The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 59. Are You Jealous 3



“Aku selama ini tak pernah bertanya, kau dan Javier itu punya urusan belum selesai?”


“Maksudmu, urusan yang mana? Kami sudah bercerai, sudah selesai dari beberapa bulan yang lalu, sekarang dia hanya teman tentu saja.”


“Kau pernah menyebutkan kau meminta 30% bagian restoran, apa itu sudah selesai.”


“Sudah dia sudah memberikannya. Dia akhirnya memberikannya,setelah aku marah padanya karena kekasihnya itu ikut campur urusan  kali, tapi itu sudah lama, mungkin enam bulan yang lalu. Jika dia tidak memberikannya tak mungkin aku bisa bicara seperti sekarang.”


“Dia belum menikah dengan kekasihnya itu?” Pertanyaan selanjutnya menyusul.


“Entahlah dia bilang,  dia merasa wanita itu tidak cocok dengannya. Jadi sekarang dia memutuskan hubungan mereka.”


“Ohh benarkah? Jadi sekarang dia single lagi tanpa pendamping.”


“Hmm iya.”


“Bagaimana perasaanmu...” Aku menghela napas mendengar pertanyaannya.


“Perasaanku? Ya kukatakan padanya semoga dia cepat menemukan yang baru. Sayang  aku tak mungkin kembali padanya. Aku bersamamu sekarang.”


“Kau terlihat sangat baik padanya, walaupun dia banyak mengecewakanmu, kau masih punya rasa padanya bukan.”


“Aku punya rasa padamu.” Aku melihatnya, lalu menciumnya untuk menjawabnya. Ciuman gemas itu, membuatnya membalasku. Dia manis jika sedang cemburu, dan aku suka dicemburui. “Jelas oven-nya Vanilla. Sudah kukatakan kami sudah berpisah...Kau tak perlu cemburu lagi, tak ada yang perlu kau cemburui.”


“Bagaimana jika dia menginginkan kau kembali.” Aku tertawa, karena aku percaya itu tak akan pernah terjadi.


“Sayang, sudah  kukatakan itu tak mungkin.”


“Dia terlihat masih perhatian padamu. Padahal kalian sudah bercerai. Apa dia membantumu sesuatu? Atau memberimu bantuan yang tidak  bisa kau  bayar. Mungkin yang harus kau kembalikan padanya kemarin saat dia tahu  apa masalahmu?”  Aku diam. Kenapa dia bisa menebaknya.  “Kau diam, berarti benar? Kau pernah minta seseuatu padanya, kau kekurangan uang? Kenapa kau tak minta padaku?”


“Tidak, itu. Tadinya dia bilang untuk menyelesaikan hutang restoran. Dia memberikannya di awal aku mendapatkan bantuanmu. Dia bilang kembalikan nanti saja, bisa diputar jika aku memerlukan tambahan modal.”


“Hmm...Berapa?”


“Sayang dia hanya memberikan itu sebagai  pegangan, dia bilang aku boleh mengembalikannya nanti. Dia tak bermaksud apapun, bahkan dia tidak pernah meneleponku sebelumnya.”


“Aku hanya tanya berapa.”Bova ini melihatku seperti menginterogasi penjahat sekaranya,  pertanyaannya tidak bisa dibelokkan.


“2 juta.” Aku melihat reaksinya. Dia diam sesaat.


“Kuberikan padamu penggantinya. Transfer kembali ke dia.” Giliran aku terdiam.


“Dia tidak... “ Aku menjelaskan bahwa pinjaman itu  bukan berarti kami masih punya hubungan tertentu.


“Vanilla sayang.” Dia memotongku.  “Kembalikan padanya oke. Jika tidak aku sendiri yang akan mengembalikannya...” Aku diam, tampaknya dia akan berkeras untuk yang satu ini. “Vanilla, kau harus mengembalikannya. Aku yang  akan mengantikannya besok.” Ketika tidak dijawab, dia menegaskan padaku lagi. Oven ini tersinggung aku menerima uang dari mantanku.


“Hmm...baiklah, aku akan mengembalikannya....tapi  kau tak usah mentrasferku.”


“Kenapa, aku bisa memberimu.” Dia langsung menaikkan alis tak suka aku menolaknya.


“Bukan itu maksudku, aku hanya...”Dia membungkamku dengan ciumannya. Memelukku dengan erat sehingga aku merasa kehabisan napas. Itu cu*mbuan kecemburuan, panas, menuntut dan terburu-buru. Napasnya berubah dengan cepat, dia membuatku berada di bawahnya segera tanpa melepaskan ciumannya. “Kau kenapa, kau marah padaku...” Dia menatapku.


“Kenapa kau menerima uangnya, tapi menolak uangku.” Oven yang sedang panas ini  mengatakannya tanpa tersenyum.


“Kenapa  kau membicarakan soal membebani? Jika aku katakan bisa memberikannya berarti itu bukan beban. Jika kau butuh kenapa kau minta  padanya bukan padaku.” Gawat dia marah sekarang. Dia menghela  napas dan diam sekarang. Tersinggung karena aku masih menerima dua juta itu, tapi mengatakan aku tak perlu mentransfernya.


