
"Tidak dia membantuku dengan semua ini. Kau jangan memarahinya...Dia bersikap manis padaku..." Aku men
"Baiklah jika kau bilang begitu."
Pembicaraan malam ini terasa akrab, dia terlihat tampan dengan lengan digulungnya itu, terlihat rapi dengan kemejanya. Aku ingin memeluknya dan mencium wangi parfumnya tadi.
"Kau sudah melihat rumah?"
"Ehmm belum, besok saja tak apa." Dia mengajakku ke ruang duduk di lantai dua sambil membawa gelas anggur kami. Aku sempat ke sini tadi. Karena kamarnya juga di lantai ini.
Yolanda menaruh tas koper yang kubawa di kamarnya. Dia belum tahu, aku binggung bagaimana mengatakan tadi ke Yolanda. Nanti kuambil saja lagi.
"Kemarilah, ..." Dia memintaku duduk menyender didekatnya. Aku masuk ke dalam pelukannya menyender padanya. Dia menyalakan televisi didepan dan kami menonton saja kemudian. Tanpa perlu terlalu banyak bicara...
"Kau kembali kapan."
"Minggu sore..." Apa dia ingat kalau minggu itu Valentine, aku hanya ingin coklat kecil seperti pasangan remaja. Sekarang aku heran kenapa aku menjadi konyol belakangan ini.
"Aku senang kau kesini...sangat senang sebenarnya." Aku melihat padanya.
"Kenapa..."
"Rasanya seperti kau benar-benar menerimaku menjadi kekasihmu." Aku tersenyum, ternyata dia belum yakin aku menerimanya.
"Bagaimana, aku bisa menolakmu, nanti Zio akan datang dan ganti merayuku... Kau membuatku tak bisa menolak apapun sejak kau membawa orang tua kita. Dasar licik..." Dia meringis lebar sekarang saat aku mencubit hidungnya.
"Aku putus asa menghadapi term temanmu dan sikap meremehkanmu itu, kau langsung menolak ajakkan liburanku tanpa berpikir, tapi aku harus punya penjamin aku harus berhasil jadi itu caranya..." Aku mendorong keningnya dengan jariku saat dia tertawa.
"Otakmu itu selalu punya cara kalau mengakali orang." Sekarang dia menghadapkan aku ke arahnya. Merangkul pinggangku dan menciumku lagi dengan gemas.
Ciuman itu berlangsung lama, membuat tubuhku menempel padanya dan menuntut, ...pelukannya mengerat membuatku menempel padanya dan terengah. Dia sedang menginginkanku...
Tapi kemudian dia seperti menahan diri lagi. Aku kecewa sekarang kenapa dia menahan dirinya.
"Kau tak ingin istirahat? Ini sudah lewat jam 11. Yolanda menunjukkan kamar yang mana untukmu?"
"Kamar itu, ..." Aku menunjuk ke kamarnya, Yolanda tadi memberitahu itu kamarnya. Tapi mari kita anggap aku tak tahu saja.
"Kamarmu yang mana..." Dia masih berpikir menjawabnya.
"Sebenarnya itu kamarku, tapi kau bisa menggunakannya, aku bisa tidur dimana saja." Aku sekarang langsung kecewa. Aku sudah datang ke sini, tapi dia malah...
"Kau harusnya mandi, kau juga pasti lelah ..." Aku melepaskan diri, berusaha tersenyum menyembunyikan kekecewaanku.
"Ehm baiklah, ... apa..." Aku beranjak tanpa melihat padanya lagi. Aku kesal sehingga mataku memanas begitu saja.
"Cara..." Sekarang aku tak memperdulikan panggilannya. Aku masuk lurus ke kamarku yang adalah kamarnya.
"Apa?" Aku berharap dia mengerti sehingga aku berbalik lagi padanya.
"Aku harus mengambil pakaianku ke dalam sebentar."
"Ohh, ambillah." Kenapa dia benar-benar jahat. Apa aku tak secantik dan semenarik gadis-gadisnya yang lain?
Aku membiarkannya masuk dan duduk di sofa kamar, memusatkan perhatian ke ponselku daripada melihatnya.
"Cara, ..."
"Apa?" Aku menjawabnya tapi tetap tak mau melihatnya.
"Ada apa?"
"Tidak. Pergilah, kau harus istirahat. Atau aku pindah kamar saja..."
Mungkin aku tak semenarik gadis-gadisnya yang lain. Dia kelihatan binggung ketika aku menentang matanya dengan marah sesaat.
"Bukan maksudku kita bisa mengobrol lagi, ini belum malam..."
"Tidak, kurasa aku istirahat saja masih ada besok." Aku sekali lagi menolak menatap matanya. Dia jahat apa aku memang tak secantik gadis lain, aku datang kesini dan dia cuma ingin pindah ke kamar lain.
Bersambung besok 😅 marahannya ditunda dulu