
“Kakak!” Valentina hampir berteriak di video call itu dan aku tak bisa menahan air mataku saat aku berada di restoran dan menerima teleponnya.
“Apa kau baik-baik saja...” Ingin rasanya aku kesana dan memeluknya.
“Aku baik kak, aku berusaha bertahan hidup disini, apa kau baik, apa Papa baik? Apa kalian harus berkompromi karena aku ditangkap?”
“Tidak, kami menahan diri tidak melakukan apapun. Kakak iparmu itu yang bisa mengatur operasi rahasia untuk membebaskanmu dengan bantuan temannya, jika tidak ada dia aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.” Aku menceritakan bagaimana dia bisa mengatur tim FBI khusus yang menangani ini, bukan lagi polisi, dan bahkan menyembunyikan kenyataan ini dari pantauan Gianni. Bova tak datang ke restoran dari kemarin katanya dia sibuk membuat perhitungan bersama Pamannya. “Kau sementara tak bisa pulang ke apartmentmu, agar polisi tak bisa menjangkaumu selama mungkin 3 hari oke, menginaplah di hotel sebentar.” Menceritakan Bova perlu 2 hari, dia juga sudah mengatur FBI tidak melaporkan temuan mereka ke kedutaan Italia.
“Baik kak, aku akan menginap di hotel dulu. Aku tahu dia akan bisa Kak, kakak iparku itu sangat hebat. Bagaimana sebenarnya kau bisa bertemu orang seperti dia. Bukankah rasanya seperti sebuah keberuntungan Kakak, walau kita ditimpa kemalangan berturut-turut, entah bagaimana kita bisa selalu lolos.”
“Kau benar, entah bagaimana kita selalu lolos.” Aku menyeka air mataku melihatnya selamat.
“Kau sudah baik kakak, aku yang takut kesehatanmu akan memburuk lagi.”
“Tak apa aku baik, hanya bekas luka tertinggal, ini sudah hampir sebulan dari penembakan itu. kau tak usah menghawatirkan kakak, yang penting kau pulang ke rumah beristirahatlah, makan yang baik, kau pasti kelaparan disana. Apa kau ingin kembali ke Milan dulu. Kembalilah ke sini jika kau bisa setelah semua ini selesai nanti.”
“Iya kakak, aku akan kembali melihatmu dan Ayah. Kakak aku kembalikan ponsel ini ke orang yang menolongku oke, nanti setelah aku mendapatkan ponselku lagi aku akan meneleponmu lagi.”
“Baiklah, jaga dirimu oke. Segera telepon aku jika kau sudah membereskan semuanya. Aku akan memberi tahu Papa jika kau sudah dibebaskan, dia sedang mengobrol dengan temannya di restoran sebelah tadi.”
“Iya Kakak, jaga dirimu, bilang terima kasih ke Kakak ipar.”
“Iya, bye...”
Video call itu terputus, aku segera memberitahu Papa bahwa Valentina sudah berhasil dibebaskan. Akhirnya aku bisa terbebas lagi dari semua kekhawatiran selama dua Minggu ini. Ini sudah jam sepuluh malam, tapi disana masih jam 4 sore, syukurlah malam ini setidaknya adikku bisa beristirahat di hotel setidaknya, tidak berada di kabin kayu tengah hutan lagi. Aku membayangkan musim dingin disana.
“Jose, aku mau ke rumah Tuan Bova.” Dia yang mengantarku sekarang. Hari ini aku tak melihatnya, aku ingin mengatakan sendiri terima kasih padanya.
“Baik Nona.”
Mobilnya sudah di depan rumah, dia nampaknya sudah kembali. Marriane yang membuka pintu tersenyum melihatku.
“Nona, Tuan juga baru saja kembali tadi,naik saja ke kamarnya.”
Sekarang aku yang berdebar, bagaimana tanggapannya jika aku kesini. Selama ini telalu banyak hal yang terjadi sehingga mungkin ini pertama kalinya kami menghabiskan waktu berdua, benar-benar hanya berdua. Pintu kubuka dengan perlahan, tapi tak ada orang terlihat di dalam, suara air gemericik terdengar di pintu satunya, aku duduk menunggunya di sofa. Kamar cozy dengan banyak warna gelap dan ornamen kayu menenangkan itu tak mampu menenangkanku. Jantungku benar-benar akan melonjak karena mungkin dia dengan hanya... otakku sudah terdistorsi banyak pikiran dan bayangan sekarang.
