The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 72. Catania 3




POV  Nathalie (Kate)


Kami selesai makan siang, sekarang kami kembali melihat kamar kami. Membereskan koper kami sebentar sambil bercerita. Bertemu dengan teman-teman baru sangat menyenangkan. Sebagai catatanmu mereka  adalah istri-istri para gangster. Triad, Yakuza, Mafioso, dan Galacian Spanish Gangster, betapa pertemanan aneh ini agak dan menakutkan. Tapi ternyata orang-orangnya cukup normal menurut pandanganku, mereka tidak sombong atau membuatmu takut, kecuali mungkin mereka bisa melakukan sesuatu yang menakutkan jika kau menggangu  mereka.


"Kau tahu kami nanti tinggal menunggu undangan kalian." Franda adalah yang pertama menikah diantara mereka, tahun lalu mereka sudah menikah, walaupun mereka belum mempunyai bayi, malah Guilio duluan yang mempunyai bayi sekarang. Dia menempuh perjalanan  cukup jauh dari Singapura.


"Iya, kita tinggal menunggu saatnya menerima undangan dari Nathan dan Kate di Chicago."


"Sebenarnya kami baru bertemu, jadi mungkin tak secepat itu. Masih banyak pengenalan yang harus kami lakukan." Aku menjawab harapan mereka, andaikan mereka tahu bahwa bahkan belum ada kata cinta yang terucap dari bibir kami.


“Benarkah, kelihatannya Nathan orang yang serius. Dari empat orang disana kurasa dia yang kelakukan masa mudanya paling normal.” Monica yang nampaknya sudan mengenal teman-teman Nathan ini membuat komentar yang sama seperti yang dikatakan Howard. “Aku berharap kalian semua cepat menyusul, mungkin  kita semua nanti akan punya anak-anak yang seumur dan pergi ke universitas yang sama. Gadis-gadis dimana-mana sama saja,  kami punya  banyak mimpi indah tentang anak-anak kami.


Apakah ini adalah cinta, rasanya benar-benar memabukkan. Semua yang dilakukannya membuat semua orang berpikir seperti mengatakan bahwa ada sesuatu diantara kami dan itu tidak bisa diabaikan.


"Contohlah saudari kita ini, dia tak berlama-lama. Bahkan langsung mendapatkan malaikat kecilnya, ohh aku iri sekali." Setsuko menimpalinya.


"Aku? Ohhh aku  kenal dengannya sudah 20 tahun? Dia sudah mengencani banyak gadis sebelum aku, tapi ternyata tak ada yang bisa bertahan di hatinya. Dan yang menyadarkannya adalah Setsuko ini..." Pengantin yang berbahagia ini menceritakan perjalanan cintanya yang ajaib kepada kami, bagaimana mereka bertemu dan berakhir bersama.


Setsuko yang dijodohkan oleh Kakek Hisao, Franda yang tak sengaja bertemu dengan Philip di Hongkong, dan mengejarnya sampai ke Jakarta. semuanya punya kisah yang luar biasa ternyata. Tak ada yang mudah, semua orang punya kisah  pertemuan dan penjuangan cinta mereka sendiri-sendiri.


Andai aku bisa berandai-andai memiliki kisah seperti mereka, tapi sungguh jika aku hanya mendapatkannya sebagai temanpun aku sudah cukup puas. Kurasa aku hanya membohongi diriku sendiri disini, kenapa dia mengajakku kesini dengan teman-temannya. Entahlah mungkin hanya agar dia punya teman. Aku juga tak tahu.


Kami menyudahi makan siang dan obrolan itu untuk memberi kesempatan diri kami beristirahat kemudian, badanku pegal sekali karena penerbangan 16 jam itu kurasa yang akan kulakukan selanjutnya adalah tidur saja.


Tapi melihat pemandangan hijau itu aku rasanya tak bisa mengistirahatkan diriku sama sekali.


"Nathan, ayo kita jalan-jalan ke sekeliling sini." Kutarik tangan hangatnya sore setelah makan siang, aku tak sabar melihat pertanian ini. Kami telah membereskan koper kami. Kamar indah dengan pemandangan hijau dikelilingnya itu membuatku tak sabar untuk keluar walaupun lelah.


