan apa masalahmu...."


Aku sekarang terdiam dengan kata-katanya. Sebenarnya siapa Nathan, jika dia punya benar punya otoritas dan 'license to ki*ll' siapa yang ada dibelakangnya. Apa kepentingannya? Apa operasinya? License to kil*l dari siapa?


Sebenarnya aku di taruh dalam kasus apa?! Siapa melawan siapa? Atasanku hanya bilang dia punya bisnis pencucian uang antar negara. Dan menaruhku seperti kamera pengawas disini. Tapi orang disampingku menghilangkan agen KGB seperti membersihkan debu dalam rumah.


"Aku beli makanan dulu." Dia tak bicara lagi meninggalkanku untuk berpikir tentang semua kata-katanya.


Sekarang sikapnya membuat ragu, siapa yang harus kupercaya.