Pintu kamar mandi terbuka, dia tidak menyadari aku ada disini, benar, dia hanya memakai boxer pendek, berjalan ke arah bednya, untuk mengambil ponsel yang di lemparnya ke bednya, punggung kokohnya yang pertama kali kulihat dari belakang. Aku menjadi gila ingin menyentuhnya, dengan berjinjit aku mendekatinya pelan-pelan. Dia tidak menyadari aku di belakangnya, aku melingkarkan tanganku memeluknya.
“Astaga!” Dia hampir membantingku ke bednya karena kaget. “Vanilla, ... kapan kau sampai?”
“Barusan,..” Aku tak bisa melepaskan mataku dari apa yang kulihat, benar bayanganku, bagaimana wanitanya tak jatuh cinta pada pahatan tubuh sempurna seperti ini. Tanganku tak bertahan untuk tak menyentuhnya. Kulit dinginnya bercampur dengan wangi shower gelnya membuatku gila.
“Apa yang kau lihat Vanilla.” Wajahku memanas saat kembali ke matanya. Aku tak bisa menjawabnya, dia tersenyum. Dalam sekejab dia membuatku duduk di pangkuannya, membuatku begitu dekat dengannya dan bisa merangkul tengkuknya, menatap matanya begitu dekat. “Kiss me, I miss you sweetheart...” Tak usah dimintapun aku akan menciumnya, kali ini ciuman ini terasa begitu akrab, begitu intim dan mendebarkan. Aku begitu dekat dan bisa menyentuhnya, melihatnya sebagai laki-laki yang adalah milikku sekarang. Benarkan dia milikku, tangannya yang memeluk erat pinggangku mengatakan begitu, bahwa aku adalah miliknya. “Sayang, kenapa kau kesini. Aku sebenarnya baru mau meneleponmu tadi.” Dia menghentikan ciuman kami dan membuatku kehilangan.
“Aku mau memberitahumu, Valentina sudah meneleponku. Dia sudah dibebaskan...”
“Aku sudah tahu, pimpinan operasinya tadi meneleponku.” Dia tersenyum memandangku. “Jadi kau datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih Vanilla?”
“Valentina mengatakan dia menitipkan terima kasihnya untukmu Kakak Ipar. Apa tidak boleh aku disini.” Dia tertawa kecil.
“Tentu saja boleh, kau menjadikan rumahku menjadi rumahmu juga boleh.” Kata-katanya membuatku menciumnya lagi. Kali ini ciuman panjang yang membuat napasku tersengal, saat dia membuatku terbaring di sisinya, rasanya keinginanku menyentuhnya terpuaskan. “Jangan menyentuhku seperti itu Vanilla, apa kau tahu resikonya...” tanganku menyusuri lekukan perutnya, dadanya, dia sangat se*x*y.
“Kau sudah baik? Nanti aku melukaimu Vanilla.” Dia menahan tanganku seakan itu adalah siksa*aan yang tak dapat dia tanggung.
“Kurasa aku akan baik-baik saja.” Sekujur tubuhku meremang ketika dia menci*um leherku, memeluk pinggangku dan membuat pin*ggulnya menekanku. Sudah lama sekali tak ada yang memelukku begitu erat, jantung berdebar dengan cepat, membuat tubuhku panas karena menginginkannya. Ciuma*nnya mengapaiku, meminta lebih dan membuatku bernapas dalam napasnya.
“Jika ada yang sakit kau harus menghentikanku...” Aku tak bisa menjawab, merasakannya bibirnya berlari didadaku ketika dia menangg*alkan blouse dan kamisolku. Masih ada plester lebar menutup bekas operasinya. “Sayang kau mendengarku. Sebenarnya kita tak harus melakukan ini sekarang...”
“Apa tubuhku terlihat jelek.” Aku takut dia menganggapku cacat.
“Bukan-bukan itu, aku tak ingin kau cedera.”
“Aku ingin kau, kumohon...” Bova menatapku, aku yakin dia juga menginginkannya.
“Aku juga ingin kau.” Sekarang dia melepas semua yang ada pada kami, membuat kulit kami saling bersentuhan sepenuhnya, aku meremang bahagia dalam pelukannya. Menyentuh bagian tubuhnya yang menegang di bawah sana, membuatnya ganti yang menger*ang.
“Please ,...” Permohonanku membuatnya menyatukan dirinya padaku, aku meremas lengannya kuat merasakan sesuatu memenuhi tubuhku. Meng*erang tak terkendali ketika dia bergerak perlahan.
“Vanilla, kau membuatku tersiksa. Kau harus menampungnya.” Dengan cepat sesuatu terbangun, melihatnya menyentuhku dengan tubuh gagahnya dibawah sana, sesuatu yang begitu gagah menguasaiku, mendominasi, aku menyerah dibawahnya membiarkan dia menekan pelan tapi dalam.