"Kebunnya tak kemana-mana, kau tak lelah..." Dia menarik tanganku sehingga aku jatuh ke pelukannya di sofa empuk itu. Dipeluk seperti ini bagaimana itu bisa membuatku berpikir lurus.


Aku melihatnya...


"Iya aku lelah, tapi benar-benar rasanya ingin turun ke bawah sana menjelajahi kebun-kebun luas itu mungkin menemukan ulat di daun-daunnya. Ayo temani aku..." Aku memberikan ciuman kecil padanya, aku ingin menciumnya, dia terlalu menggoda untuk tidak dicium.


Tapi dia malah menarik tanganku kembali dan membuatku duduk dalam pangkuannya  menangkupku dalam pelukannya eratnya. "Kau terlihat gembira sekali." Aku berdebar-debar dalam pelukannya sekarang, mukaku panas saat dia memelukku seperti memilikiku seperti ini.


"Aku tak sabar melihat kebunnya..." Suaraku pelan ketika kami terlalu dekat dan dia menginginkan ciumanku lagi . Bagaimana aku bisa terperangkap dalam lengan hangatnya dan berusaha untuk tidak jatuh cinta. Jika saja mimpi di Catania ini tidak pernah berakhir. Kali ini dia membuat ciuman kami  seperti selamanya dan kami adalah kekasih yang sedang jatuh cinta satu sama lain, temanku ini menciumku begitu rupa dan membuatku merasa memilikinya.


"Nathan, kenapa kau menciumku?" Aku ingin tahu apa arti ciuman untuknya. Bagiku ciuman sangat pribadi. Teman harusnya tak terlibat emosi seperti ini, apa dia mampu menanggung jika aku jatuh cinta padanya dan apa aku bisa menanggung resiko jatuh cinta padanya.


"Aku merindukanmu." Perkataannya membuatku memandangnya.


"Merindukanku sebagai apa maksudmu? Teman tak saling merindukan Nathan, ... aku takut,..." Dia menghentikan kata-kataku dan bibirnya mengapaiku lagi. Apa ini maksudnya dia merindukanku dan ingin sesuatu dariku. Apa lebih baik aku tak usah bertanya soal ini. Baiklah, anggap saja ini bayaran bantuannya aku tak keberatan. Aku menyisipkan tanganku ke kulitnya.


"Apa yang kau lakukan,..." Nathan menghentikan ciumannya saat aku jemariku menyentuh kulitnya.


"Bukankah kau ingin..."


"Aku cuma ingin menciummu. Apa kau benar-benar berpikir aku meminta bayaran atas bantuanku?"


"Jikapun iya, tak apa..."


"Kate,... Aku tak ingin bayaranmu. Kau kukenalkan kepada teman-temanku, kau tahu apa artinya itu?" Dia melihatku lama, aku tak tahu apa jawaban pertanyaannya dan tak berani menebak.


"Apa artinya..."  Akhirnya aku memberanikan diri bertanya apa yang  ada dalam pikirannya.


"Aku hanya wanita biasa yang tak punya latar belakang. Kau seperti Tyson, tak terjangkau bagiku... Apa benar...."


"Kau wanita luar biasa yang  berani berdiri untuk dirimu sendiri. Mungkin saat ini kau punya banyak yang harus kau buktikan, tapi ada saatnya kau akan perlu seseorang untuk bersandar, teman untuk saling bercerita... Aku akan ada untukmu, dan tak akan pernah  membiarkanmu melalui semuanya sendiri..." Dia memandangku, merapikan rambutku dan  membuatku merasa terperangkap dalam keberadaannya.


"Nathan...kau tahu, dalam mimpi yang manapun aku tak pernah berpikir kau akan mengatakan ini." Aku tertawa kecil didepannya, aku masih tak percaya keberuntunganku untuk mendapatkan cintanya. Siapa aku, aku bukan siapa-siapa saat ini.


"Jika begitu percayalah." Aku memeluknya menyembunyikan wajahku di bahunya. Pengakuan  cinta ini membuatku mabuk. Bagaimana aku bisa menolaknya.


"Aku masih harus membereskan banyak hal... Kau tahu, kita belum bisa bersama. Aku tak bisa terlihat jatuh cinta pada target penyelidikanku.." Aku masih harus menyembunyikan hubungan kami karena dia targetku.


