The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 8. Benetti Madre 2



Aku menerima pesan dari Antonio sepuluh menit kemudian bahwa yang kutunggu sudah datang. Akhirnya... aku membalasnya, aku akan membawa orang-orang ini ke reception samping. Biarkan saja mereka selesai makan.


Tapi nampaknya Alida bukan orang yang sabaran.


"Aku ingin mengambil uangku, kali ini 3x lipat dari yang kutinggalkan disini." Dia menghampiriku yang sudah tak bergabung di meja tamu.


"Kau masih dendam soal €5.000 itu, astaga padahal kau yang mencari masalah."


"Bayar €15.000 dan masalah kita selesai, aku menerima transfer tentu saja." Dia membalasku karena kemarin aku mengatakan padanya aku menerima kartu kredit.


"Hmm.... baiklah, kubayar kau cash saja."


"Kau menyerah begitu saja?! Kemarin kau begitu sombong didepanku."


"Aku lebih sayang nyawaku dibanding €15.000." Aku tersenyum padanya, yang pentinģ adalah menjauhkan gerombolan ini dari tamu. Aku memberi tanda pada Ibu aku menghandle ini sekarang.


"Kau pintar juga rupanya." Aku melangkah pergi membawa mereka berjalan kembali bangunan paling depan.


Dan yang kutemukan adalah.


"Zia, kau kesini?" Ibu Guilio ada didepanku dan didepan sana adalah segerombolan orang-orang kurasa ada lima belas orang. Wanita yang sudah sedikit beruban cantik itu punya aura yang tidak bisa dibantah, sedikit banyak aku mengaguminya.


"Monica sayang, aku kangen pasta Ibumu, sudah lama aku tak mengobrol dengannya, aku kebetulan ada pas Guilio menelepon Ayahnya." Alida mundur ke belakang. "Kemarin sebenarnya aku mendengar ceritanya dari Guilio, kau hebat sayang." Aku mengangguk tak bisa bicara.


Sementara gerombolan itu dikurung oleh orang yang dibawa Ibu Guilio sekarang.


"Kau yang bernama Alida, kau punya nyali juga. Duduk disini sayang." Nyonya Benetti tersenyum. Senyum yang sedikit mengerikan. Alida terpaksa duduk, tapi sekarang dia tak berani bersuara sama sekali.


"Hmm...cantik, punya nyali, tapi sayang bodoh. Kau lihat penampilan gadis-gadis ini Monica, sangat stylish dari ujung kepala sampai ujung kaki, kita disini hidup sedikit berbeda Monica, jika mereka mementingkan merk dan penampilan, tak sama seperti kita. Kita disini hidup di pikiran berbeda, nilai lebih berharga di mata kita daripada membeli merk." Aku tertawa menanggapi Bibi.


"Aku setuju Zia. Aku tak bisa berkilau seperti itu, bukan gayaku sama sekali..."


"Panenmu bagus? Guilio bilang kau berniat membeli lahan lagi, kau punya bakat bisnis seperti Ayahmu. Bahkan jauh lebih baik darinya. Lihatlah betapa pertanian ini cottagenya sangat bagus sekarang. Aku padahal mungkin baru setahun tak kesini, ini keren sekali ...."


"Panen kali ini bagus Bibi, dan musim liburan ini juga banyak turis datang. Guilio membantuku dengan menitipkan banyak brosur di jaringan hotel mereka mulai tahun lalu, dan akhir musim semi sampai sekarang sangat bagus Bibi. Aku harus berterima kasih."


"Kau memang bekerja keras Monica. Guilio selalu bilang kau memang layak dibantu. Sekarang aku paham kenapa dia mempercayaimu seperti itu, pertanian ini sangat berubah berapa tahun ini. Ibumu pasti bangga padamu, dan Ayahmu akan bahagia diatas sana melihat apa yang kau lakukan sekarang..." Dia memujiku dan aku hanya bisa berterima kasih menerima pujiannya.


Dia membuka dompet kartu gadis itu.


"Woow, satu platinum satu black, kau kaya heh? Kau dari mana?" Alida diam tak menjawab. Ibu Guilio rupanya penasaran." Hmm Napoli . Orang-orang Camaro? Orang Saviano, Bova atau Nero."


"Bova..." Alida tak berani tak menjawab sang Nyonya Benetti. Tampaknya sebenarnya dia tahu siapa Benetti di Sicilian. Dia tak menyangka aku bahkan bisa membawa Ibu Guilio langsung kesini.


"Ohhh Bova rupanya, siapa Giancarlo Bova bagimu?" Nyonya Benetti melanjutkan lagi pertanyaannya.


"Pamanku..." Alida menjawab dengan menunduk.


"Ohh Pamanmu. Hmm... wilayah ini dalam perlindunganku, jika kau berani muncul lagi disini, aku akan menelepon Giancarlo Bova untuk menjadikanmu pembersih kandang di perternakan selama setahun, berani sekali kau mencoba menipu putraku. Bova yang baru anggotanya 500 orang itu berani macam-macam disini. Jika dia tidak mengakuimu aku akan menjadikanmu pupuk di ladang anggurku, metodeku cukup sederhana. Kau mengerti gadis cantik?" Ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri. Alida tak berani menjawab.


"Ohh ya Monica, apa kau punya cash sekitar €10.000 sayang?" Dia bertanya padaku.


"Ohhh ada Bibi." Aku menyiapkan uang cash untuk membayar pekerja panen.


"Berikan aku, gesek dua kartu ini €15.000. €5.000 nya untukmu. Cash €10.000 untukku."


"Ohh sebentar Zia." Wow, dia bukan lagi mengambil double tapi triple. Aku membawakan uang yang dimintanya dalam kantong kertas dengan cepat dari lemari brangkas kasir.


"Thanks sayang. Roberto kemarilah..." Dia memanggil kepala orang-orang yang dibawanya. "Ini bagikan ke mereka €5000, bilang jangan datang kesini lagi. €5000 bagikan ke anak-anak."


"Baik Nyonya..." Orang yang bernama Roberto itu mengurus segalanya.


"Nahhh aku lapar. Ibumu ada didapurnya?"


"Seperti biasa Bibi. Itu tempat bertapanya."


"Ayo-ayo kita makan. Aku kelaparan...." Dia melirik gadis yang tak berani bersuara itu. "Pergilah, jangan sampai aku melihatmu sekali lagi." Dia melempar dua kartu itu ke depan gadis itu.


Aku meringis lebar. Kasihan sekali dia mencari masalah dengan orang yang salah.


"Zia, kau sangat keren..." Aku merangkul lengannya. Dan dia tertawa senang.


"Sayang, kau harus tahu memanfaatkan posisi sedikit." Zia ini memang sang madre Benetti.