
"Makanlah ini, bukannya kau suka." Dia membawa sarapan lengkap ala jepang kami ke kamar. Aku pernah disuguhi sarapan lengkap seperti ini dalam kunjunganku ke Tokyo sebelumnya, tapi kali ini aku tak begitu menyukainya.
"Ehmm...aku masih ingin tidur. Rasanya malas sekali harus bangun cepat."
"Aneh, biasanya kau selalu semangat untuk bangun pagi... Kau bilang pagi adalan waktu terbaik. Tidurlah, aku akan membawanya ke depan." Entahlah kenapa aku sangat malas hari ini. "Tidurlah lagi...aku sarapan di depan."
Aku meneruskan bermalas-malasan dan tidur kemudian. Dia mendorong pintu geser ruang tatami itu dan membiarkannya tertutup.
Dalam sejam kemudian aku bangun. Beranjak ke ruangan depan, walau aku masih bersedia untuk tidur tapi baiklah ini sudah cukup siang. Aku melihatnya menonton televisi dan melakukan seasuatu dengan ponselnya.
"Cara, sudah lapar..." Aku minum air putih. Tidak aku tidak lapar sama sekali. Duduk bersamanya sesaat, aku melihat makananku...
Biasanya aku menyukai sarapan lengkap seperti ini tapi sekarang kenapa aku terganggu. Aku menarik nampan sarapan yang dihias cantik itu, wangi ikan ini seharusnya enak, tapi sekarang membuatku merasa mual.
"Sayang kenapa kau? Kau sakit?"
"Hmm... entahlah." Mungkin setelah memakannya aku akan menjadi lebih baik. Tapi begitu suapan pertama masuk ke mulutku rasanya lebih tidak enak, kenapa ini, tadi aku baik-baik saja. Aku memaksakan makan lagi, mualku semangkin tak tartahan.
Aku berlari ke kamar mandi. Dan makanan yang kumakan itu kuluar lagi bersama air yang baru kuminum.
"Cara?! Kau kenapa?!" Guilio langsung terkejut melihatku muntah sepuasnya.
"Aku tak tahu..." Tubuhku lemas aku mau berbaring lagi. Aku duduk di sofa ruangan itu setelah minum sedikit.
"Bukankah semalam kau baik-baik saja?"
"Hmm... Singkirkan ikan itu baunya membuatku mual lagi." Dia menyingkirkan nampan sarapan ke luar.
"Cara... mungkin kita ke dokter."
"Mungkin aku hanya perlu tablet maag saja, aku tak pernah telat makan belakangan. Kenapa maagku kambuh?"
"Cara,... apa kau ... apa kau sudah mendapat periode bulananmu?" Pertanyaan Guilio membuatku terbelalak. Aku lupa, tanggalnya...
"Belum, kau tidak bilang aku... " Astaga, apa dia benar-benar berhasil di kesempatan pertama?
"Belum?... Maksudmu? Kau melewatkannya? Tanggal berapa?" Otakku tumbul aku tak bisa mengingat tanggalnya sama sekali.
"Tanggal..." Aku tak menemukan jejak tanggal yang harus kuingat.
"Cara? Apa mungkin kau sekarang... "
"Bagaimana mungkin, itu pertama kali kau, aku minum pilnya ..." Dia mulai tersenyum menatapku sementara aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
"Kau sudah buang air kecil?" Aku menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku harus ke pharmacy untuk pregnancy test. Kau tunggu disini."
"Apa..."
"Jangan buang air kecil tahan aku akan kembali dengan cepat." Dia bergerak lebih cepat dari pada yang bisa kutahan. menganti bajunya dengan cepat dan keluar kamar.
Apa aku benar-benar hamil. Bagaimana mungkin itu terjadi saat pertama dia melakukannya. Bagaimana mungkin dia bisa...
Apa yang harus kulakukan sekarang jika ini benar. Bagaimana ini. Dia kembali dengan cepat, membawa sebuah kotak pregnancy test.
"Cara, kau harus melakukan testnya."
"Guilio, bagaimana jika ini benar...Apa ini berita bagus untukmu." Aku tak tahu bagaimana dia akan bereaksi, aku takut tak memperoleh dukungan.
"Ya Tuhan Cara, aku melakukannya padamu, kau tak ingat, aku sengaja melakukannya padamu. Bagaimana kau bisa bertanya apa aku tak mengharapkannya..." Dia berkata dengan tak sabar. "Aku sangat berharap ini berhasil."