“Sayang...!” Gelombang itu melandaku membuatku melengkungkan tubuh dengan pu*as. Dan dia mempercepat gerakannya dengan segera. Sentakan tubuhnya dan napas memburunya membuatku menger*ang kembali. Rasa hangat itu membuatku merasa menjadi wanita seutuhnya dan dicintai.
“Apa aku menyakitimu?” Aku mengeleng dan tersenyum saat dia bergulir ke sampingku,membuatku menatapnya penuh cinta. “Terima kasih, harusnya kita menunggu saja, aku tak keberatan apapun, kesehatanmu lebih penting.”
“Aku tak apa, aku jadi bahagia dan akan lebih cepat sembuh.” Melarikan jariku menelusuri dada bidangnya dan ototnya yang tercetak jelas itu, menuruni lekukannya yang tercetak di perutnya. Dia menghentikan jariku bermain-main di kulitnya.
“Jangan mencari masalah sayang, cukup, nanti kita lanjutkan sepuasmu kalau kau tak mempunyai perban lagi menempel di dadamu.” Aku menggigit bibirku dan tertawa kecil. Sugar daddy ini milikku dan mencintaiku. Dan tergoda oleh jariku.“Kenapa kau tertawa, kau boleh melihatku semalaman sekarang.”
“Aku hanya bahagia,... kadang aku takut aku tak sempurna untukmu.” Dia menghadap ke arahku sekarang.
“Kau sempurna Vanilla, tak ada yang salah tentangmu, hanya aku tak boleh terlalu kasar padamu. Nanti aku akan membuatmu kelelahan hingga kau memohon aku berhenti... jika itu yang kau inginkan. Jangan menggodaku, nanti aku tak bisa tidur karena menginginkanmu lagi. Mengerti Vanilla cantik.” Dia menciumku kecil sebagai penutup perkataannya.
Kadang aku merasa bermimpi. Tapi bisa menyentuh dada bidangnya membuatku tahu aku tak bermimpi. Rasa hangat disana meninggalkan rasa aneh, mengingatkan masa lalu yang tak sempurna, aku yang tak sempurna ini bisa mendapatkan seseorang Don Juan hangat yang menyukai Vanilla. Aku merapatkan diriku padanya... Membuat kulit kami bersentuhan lagi. “Bisakah kau memelukku.”
“Vanilla. Nanti aku bangun lagi, sudah lama... kau akan kelelahan.”
“Aku hanya merindukan rasa diinginkan lagi. Melihatmu menginginkanku rasanya membahagiakan.”
“Aku menginginkanmu lebih dari apapun, kenapa kau memandang rendah dirimu. Selama ini aku tak pernah mencoba karena banyak hal yang terjadi, mungkin aku yang terlalu banyak pergi sebelumnya. Kau tahu, lagipula kau kekasihku, bukan sugar babyku. Aku menghargaimu lebih dari apapun, bukan tak menginginkanmu.”
“Ciu*m aku lagi...” Aku mengapainya.
“Vanilla.” Aku tahu dia terbangun lagi dibawah sana. Itu cukup menjadi bukti, bahwa dia menginginkanku melebihi apapun. Membuatku merasa cantik dan berharga di tangannya.
“Sayang, kau mengera*s lagi.” Aku tertawa kecil merasakan bagian dari dirinya.
“Ini gara-gara ciumanmu.” Aku bergeser memeluknya membuatnya masuk lagi dalam kehangatanku. Mengera*ng tertahan merasakannya lagi. “Vanilla, kau memang mencari masalah, kau tahu ini tak bisa dibiarkan. Bagaimana aku menyelesaikan ini, kau tak bisa membuatku tidur dengan tenang...” Tangannya menangkup pinggulku, menekannya begitu dalam, membuat kami berdua mengera*ng bersamaan.
“Buat aku kelelahan, sudah lama aku tak terlelap karena kelelahan.” Napasku tertahan ketika dia mengambil alih tubuhku. Gelanjar yang berlari di tubuhku membuatku mendes*ah, mengera*ng dan menarik pinggulnya yang kokoh, menekan, menggodaku sekaligus memuaskan baginya.
“Vanilla yang nakal, kukabulkan permintaanmu.”
Malam ini akan melelahkan bagi Vanilla, oven panas ini membuatnya terbakar. Tapi sekali lagi, oven ini menyukai menyukai vanilla yang terbakar hangus. Mungkin namaku bukan vanilla lagi, aku sudah menjadi coklat yang meleleh karena api cintanya.