
“Aku akan kembali tanggal 1 kakak, dua hari lagi.” Valentina mengabarkan padaku malam hari besok adalah malam tahun baru, saat aku meneleponnya karena pekerjaan restoran sudah agak longgar, sudah hampir jam 10, kami sudah menerima order terakhir.
“Kau baik-baik saja?”
“Aku baik.”
“Kau tidak berbohong?” Dia terdengar menghela napas disana.
“Kakak, aku tahu Kakak selalu merasa bersalah. Tapi aku percaya yang bisa memperbaiki ini adalah kakak setelahnya. Aku mengharapkan Kakak setelah ini.”
“Setelah ini aku akan mengirimmu ke US, untuk mengambil magistermu, kampus apapun yang kau inginkan. Jika perlu kau menjadi permanent resident disana. Aku akan mengurusi semua yang ada disini. Restoran kita berjalan sangat baik di musim liburan, kita banyak mendapat kontrak kerjasama dengan agen perjalanan dan penginapan, aku bisa mengurus disini. Ayah akan membantuku tapi dia tidak mengambil keputusan apapun. “
“Kau punya uang kakak?”
“Aku punya uangnya, aku tak akan membayar apapun ke Gianni setelah ini, aku ingin kesepakatan yang adil.”
“Bagaimana jika dia mengancammu Kakak, kau wanita bagaimana kau bisa menghadapinya.”
“Aku menemukan bantuan sekarang Valentina, dia tidak akan bisa mengancamku sekarang.” Jika aku tak bertemu dengan Bova aku tak akan bisa mengatakan hal seperti ini, tapi sekarang aku yakin aku bisa melakukannya.
“Kau yakin Kakak? Aku mengkhawatirkanmu....”
“Aku yakin, aku punya bantuanku. Nanti kuceritakan padamu. Jika semuanya sudah tenang.”
“Baiklah. Aku akan segera kembali Kakak. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali kesini. Aku putuskan teleponnya.” Valentina menutup teleponnya. Bisa mendengarnya baik-baik saja merupakan hiburan. Aku harus bertahan dua hari lagi mengkhawatirkannya sementara Ayah sudah di rumah Bibi.
Ponselku berbunyi kemudian. Dari mantan suamiku.
“Ada apa?” Aku langsung saja menjawab teleponnya.
“Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku akan mentransfer kepadamu tapi jumlahnya hanya 1/3 dari yang kau minta. Itu yang kupunya untuk sekarang.” Aku menghela napas.
“Bukan itu yang kau punya, mungkin wanitamu hanya memberiku begitu.” Aku mengatakan kebenaran yang kutahu soal kondisi ini. “Kita punya kesepakatan sederhana. Tapi sudahlah, mungkin aku memang tak penting lagi bagimu...”
“Eliza, jangan mempersulitku.”
“Mempersulitmu? Dari bagian mana aku mempersulit? Kau yang tidak memenuhi janjimu sendiri!” Diam disana. “Aku kecewa, hampir 10 tahun kita kenal satu sama lain, kau mengingkari kesepakatan kita. Aku terima berapapun yang kau putuskan. Aku punya banyak masalah yang harus kuselesaikan disini, aku perlu uang itu. Ayahku hampir masuk penjara, sakit adikku juga bermasalah. Sudahlah mungkin kau tak tahu semuanya... “
“Kenapa Ayahmu sakit? Apa yang terjadi...”
“Tak usah mendengarnya, untuk apa kau tahu. Bukankah kau tak perduli. Bukankah gadismu itu tak memberimu izin meneleponku. Mungkin dia ada disampingmu sekarang mendengarkan telepon ini. Restoranku kau serahkan padanya bukan?!” Aku masih menyimpan kemarahan untuk semua yang sudah kulakukan dan tak dihargai olehnya. “Aku hanya meminta bagianku yang sudah kau janjikan, kita sudah bicara baik-baik, tapi kau menuruti wanita itu. Tanpa melihat apa yang sudah kita lalui selama sepuluh tahun hidup kita!”
Dia tak menjawabku, aku menutup teleponnya, menghapus air mataku yang tiba-tiba mengalir. Masih sakit hati bahwa dia sedikitpun tidak menganggap hubungan kami selama sepuluh tahun ini begitu menemukan wanita baru. Aku hanya menghendaki kami masih saling menghargai.
