The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 50. Ryohei Matsumoto 5



"Ryohei-san, aku tak bisa membocorkan apapun..."


"Aku masih kesal sebenarnya. Kenapa dia harus menjadi danna-mu dan harus berdiri didepanku. Kau tahu ... laki-laki, mereka merasa kesal jika menginginkan dan sudah membayangkan banyak hal tapi tak bisa mendapatkannya. Maaf baru kali ini aku bicara begini padamu, mungkin aku terlalu terus terang, tapi di usiaku kukira aku tak punya waktu untuk bicara terlalu bias, hmm mungkin aku pernah bicara begini , tapi kau seperti terlatih menanggapiku..."


"Maaf Ryohei-san,..."


"Kenapa kau harus minta maaf. Kau tak melakukan apapun yang salah. Ayo kita makan..."


Aku tersenyum. Bertemu di luar seperti ini terasa mendebarkan. Pertama kali aku merasa berani sedikit melanggar peraturan. Bukan pertama kali aku diajak makan diluar, tapi aku biasanya menolak dengan halus dengan berbagai alasan karena aku tak tertarik dengan mereka. Ryohei-san mungkin pengecualian pertamaku...



"Kuantar kau kembali?"


"Saya bisa kembali sendiri, tak apa... ini dekat. Saya mau ke Takasimaya." Aku menyebutkan sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari restoran kami.


"Tak apa. Mungkin cuma sepuluh menit mungkin kesana. Aku tak sedang tak buru-buru, menemanimu jalan-jalan sebentarpun tak masalah."


"Saya akan menggangu waktu Ryohei-san."


"Saya tidak keberatan, ayo..." Dia berdiri, kali ini dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Dan aku berdebar karena ini.


Aku sering mendengar cerita teman-temanku yang kadang terlibat kencan buta. Keseruan mereka bertemu pria muda di Aisekaya, semacam restoran yang menyediakan jasa mitch and match pasangan. Aku iri, aku tak bisa merasakan itu karena pekerjaanku melarangku, Bibi bisa pingsan jika aku berani ikut hal seperti itu.


Jadi disinilah aku, dengan debaranku sendiri saat seseorang meminta memegang tanganku. Saat dia memegang tanganku dan tersenyum padaku, aku rasa lututku lemas. Kenapa aku merasa bodoh sekarang.


Apa ini benar... kencan makan siang ini pengalaman pertama jika dibilang.


Kami tiba di luar restoran, mobilnya menjemput. Satu orang pengawal terlihat sementara ada mobil lainnya mengikuti. Seperti pengawalan yang dipakai Hisao-san dan sebagian tamu lainnya ochaya.


"Hmm...kurasa Minggu depan aku harus ke Tokyo."


"Aku akan jarang punya waktu di Kyoto. Aku akan berada di Tokyo kebanyakan mulai Minggu depan, jika kau di Tokyo Minggu depan, kau punya waktu luang."


"Sebenarnya saya punya satu hari libur Jumat besok di Tokyo." Aku memberi tahunya jadwalku.


"Kalau begitu aku akan meneleponmu minggu depan."


"Baiklah." Aku mengangguk dengan usulannya. Aku memang pergi ke Tokyo Jumat tapi acara dengan Hisao baru berlangsung Sabtu.


"Ahh aku lupa, ... Yuto, ambilkan kantong kecil di dashboard mobil." Dia memerintahkan mengambil sebuah bag kertas, dia memberikannya padaku didalamnya ada sebentuk kotak yang dibungkus dengan rapi. "Aku ingin memberikanmu ini saat bertemu kemarin. Tapi aku terlanjur kesal dan melupakannya..."


"Apa ini?"


"Cuma hadiah kecil untukmu, bukalah nanti dirumah." Dia memang sering memberi hadiah, aku yang tak peka. Kupikir selama ini, itu hanya rasa terima kasihnya.


"Terima kasih, Ryohei-san." Aku tersenyum senang atas hadiah kecil itu.


"Hmm..." Dia hanya memperhatikan senyumku.


Aku sampai di department store dan berterima kasih atas tumpangannya. Sorenya sesampai di okiya aku tak sabar membuka hadiah darinya.


"Kelihatannya kau gembira sekali." Bibi memperhatikanku yang pulang dan lewat didepannya. Haruskah aku memberi tahunya.


"Bibi, sebenarnya semalam sesuatu terjadi?"


"Apa yang terjadi..."