“Sayang, aku tak minta, dia yang memberikannya begitu saja. Akan kukembalikan oke.” Dia tak bergeming. Semua perkataanku tampaknya akan salah sekarang.


“Terserah padamu, jika kau mau menyimpannya. Simpanlah.” Dia menghela napas  panjang. Kali ini aku membuat kacau. Saat dia membalik badan aku tahu aku sudah menyinggungnya.


“Sayang, kau marah padaku. Aku tak bermaksud seperti itu.” Dia tak berbalik padaku.


“Tidurlah, aku hanya tak suka. Tapi itu uangmu, aku tak punya hak mengaturnya.” Ketersinggungan ini harus diselesaikan. Dia tak mau berbalik, aku memaksanya memutar hingga menghadap kearahku.


“Apa yang kau inginkan Vanilla.” Sekarang  aku memeluknya erat-erat agar tak menghadap ke arah  lain.


“Aku  salah. Aku minta maaf, jangan memunggungiku seperti itu. Aku tak bermaksud meremehkanmu, atau mengatakan kau akan terbeban, kau tahu aku tak bermaksud begitu. Jangan marah, kumohon...”Dia akhirnya balas memelukku.


“Aku cemburu, tampaknya mantanmu itu memang masih berpengaruh padamu. Tapi seperti katamu 10 tahun bukan waktu yang singkat, aku dan kau belum setahun  bertemu. Mungkin jika dia memintamu kembali kau akan kembali  padanya...” Aku tertawa kecil, dan menciumnya gemas.


“Aku senang kau cemburu.” Aku tersenyum padanya. “Sangat  senang.”


“Aku  tidak senang.” Dia masih mempertahankan wajah kakunya.


“Dengarkan aku oven-nya vanilla,...”  Aku mencubit hidungnya. “Aku hanya senang karena dia memandang hubungan kami sebelumnya, aku sudah pernah katakan itu padamu sebelumnya, tapi untuk kembali jelas tidak bisa, karena kau tahu sebabnya, aku ternyata tak sempurna. Keluarganya juga tak bisa menerima itu. Jadi itu tak mungkin, dia cuma teman baik... Walaupun kami bisa bicara banyak hal, tapi cuma atas  dasar kami teman.” Dia menatapku masih dengan tak rela.


“Aku salah, daddy boleh menghukumku.” Aku memutar jariku di titik lemah dadanya, menggodanya dengan ciuman, dia tak akan bisa bertahan. Aku menyadari pandangannya dan napasnya yang mulai tak tenang.


“Daddy...?” Dia mulai tersenyum menyadari aku sengaja menggodanya. Ini tanda yang bagus.


“Jangan marah, nanti  bab*y menangis.”


“Kau tidak cocok bermain peran itu.” Sekarang dia tertawa.


“Kau menyebalkan,...”  Sekarang  aku yang pura-pura membelakanginya, tapi kemudian dia yang menarik pinggangku ke dekatnya dan mencium tengkukku. Aku dengan   cepat berbalik padanya sekarang dan mencium  bibirnya. Tak menunggu lama untuk sepenuhnya jatuh dalam cumbuannya, kali ini dia yang tak sabar.


“Ehm...” Aku meremas lengannya untuk menghentikannya ketika dia terlalu cepat menyatukan kami.


“Kau bersamaku sekarang, aku bisa memberimu semua yang  kau inginkan.” Itu dikatakan ketika menatap mataku, menungguku terbiasa dengan bagian dari dirinya. “Dua juta bukan apa-apa, jika dia bisa memberimu kenapa aku tidak. Kau Vanillaku.” Dia jadi manis sekali jika cemburu.


“Aku tahu... Kapan aku pernah meragukanmu.”


“Mintalah sesuatu. Buat aku jadi sugar daddymu...” Bertepatan dengan dia menjauhkan dirinya dan mendekatkan lagi perlahan. Aku memeluknya erat. Pikiranku buyar  ketika dia mulai menguasai tubuhku, dia membuat tubuhku ketagihan. Aku tak bisa bicara, yang  ingin kulakukan hanyalah menikmati dirinya.


“Vanilla sayang,...” Dia berhenti karena aku tak meminta apapun, hanya mendesah dengan pasrah dibawahnya.


“Jangan berhenti aku minta itu.” Dia tertawa kecil sebelum mengabulkan keinginanku. Membuatku berada di awang-awang beberapa saat kemudian, mungkin lagi dan lagi....tersenyum bahagia dan melingkarkan diriku yang  terlalu lemas berpegangan padanya.


“Aku hanya minta tetaplah disampingku, jangan meragukanku.” Sebuah kalimat sederhana, membuatnya melihat padaku. “Bertengkar itu tidak enak, tapi aku senang kau cemburu. Jangan cemburu pada temanku. Karena dia hanya akan jadi teman biasa sampai  kapanpun.”


Malam larut, aku aman disisinya. Yang kuminta adalah  malam-malam  berikutnya juga.


Jika aku punya permintaan, mungkin akan kukatakan. “Bolehkan kuminta sepasang cincin untuk kita.”


Tapi aku tak cukup berani mengatakannya. Dia yang harus memikirkannya.