Aku juga tak akan menggangunya. Bodoh aku masih menangis karena dia, tapi aku hanya tak bisa menahan perasaan disisihkan seperti ini. Sebuah ketukan terdengar di pintu kantorku. Aku menghapus air mataku... Bova berdiri disana, melihatku berusaha menghapus air mataku dan mengumpulkan diriku lagi.
“Kenapa kau menangis, ada yang terjadi?”
“Ada apa kau kesini?” Dia masih memperhatikanku, yang tak berani menatapnya. Masih berusaha bicara dengan normal, menyembunyikan aku juga seorang wanita yang terkadang perlu menangis untuk mendapatkan kelegaan. Takut dia menggangapku cenggeng karena memperlihatkan air mata, sementara kami harus menghadapi kasus dengan Gianni.
“Temanku mengatakan orangnya akan datang besok. Kapan adikmu kembali.”
“Tanggal 1, lusa. Baguslah, tinggal menunggu Adrianno pergi dan aku bisa membawanya pergi. Bagaimana jika dia mengancamku...”
“Paling lambat tanggal 3 atau 4 pengacara akan memasukkan laporan. Berkasnya sudah lengkap. Ada 3 saksi lain yang sudah siap, jadi ini akan laporan bersamaan. Jelasnya ini akan langsung bersamaan, jika adikmu berhasil dilarikan maka laporannya akan langsung berjalan. Armando akan langsung mengirim keamanan segera untuk mendampingimu. Plus akan langsung liputan wartawan dalam beberapa hari setelahnya.” Dia menjelaskan padaku,Tuan Armando sudah pernah menjelaskan ini, tapi kemudian diperjelas lagi.
“Ohh baiklah. Aku siap,aku juga tak sabar menunggu Valentina kembali. Terima kasih kau ikut mengawasi ini.” Suaraku bisa kembali normal. Aku sudah bisa tersenyum padanya. “Ohh ya kau sudah makan? Mereka masih menyajikan makanan penutup jam segini, kau masih bisa memesan jika kau lapar, dapur masih buka...” Aku mengalihkan dengan cepat permbicaraan dari satu ke yang lainnya.
“Boleh aku minta carbonara saja, aku sudah makan tapi sekarang entah kenapa kelaparan lagi. Kurasa karena ini restoran.”
“Tentu saja...” Aku tersenyum padanya dan langsung menelepon dapur untuk menyiapkannya.
“Tunggu sebentar akan disiapkan.”
“Ada apa sebenarnya...”
“Maksudmu?” Aku tak ingin menceritakan padanya.
“Kau ada masalah? Kenapa kau menangis?”
“Tidak, bukan hal yang penting.”
“Kalau tak penting kenapa harus ditangisi.” Aku diam tak menjawab. Tak melihatnya, memalingkan wajahku ke arah lain.
“Aku tak mau membicarakannya. Bisa kau tak bertanya lagi?”
“Kau ada kesulitan uang, kau bisa mengatakannya padaku. Aku akan membantumu, kita teman.” Bova ini entah kenapa menganggapku temannya, dan bersikap terlalu murah hati, padahal kami baru saja bertemu.
“Tidak, aku tak apa. Kau sudah membantu membayar biaya pengacaranya itu sudah sangat membantu. Aku masih punya uang."
"Lalu apa yang kau tangisi?"
"Tidak, hanya diriku sendiri." Aku menghindari pandangannya dan pertanyaannya. Dia diam dan menyimpulkan sendiri setelahnya.
“Apa mantan suamimu mengatakan hal buruk padamu. Katakan padaku kenapa kau masih harus menangisinya?” Don Juan ini, apa dia mengerti arti komitmen, tidak mengerti bagaimana rasanya di tinggalkan karena dia biasa yang meninggalkan. Bicara padanya sama saja dia tidak mengerti bagaimana rasanya. Percuma.
“Aku tidak menangisinya. Kau tidak akan mengerti.” Dia menghela napas mendengar jawabanku.
“Mau makan di luar saja? Ganti suasana, daripada kau stuck disini dan menangisi orang yang sedang bersenang-senang?” Walau dia tidak mengerti tapi dia teman yang pengertian. Aku jadi tersenyum dengan ajakannya.
“Kau teman yang baik. Terima kasih. Tidak aku sudah makan..."