
Ternyata apa yang terjadi sebelumnya soal €5.000 itu tak berhenti sampai disana. Alida Itu benar-benar gadis penipu yang ternyata punya back-up kuat.
"Nona-nona,..." Antonio tergopoh-gopoh menghampiriku di sebuah row anggur siang itu.
"Nona Alida itu sekarang datang lagi. Dia membawa delapan orang tukang pukul Nona. Nona harus pergi sekarang, orang-orang itu pasti minta uang. Kelihatannya orang Napoli Nona... Kau tahu mereka mungkin Camaro, mereka bisa mengobrak-abrik tempat ini. Dan belum apa-apa mereka sudah pamer senjata."
"Astaga Camaro...." Camaro adalah mafia Napoli, masih Selatan Italia tapi lebih dekat ke bagian tengah. Camaro adalah mafioso yang terkenal karena perdagangan obat-obat terlarang dan bossnya yang kejam Roberto Condello dan mendekam di penjara sekarang. Entah siapa yang meneruskan kekuasaannya sekarang.
"Astaga..." Apa ini. Alida sialan itu, berani-beraninya dia mengacau di pertanianku dan membuat takut tamuku.
"Aku secepatnya mencarimu, aku bilang mungkin Nona sedang ke perkebunan yang jauh. Tapi dia bilang batas kesabarannya 20 menit sebelum mereka membuat kerusakan."
Aku langsung menelepon Guilio.
"Guilio, Alida membawa segerombolan mafioso Napoli kesini, dia pasti ingin membuatku membayar kembali uangnya double."
"Napoli?! Apa yang mereka lakukan di Sicily."
"Mereka akan mengobrak-abrik tempatku dalam dua puluh menit." Bagaimana dia menolongku dia ada di Milan sekarang.
"Alida sialan, tunggu disana. Aku akan menelepon Papà." Telepon putus, bagaimana aku menghindari kerusakan properti dalam lima belas menit. Aku harus mengulur waktu. Berpikir-berpikir Monica, bagaimana kau bisa menenangkan mereka dulu... Ahhh benar makanan dan banyak orang.
"Lima belas menit.... Kau muncullah sampai batas waktu mereka tidak sabar lagi dan bawalah mereka ke restoran, katakan Nonamu sedang menjamu tamu, dan kita punya pasta terenak di Sicily. Aku sedang menunggu bantuan datang untuk datang ...aku harus mengulur waktu. Kau mengerti Antonio."
"Mengerti Nona... Mengerti."
"Baiklah, pergi sana." Antonio menuju bangunan reception aku pergi ke area restoran dan wine tasting, tempat kami biasa menyajikan makan siang bagi para tamu.
"Ya ampun, jadi aku harus pura-pura mengajak mereka makan didepan tamu-tamu kita sementara kau pura-pura sibuk dengan tamu."
"Iya, mereka tak akan berani ke mamma, karena banyak tamu..." Ini yang bisa kulakukan memberi mereka makan dan mengulur waktu sebelum bantuan dari keluarga Benetti datang.
"Baiklah, Ibu mengerti yang harus diusahakan."
Dalam dua puluh menit kemudian mereka datang, terutama Alida Vali yang melipat tangan ke depan dadanya. Aku yakin kali ini berhasil.
"Antonio, pergi ke depan, jika Benetti datang cepat beritahu aku. Dan ceritakan situasinya lada mereka, aku akan membawa mereka sehabis makan." Aku berpura-pura sibuk dengan tamu di awal makan siang itu.
"Ahhh Tuan-tuan, menu kedua sudah dihidangkan, mari-mari duduk, Nona cantik sihlakan duduk, pastaku adalah yang terbaik disini... " Ibu dengan cepat mengambil alih situasi. Ada sekitar 30 orang tamu disana, pegawaiku ada 10 orang termasuk Ibu yang sedang melayani makan siang.
"Aku ingin bertemu Monica Bibi, ada yang harus kami selesaikan."
"Ahh Monica sedang dengan tamu? Duduklah sebentar dia tak kemana-mana, aku mentraktir kalian, dengan perut kenyang semua mudah dibicarakan. Benar bukan Tuan-tuan ...."
Ibu dengan baik melakukan tugasnya, piring besar pasta sudah dikeluarkan, aromanya bisa membuat siapa saja mengalihkan pikirannya. Aku benar-benar berharap ini akan berhasil sementara aku menyibukkan diri mengobrol dengan tamuku.
"Pastanya terlihat sangat enak..." Orang bodoh yang membuat kekacauan karena makanan mulai terpancing.
"Ini enak Zia, ..." Satu lagi umpan dimakan.
"Tentu saja enak...Buatan Bibi ini paling enak, pasta rumah terenak yang bisa kau temukan. Ayo makan, steak akan dikeluarkan sebentar lagi..." Dan mereka mulai duduk, aku lega sekarang. Setidaknya aku punya waktu kurang lebih 15 menit lagi, ini akan cukup. Aku akan membuat Alida membayar makan siang ini dengan pantas.