The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 31. Meet Javier Again 2



"Aku pergi." Aku mengambil tas dan beranjak dari restoran itu. Meninggalkan pasangan itu. Tak mau dianggap membawa masalah.


"Hei tunggu..." Silvia masih mencoba memanggilku, apa dia sangat suka drama? Ini tempat umum apa dia tidak malu membuat keributan. Aku tak memperdulikannya dan terus berjalan ke depan.


"Eliza." Sampai agak jauh dari restoran aku bertemu dengan Bova. Mungkin dia sedang bertemu kolega juga disini. Kali ini dia tidak memanggilku Vanilla.


"Ohh Bova,..." Aku tersenyum padanya.


"Kau mau pergi?" Silvia gila itu masih mengejarku ke muka restoran. Bova melihat gadis itu masih belum puas, masih berusaha menjambakku. Gila! Aku mengangkat tanganku melindungi rambutku. Sekaligus bersembunyi dari kuku panjangnya yang dicat merah itu. Nampaknya Javier kesulitan mengendalikan wanitanya ini.


"Hei...hei ... tunggu dulu ada apa ini." Dia menghalangi wanita itu.


"Ular! Kesini kau!" Astaga wanita tak tahu malu. Mencari keributan didepan umum.


"Silvia hentikan." Kali ini kekasihnya alias Javier sendiri yang menghentikannya.


"Kenapa dengan wanita ini?" Bova bertanya padaku.


"Kau tak puas menganggu kekasihku ular!?" Bova melihat laki-laki di belakangnya itu, penasaran siapa yang disebut kekasih.


"Siapa yang kekasihmu?" Bova menuntut penjelasan.


"Wanita gila! Kami hanya makan malam di restoran!"


"Ayo pergi!" Aku menarik tangan Bova menjauh.


"Kau siapa?" Dia tak bergeming dengan tarikanku tapi bertanya kepada Javier. Tapi malah berdiri bertanya kepada Javier.


"Aku mantan suaminya, aku hanya ngobrol dengannya, ada yang harus kuselesaikan. Ini kekasihku, Silvia ..."


"Kau ular kesini kau?!" Psychopath gila ini belum puas jika belum menjambakku. Aku menarik Bova pergi daripada rambutku rontok. Aku kasian dengan Javier sekarang apa dia tak tahu kekasihnya gila.


Javier terlambat menariknya dan dia merangsek maju, tapi Bova yang didepan sekarang.


"Dia kekasihku! Kau wanita gila. Vanilla kenapa kau bisa bertemu wanita gila ini." Dia menghentikan Silvia yang maju didepannya. Silvia berhenti. Dan menatap Bova.


"Vanilla? Kekasihmu?" Javier yang bertanya sekarang dan menatap kami berdua. "Benar Eliz?" Aku tergagap. Daripada aku tak bisa pergi dari sini, lebih baik ku iyakan saja.


"Benar." Akhirnya aku mengiyakannya di depan Javier. Bagaimanapun kami sudah berkahir. Bova yang melindungiku selama ini. Bova terlihat tersenyum.


"Ohh..." Aku tak tahu tanggapannya, tapi sudahlah kami sudah tak ada hubungan kecuali teman.


"Aku Javier, senang berkenalan denganmu, kami hanya berteman sekarang. Rupanya kau yang membantunya selama ini. Aku senang Eliza menemukan bantuannya. Aku hanya memberikan bagiannya dari kesepakatan kami sebelumnya hari ini dan mengajaknya makan malam sekalian." Javier mengajak kenalan Bova.


"Aku Fabricio Bova, senang berkenalan denganmu." Bova tidak memasang pertahanan untungnya mendengar Javier juga menjelaskan dengan benar.


"Kami pergi dulu saja, bye Javier." Aku tak ingin bermain drama di tempat publik ini. Nanti ular itu menemukan celah untuk playing victim.


"Iya baiklah. Bye." Aku mengajak Bova berjalan pergi kemudian.


"Vanilla, apa dia berlaku buruk padamu?" Aku melihatnya.


"Iya siapa lagi."


"Tidak, dia hanya memberikanku surat perceraian kami dan memberiku cek bagian pekerjaanku di restoran."


"Dengan mengajak kekasih barbarnya itu?"


"Tidak, dia menemukan kami."


"Ohh."


Aku mengulum senyum, tadi dia mengatakan aku adalah kekasihnya. Apa sponan karena dia cemburu aku bertemu Javier. Apa sebutan kekasih itu masih berlaku sekarang. Kurasa tidak


"Terima kasih sudah membelaku." Aku tersenyum manis padanya. Dia melihatku, tapi tak mengatakan apa-apa.


"Ohh ya aku lupa kau tak boleh terlihat bersamaku." Aku melepas gengaman tangannya. Tapi dia mengamit tanganku lagi.


"Aku tak perduli." Tak bisa kukatakan betapa jantungku berdebar senang sekarang. Dia mungkin cemburu sehingga tak ragu mengatakan aku kekasihnya, mungkin juga sekarang merindukanku karena seminggu ini kami hanya saling bicara di telepon.


"Kau tak perduli apa?" Aku hanya ingin mendengar dia mengatakan aku kekasihnya sekali lagi sebenarnya.


"Kenapa harus makan malam. Apa tak bisa datang ke kantormu dan menyerahkannya saja." Dia melepas tanganku dan malah bertanya, dasar pelit, apa sekarang dia masih cemburu.


"Apa salahnya makan malam dengan teman." Kalau begitu biarkan saja dia cemburu.


"Teman?"


"Teman."


"Teman yang selalu kau mimpikan?" Sindiran langsung sambil melihatku. Sekarang senyumku tambah lebar, Don Juan ini memang bisa cemburu juga rupanya.


"Aku susah mengenalnya sepuluh tahun? Apa kau pikir aku komputer yang bisa menghapus memori dengan menekan tombol DELETE, Atau kau ingin aku memimpikanmu? Katamu kita juga cuma teman..."


Aku memasang senyum lebar. Memancing Don Juan ini menyenangkan. Katakan aku kekasihmu lagi Don Juan. Kau hanya mengunakan kata sugar baby selama ini. Aku ingin kau mengakuinya dan terbiasa.


Dia memandangku dengan perhitungan sekarang. Aku tertawa... Dia belum mau mengatakannya. Ya sudah... Kita masih teman.


"Aku pulang oke. Terima kasih sekali lagi."


"Mana pengawalmu." Dia menghela napas akhirnya. Nampaknya dia tak ingin mengatakan aku kekasihnya lagi sekarang.


"Dia sudah menunggu di lobby. Aku pergi oke ... Terima kasih sudah menyelamatkanku dari ular itu." Aku melambai karena aku sudah dekat lobby.


"Baiklah. Hati-hati, jangan mimpikan mantanmu itu lagi." Aku meringis mendengar ujung perkataannya.


"Ya-ya-ya, terserah padamu saja."


Kau ingin mimpinya berganti. Kau tahu apa yang harus kau lakukan Don Juan.