The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 62. Just Hold My Hand 6



Makan malam yang sempurna. Candle light dinner above the star. Ketika kami duduk berhadapan kemudian, aku menjadi terlalu malu untuk mengatakan apapun kepadanya. Biasanya aku tak sesulit ini menemukan bahan pembicaraan tapi sekarang otakku kosong.


"Jika aku memaksamu minggu lalu, maafkan aku." Dia minta maaf lagi? Tadinya aku berpikir dia melakukannya karena kesal.


"Iya, tak apa..." Aku menjawab pendek. Aku bahkan tak tahu apa itu jawaban yang benar.


"Besok kita diminta untuk hadir di kuil siang hari juga sebelum pesta jamuan sorenya . Aku dan Yuki sahabat dekat sejak kecil."


"Iya Mayumi sudah memberitahu itu termasuk pesta siang. Aku juga sudah membawa Homongiku." Homongi adalah kimono resmi yang dipakai buat pesta.


"Jangan berdandan dengan bedak putihmu." Aku tertawa, aku tak akan gila melalukan itu. Tapi kurasa dia hanya ingin membuatku tertawa dan lebih santai.


"Hmm, bedak putih itu temanku sejak 17 tahun, rasanya aku sudah terbiasa memakainya sangat lama. Dan wig kami, itu awalnya berat tapi lama-lama kurasa aku sudah terbiasa. Kau tahu itu beratnya 3 kg, pertama memakainya aku sakit kepala berhari-hari, tapi sekarang aku sudah terbiasa."


Dan selanjutnya kami terlibat pembicaraan lebih ringan untuk menghabiskan waktu kami.


"Apa pernah kau ingin keluar dari pekerjaanmu."


"Awalnya kupikir rurinitasku sangat berat, aku punya cita-cita yang lain, tapi semangkin kesini aku menikmatinya kurasa. Bisa bertemu dan bicara dengan banyak orang hebat. Aku juga harus banyak belajar untuk bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Jadi sekarang aku merasa gembira bisa bekerja disini, ini bukan pekerjaan mudah, tapi semua pekerjaan punya tantangannya masing-masing. "


"Bulan depan aku akan ke Hongkong untuk sebuah pekerjaan, jika kau mau, aku akan membawamu ikut. Anggap saja liburan beberapa haro dari rutinitasmu anggap aja liburan yang kubayar untukmu."


"Ke Hongkong? Bersamamu..."


Tapi ciumam sebenarnya saja belum pernah terjadi, yang kemarin bukan ciuman, dia marah memaksakan ciumannya dan bahkan aku belum mengatakan aku menerimanya.


"Apa kau tak mau pergi bersamaku..." Pertanyaannya membuat detakan di jantungku. Saat dia meneliti ekspresi datarku.


"Bukan...bukan seperti itu."


"Jika kau tak ingin pergi, kau boleh mengatakannya. Aku bukan atasan yang harus kupatuhi." Dia berkali-kali mengatakannya, bahwa aku bebas mengatakan apa saja didekatnya. Kadang aku ingin bisa seperti itu,... Mungkin sedikit meminjam keberanian Aoki dan keceriaan Mio.


Tapi sekarang aku merasa perlu sedikit waktu untuk mengatakan aku menyetujui perjalanan bersama seperti itu. Tidakkah mengiyakannya sekarang membuat aku terlihat murahan. Atau itu perasaan yang salah jika dia adalah kekasihmu.


Aku benar-benar tak tahu. Apa aku harus bertanya pada Mio aku harusnya bagaimana?


"Hei, kau melamun. Apa yang kau pikirkan." Aku terbangun dari lamunanku dan dia tersenyum begitu saja saat aku melihatnya lagi.


"Tidak..., aku hanya tak tahu mau pergi atau tidak."


"Kau tak harus menjawabnya sekarang. Itu masih pertengahan bulan depan, aku akan senang kau mau ikut, itu mungkin sekitar empat hari. Aku akan senang kau ikut tentu saja. Bilang ke Mayumi, kau harus memberitahunya awal bulan."


"Iya. Baiklah..."