"Aku tahu, itu sebabnya aku membawamu bicara disini. Agar kita bisa bersama sesaat, tak  ada yang akan tahu, lagipula nanti jika kau tak menemukan apapaun kau akan keluar dengan bersih, tak ada yang akan menyalahkanmu."


"Nathan, apa kau yakin?" Aku takut mengharapkannya. Sekali lagi aku bertanya padanya.


"Kita menempuh belasan jam perjalanan ke pulau ini untuk bisa bersama. Apa yang membuatmu tidak yakin?" Aku tersenyum. "Apa kau tidak menyukaiku..." Dia memeluk pinggangku erat. Bagaimana aku bisa tak menyukainya.


"Apa aku perlu mengalahkanmu di Jujitsu sebelum kau menyukaiku, ...." Aku tertawa dalam debar jantungku yang terlalu senang sekarang.


"Kau sudah pernah mengalahkanku..."


"Ohh ya kapan." Mukaku panas mengingat bagaimana dia melakukannya terakhir kali, membuatku berada dibawahnya di ranjangnya di Malibu. Dia melihatku dan membaca ekspresiku.


"Gadis nakal, apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?" Nathan tersenyum akhirnya. Aku menciumnya sebagai jawaban pertanyaannya.


Ciuman itu sekarang lebih panas. Bukan lagi sentuhan bibir tapi cumbu*an memabukkan.


"Nathan... aku ingin berbaring."


"Kau lelah?"


"Bukan, aku hanya ingin memelukmu dan berbaring." Aku ingin menciumnya sambil memejamkan mataku. Dia menarikku ke bed kami,  membuat kami berbaring bersisian. Membawaku dalam pelukannya, menciumku dengan perlahan sehingga aku menikmati pelukannya, sentuhannya kami tak terburu-buru untuk apapun. Seperti kekasih yang menghabiskan waktu menatap satu sama lain tanpa merasa  bosan, menyentuh mencium, saling memiliki satu sama lain.


"Nat, ..."  Kali ini tanganku menyusup ke perutnya, merasakan lekukan hasil latihannya yang selalu bisa membuatmu menahan napas.


"Aku tak membawa pengaman." Aku sadar dia menyentuhku dibawah sana, aku mengelinjang tak sabar ketika dia menyentuhku dan menggoda.


"Kau sengaja bukan." Aku memandang matanya


"Iya, aku mau kau tanpa apapun menghalangi kita..." Tanpa peringatan dia menyatukan dirinya. Aku merema*s lengannya kuat.


"Nath,..." Desakan manis itu membuat napasku terhenti dan dia mengerang memelukku, aku suka bagaimana dia terlihat menyukainya.


Aku melihatnya bekas luka dibahunya yang sudah sembuh tapi masih meninggalkan bekasnya. Kulitnya menyentuhku dengan mesra pelukannya terasa memilikiku, dan terutama dia yang berada di dalamku.


Aku memandangnya  ketika dia bergerak, dia milikku, perasaan memiliki ini membuatku memelukya erat menyisipkan tanganku ke rambutnya mengerang ketika dia bergerak di dalamku. Semuanya begitu manis, dorongan sentuhan, cara dia menyentuhku dan memujaku sebagai wanitanya. Kulitnya yang eksotis itu membuat kontras ketika aku dalam pelukannya. Caranya mengambil alih dan mengendalikan tubuhku membuatku dengan cepat mencapai titik yang membuatku mengejang puas dibawahnya.


"Nath..." Aku menikmati gelombang di tubuhku yang diciptakannya. Dia menekankan pinggulnya padaku, ikut menikmati gelombang yang dia buat didalam  tubuhku. Mengerang, memohon  dan menggigit bibirku sementara tubuhku melemas masih dengan dirinya didalamku.


"Kate sayang, kau sangat kacau ..." Aku tertawa kecil. Mukaku panas ketika dia mengodaku karena eranganku yang keterlaluan nampaknya.


"Kau yang membuatku begini Tuan Gangster, kau bahkan belum mengampuniku." Ciumannya menyasarku lagi saat aku masih menikmati gelenyar di tubuhku.


"Mata-mata cantikku, memohonlah lagi untuk meminta pengampunanku."