The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 65. A Simple Ring.



Sepanjang siang itu balena bersikap sangat manis. Mengajakku berjalan-jalan di Milan, mengajak makan siang dan membelikanku banyak hadiah.


"Cara, itu..." Dia menunjuk sebuah gallery perhiasan di pusat perbelanjaan itu.


"Apa?" Aku masih mau dia mengatakannya.


"Kita akan membeli cincinmu dan memilih cincin pernikahan kita." Aku tersenyum, semuanya tiba-tiba terjadi tadi pagi. Tanpa direncanakan, hanya terjadi begitu saja.


"Balena, kau sangat impulsif hari ini. Kau yakin soal ini."


"Cara, kenapa kau bertanya lagi, sudah kukatakan padamu." Dia menarikku ke gallery perhiasan itu dan mendudukkanku didepan itu.


"Tuan apa yang bisa saya bantu untuk kalian." Staffnya tersenyum ramah pada kami.


"Kami mencari set cincin pertunangan dan pernikahan."


"Cincin pertunangan dan pernikahan. Itu biasanya dibeli terpisah, kau membelinya bersamaan Tuan? Ini Saudara-mu atau calon istrimu?"


"Calon istriku, aku sudah melamarnya, tapi belum membeli cincinnya." Balena ini mengakuinya dengan jujur sambil tersenyum lebar.


"Nona, kau seharusnya mengomelinya, itu agak keterlaluan..." Aku tertawa karena staff itu mengajak kami bercanda.


"Kau benar Nona, dia memang perlu diomeli."


"Ini koleksi cincin solitaire kami. Jika ada yang kau inginkan tapi disini tidak sesuai ukuran, beri kami dua minggu untuk menyelesaikan sesuai ukuranmu." Dia mengeser sebuah bidang pamer ke depanku.


"Yang ini katalog custom design kau juga bisa memesan."


"Yang ini saja..." Aku tak mau terlalu rumit untuk cincin pertunangan, dia bilang dia akan mengaturnya di musim semi, itu sebentar lagi.


"Cara yang ini? Kau tak mau yang lain?" Itu cincin solitaire standart untuk pengingat kecil hari ini.


"Tidak, aku ingin menyimpannya sebagai kenangan aku takut menghilangkannya di kebun. Kau tahu aku sering memakai sarung tangan kadang bagaimana jika aku menghilangkannya berliannya."


"Ohh, jika kau memilih yang lain juga tak apa..."


"Aku mau yang itu saja." Aku tersenyum padanya. Aku tahu dia bisa membelikanku yang lain yang lebih meriah, lebih mahal, tapi aku hanya menganggap itu hiasan yang akan kusimpan. Banyak hal yang lebih penting dari sebuah cincin yang akan kusimpan. "Apa boleh aku menuliskan sulaman tanggal di kotak cincinnya?" Pelayan itu mengatakan bisa...aku sudah senang dengan custom itu.


Cincin pernikahan kupilih dengan bentuk solid, sleek, ada satu diamond kecil yang tidak mungkin hilang. Dia surprises dengan pilihanku. Aku lebih menghargai fungsinya untuk menunjukkan kami sudah menikah. Dan kebetulan dia menyenangi pilihanku maka itu dengan cepat selesai.


"Iya sudah selesai, ada yang aneh dengan itu?"


"Entahlah kupikir memilih hal seperti itu agak lama, teman-temanku bilang mereka perlu mencari ke beberapa toko? Kupikir kau ingin begitu, mencari yang terbaik."


"Kau tidak suka dengan cincin kita tadi? Kita bisa menukarnya, aku hanya suka desain sederhana sehingga aku tisak menghilangkannya..." Aku binggung dengan pertanyaannya. Bukankah tadi dia menyukainya?


"Bukan, tapi kupikir akan lebih rumit..." Ohh aku mengerti apa maksud pertanyaannya, kenapa kami hanya setengah jam tapi teman-temannya bisa menghabiskan berhari-hari.


"Ohh, balena, banyak hal sederhana kenapa harus dibuat rumit, kenapa menghabiskan waktu kita hanya untuk sebuah cincin... kau suka aku suka, mari kita buat semua masalah lebih sederhana."


"Begitu?"


"Begitu." Aku tersenyum padanya.


"Hmm baiklah, anggap saja kita adalah kita..." Dia merangkulku. Kau ingin mencari wedding dressmu.


"Aku akan memilihnya bersama Mama, jangan khawatir. Aku ingin pernikahan sederhana saja, apakah boleh. Aku harus meminta izin ke Bibi kurasa..."


"Kenapa kau ingin yang sederhana..."


"Aku sudah pernah menikah, kusadari tak ada gunanya membuat pernikahan rumit, yang penting bagiku adalah kau dan aku bisa melaluinya tanpa banyak keributan, kita bisa menikmati acara kita dengan keluarga, dan teman-teman. Dan yang terpenting adalah keluarga kita selalu baik-baik saja... Ada hal yang penting , aku ingin kau tak akhir minggu saja di Catania, kita keluarga, Ibuku masih disana aku tak ingin meninggalkannya, Ibumu juga di Catania, aku ingin jika kau bisa lebih lama di Catania. Kau harus punya orang yang mengelola di Milan. Jika kita punya anak, ... aku ingin kau selalu kembali ke rumah. Karena saat ini aku ingin dekat dengan Ibu dan tetap mengelola pertanian. Untuk sekarang, untuk masa depan kita mungkin bisa pindah ke Milan, tapi aku kasihan Ibuku sendiri..." Aku lebih tertarik membicarakan ini daripada membicarakan cincin, karena ini adalah masalah yang sulit.


"Iya aku memang memikirkannya, aku sudah punya rencana memang. Jangan khawatir, aku akan mengurusnya. Aku memang sudah punya orang yang bisa kuserahi tanggung jawab di Milan."


"Aku lega jika kau sudah memikirkannya..." Dia tersenyum dan merangkulku.


"Cara, aku sedikit lega kita tak berpindah-pindah toko perhiasan, aku mendengar cerita temanku itu sedikut horror." Aku tertawa dengan komentarnya.


"Jika kita bisa menyederhanakan masalah mari kita sederhanakan oke, ..."


"Aku setuju." Kami tersenyum satu sama lain.


Nampaknya pernikahan kami musim semi ini tak akan rumit, semua akan berjalan lancar, seperti mulusnya pertemanan kami 20 tahun ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


dikit dulu ya lg ngejer Alena