
POV Guilio
Dia menolak ajakan liburanku seperti menolak makanan gratisan! Dia tak memerlukannya dan menggangapnya sebagai gangguan tak perlu.
Mangangapku penggangu dengan mengajaknya liburan dan menyuruhku mencari gadis lain. Dia memang sering melakukan seenaknya. Tapi sekarang aku tiba-tiba sakit hati dia menutup teleponku saat aku masih ingin bicara.
Dia memang tak punya perasaan padaku? Sedikitpun?
Apa benar aku tak pernah menarik baginya?
Minggu siang ini akhirnya aku bisa makan siang bersama dengannya. Aku sudah tak sabar ingin melihatnya.
“Monica,... “ Aku melambai begitu aku melihatnya di balik bar bicara dengan managernya, ini sudah musim dingin, sudah Desember harusnya dia tidak terlalu sibuk dimusim ini. Dia memakai gaun maxi panjang dengan warna lembut. Rambutnya diikat rapi kebelakang, dia selalu tampil elegant jika dia sedang ada di restorannya.
Tiba-tiba aku menyadari bahwa temanku ini punya aura kecantikan yang berbeda, jika gadis-gadis itu sangat cantik manja dan terlihat mengemaskan tapi Monica, dia dan Ibuku sama, sedikit sombong dan acuh orang bisa melihatnya sebagai pribadi yang angkuh kadang. Tapi dia melayani tamunya dengan baik, berpakaian baik dan elegan, tidak pernah suka sesuatu yang terlalu terbuka, dia memilih kepada siapa dia terlihat ramah.
“Guilio, tunggu sebentar. Bergabunglah dengan Tuan Bova di meja ujung kanan sana, aku kesana sebentar lagi.”
“Baiklah.” Aku melihat Bova di ujung sana. Dia melambai padaku.
“Brother, kau sudah disini...”
“Iya kemarin, sekalian aku mengurus pengambilan dokumen legalnya. Aku harus menyerahkannya sebagai asset. Minggu depan transfer dana penyertaan modalnya. Satu masalah selesai...”
Aku bicara sebentar dengannya sambil menunggu Monica bergabung ke kami. Boca ini seorang pebisnis yang efektif dan tajam, jika ada kesempatan bekerja dengannya di bidang lain aku rasa aku tak keberatan. Lagipula selain masalah Alida aku tak punya pertentangan dengan Bova.
“Belum, kami menunggumu.” Dari high school dia tidak pernah memperlihatkan dia tertarik padaku, dia selalu mengataiku penjahat playboy. Walaupun aku selalu melekat dan membelanya. Dia menganggapku penjahat yang tak boleh diharapkan janjinya. Dia memang wanita paling logis yang pernah kutemui.
“Kalian mau apa..” Kami menyebutkan pesanan kami dan dia memberikannya ke waitressnya.
“Ayo duduklah, musim panen sudah selesai bukan.”
“Hmm sudah. Aku agak longgar, aku sudah bisa mulai membahas winery dan rencana konstruksi begitu mendapat denah tanah lengkap. Kapan rencananya mereka mau pindah?” Dia duduk, tapi ada yang eneh biasanya dia duduk disampingku tapi kenapa dia duduk disamping Bova?! Kenapa?
“Dia bilang dia akan menyelesaikan pemindahan maksimal 15 Januari. Itu masih akhir musim dingin, apa kau ingin aku melakukan sesuatu pada pertaniannya? Aku akan melakukan transfer penyertaan modal minggu depan. Aturlah seperti yang kau inginkan.” Bova tersenyum padanya, tatapan itu! Seperti tatapan pemujaan...
“Hmm, baiklah. Aku ingin membawa managerku melihat kondisi tanamannya sebenarnya, musim ini bagus untuk menilai perkebunannya.”
“Kau sudah bisa melakukannya urusan legal sudah final, kau bisa muncul dengan kejutanmu kapan saja.” Mereka berdua saling tersenyum.
Bova juga mengejarnya! Aku benar-benar sial. Ini baru tiga minggu, tidak mungkin situasi ini berkembang terlalu jauh, dia juga tahu Bova bukanlah pria dengan reputasi tidak tercela, kenapa dia menerimanya?! Atau dia hanya terpesona pada pria ini?!
Sial, sial dan sial. Aku didahului!