The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 46. Another Back Up



“Sembunyi  di balik lemari tinggi ini. Arahkan pistolmu ke pintu oke. Jika aku masuk aku akan mengetuk pintu ini dengan empat kali ketukan oke.Selama kau tidak mendengar ketukan apapun langsung tembak yang masuk.” Dan menemukan tempat aku  berlindung, setidaknya itu adalah lemari besi. Howard masuk dan mengambil persediaan amunisi, ternyata di lemari itu terdapat persediaan  amunisi.


“Iya.” Aku mengangguk patuh. Setidaknya aku tidak disuruh ikut menembak orang diluar sana.


Dia mengambil tindakan pengamanan, agen mata-mata itu dipukul belakangnya dengan  gagang senjata dan pingsan. Sekarang dia tak bisa memberikan tanda apapun jika temannya sampai kesini.


 


 


“Kau bisa. Benapas, tenangkan dirimu, buka mata dan telinga...” Tak usah diperintah pun aku akan melakukannya.


 


 


Nathan dengan cepat keluar, aku menunggu sambil membidik kepintu  dengan tegang  berusaha menangkap suara apapun yang terdengar di telingaku, rasanya ketegangan tak berakhir, tapi ini adalah  ruangan berperedam kurasa, tak ada suara yang bisa masuk ataupun keluar, mungkin sedikit jika ada suara keras atau suara pintu terbuka  tapi aku mengarahkan moncong pistol dengan waspada menunggu siapapun yang berani membuka pintu.


Beberapa saat tak terdengar apapun, aku mulai bertanya apa mereka sudah menyelesaikan semuanya,  atau musuh yang berhasil mengambil alih situasi. Tak ada suara apapun, tiba-tiba terdengar suara tembakan halus, aku bisa mendengar sedikit, nampaknya mereka berhasil menembus ruangan depan.


Debaran jantungku bertambah parah. Tembakan lain terdengar juga tak lama kemudian, dan kemudian hening. Siapa yang kalah! Jantungku bertambah parah debarannya, please ketuklah pintu itu. Akhiri kengerian ini. Menit-menit  senyap berlalu seperti  siksaan tiada akhir. Suara-suara terdengar tak jelas terdengar, kadang ada bunyi berdebuk di dinding, sementara tanganku bergetar mengarahkan senjata ke pintu yang masih tertutup.


Suara ketukan pintu empat kali membuatku menghela napas lega. Tapi melihat yang masuk kemudian jantungku berdetak kencang lagi...


“Gosh! Nathan?!” Dia dan John masuk ke dalam. Baju T-shirt putihnya terkena darah, yang mengalir membasahi lengannya, sementara dia nampaknya berusaha menekannya. Aku terbelalak, ... ”Kau tertembak?!”


“Tidak ini cuma terserempet peluru.” Aku menghela napas lega untuk kesekian kalinya mendengar dia hanya terserempet peluru.


“Lepas bajumu Boss.” John datang dengan kotak P3K, dan mulai menekan pendarahan dengan kasa bersih. “Kau butuh morfin?” John bercanda tentu saja menawarkan morfin. Mereka punya suntikan morfin di P3K, plus kit penetral gas syaraf? Perlengkapan  mereka sama seperti tingkat prajurit militer di medan perang!


“Jangan bercanda.” Nathan masih bisa tersenyum.


“Hanya terserempet...” Aku  mengulang perkataannya, Dia melepaskan t-shirtnya, sebuah pemandangan otot tubuh sempurna terpampang didepan mataku. Tapi disamping itu lengannya terluka. Benar sepertinya terserempet, tapi cukup dalam, dia tak mengeluh ketika John membersihkan lukanya, membebat perban untuk menghentikan pendarahan.


“ETA 30 menit Boss.”


“Apa aku akan ikut bersama kalian?” Aku bertanya ke Nathan yang lengannya masih dibalut oleh John.”


“Iya. Masih terlalu berbahaya disini. Sementara kita menghilang dulu.”


“Lalu bagaimana dengan  orang-orang yang mengejar kita, apa mereka mati?”


“Iya, nanti ada orang yang akan membersihkan mereka.” Ada orang  yang akan membersihkan. Ini seperti mereka adalah sekumpulan penjahat yang sudah punya sistem operasi terstruktur sehingga nampaknya membersihkan kekacauan seperti ini adalah  hal yang biasa. Dengan apa aku melibatkan diri. Aku terdiam begitu saja, sekarang hidupku tampaknya  cukup kacau. “Kau baik-baik saja, ...”


“Aku? Entahlah. Kurasa  hidupku sekarang cukup kacau.” Dia tersenyum kecil.


 


“Kau akan terbiasa nanti.”


“Aku akan terbiasa?” Kenapa kedengarannya itu melegakan, tapi disisi lain  seperti ironi. John selesai membalut lukanya, sekarang lengannya terbalut sempurna.


“Kau punya hoodie disini?” Dia bertanya pada John. Mungkin pengawal-pengawalnya sering menjadikan rumah ini tempat tinggal.


“Ada sebentar kuambilkan.” Aku memuaskan diri menatap tubuhnya yang sempurna itu. Dia berbalik melihatku, dan aku tertangkap memperhatikannya, secepatnya aku mengalihkan pandangku. Kenapa targetku sesempurna ini, bisakah dia boss tua gembrot sehingga aku lebih mudah mengenyahkannya dari pikiranku. Ini keuntungan atau kerugian sebenarnya.


“Boss, kami akan bersiap.” John melempar sebuah Hoodie hitam padanya dan hilang dari ruangan.


“Nat, bisa tolong aku, aku tak bisa mengangkat lenganku sekarang.” Aku datang padanya, membantu memakaikan  t-shirt pas badan itu. Dia meringis kesakitan saat  dia berusaha  memakaikan lengan baju dengan tangan yang terluka itu. Sisa parfumnya tercium, olehku. Apa aku akan terbiasa juga dengan parfum ini seminggu kemudian.


“Sakit? Kau tak punya penahan rasa sakit disini?”


“Harusnya ada. Nanti kutanya pada mereka dulu.”