"Benarkah... Kau akan gembira jika iya." Aku masih takut.
"Cara apa sebenarnya yang kau pikirkan, demi Tuhan Cara. Aku Ayahnya bagaimana mungkin aku tak menginginkannya, aku yang memgham*ilimu, aku yang melakukannya dengan sengaja, kau tak ingat saat pertama kau di Milan." Dia menjadi tak sabar bicara denganku. "Sekarang kau harus melakukan tesnya... Tolong Cara lakukan sekarang." Dia membawaku ke kamar mandi. Dia menginginkannya, aku takut seperti wanita lain dia tak menginginkannya.
"Keluar dulu,..." Aku tidak membiarkan dia ikut.
"Boleh aku melihatnya..."
"Aku sendiri dulu."
"Cara biarkan aku ikut."
"Guilio, tak bisakah kau sabar!" Aku membentaknya karena dia terlalu antusias.
Bagaimana pekerjaanku apa akan terhalang, konstruksi itu apa akan baik-baik saja. Bagaimana jika terlalu banyak yang terjadi didepan. Ini positif, apa bisa aku mengatur semua ini...
"Cara?Cara?" Guilio mengetuk pintuku. Aku terpaksa membukanya. "Apa hasilnya..." Dia mencari alat itu di tanganku. Aku menatapnya.
"Positive..." Dia menatap alat itu dan aku bergantian seakan tak percaya apa yang didengarnya.
"Kau... positif, kau hamil. Mamma istriku hamil..." Dia memelukku begitu erat, dan menyebut Ibunya dan menangis begitu saja. Aku tertawa kecil karena dia begitu emosional, apa dia benar-benar mengharapkan ini.
"Cara kita akan punya bayi,... Benar bukan kita akan punya bayi."
"Kita akan punya bayi..." Aku melihatnya menghapus air matanya dan memelukku lagi. Dia nampaknya begitu senang, sehingga dia tertawa dan menangis sekaligus.
"Terima kasih Cara, Terima kasih Tuhan. Duduklah...duduklah... Kau harus duduk." Dia menarikku ke pangkuannya.
"Kau gembira sekali..." Dia melihatku terlihat berusaha keras mengendalikan dirinya. Aku senang melihatnya gembira tapi aku masih binggung dengan anugerah tiba-tiba ini, bisakah aku menjalaninya dengan baik.
"Sangat Cara, aku sangat gembira..." Dia memelukku erat, aku merasa tersanjung.
"Bayi,... anak kita. Aku takut Guilio, takut aku terlalu sibuk. Semuanya baru dibangun..."
"Sayang aku akan membantumu. Aku akan mencari seorang manager umun baru dari adikku untuk winery dan perkebunan anggur. Kau bisa fokus ke restoran barumu. Kau tak akan terlalu sibuk mengontrol semuanya. Manager restoran sudah sangat bagus selama ini, kau tinggal mengawasi konsultasi kontruksi, aku akan membantu mengawasi semuanya, jangan khawatir. Lagipula aku tinggal di rumahmu nanti."
"Kau akan membantu,..."
"Tentu saja, kau bisa lebih santai melakukan semuanya. Kau tak boleh terlalu lelah. Nikmati saja masa-masa ini. Biar aku yang membantu mengurus banyak hal. Katakan yang kau inginkan akan dibereskan..."
"Aku akan cerewet padamu nanti..." Dia tertawa.
"Aku sudah biasa kau marahi sejak dulu. Apa aku pernah terganggu dengan itu. Semuanya akan baik-baik saja. Aku tahu wanita hamil akan cerewet..." Aku tersenyum padanya ketika dia mengelus perutku. "Aku tak menyangka dia berhasil, bayangkan dia berusaha untuk sampai. Ini keajaiban bukan."
"Hmm... semua akan baik-baik saja." Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
"Semua akan baik-baik saja? Kau dan aku akan membuat semuanya baik-baik saja untuk kita."
"Semua akan baik-baik saja, aku berjanji, kau tak usah khawatir. Kita akan ke dokter setelah kembali, bertanya kepada orang tua kita, ingat kau punya dua Mamma menjagamu. Dua Mamma yang menantikan cucu pertama."
"Iya dua mamma yang menantikan cucu pertama."
"Bagaimana kalau kita menelepon mereka berdua sekarang." Guilio langsung menelepon mereka.
"Kalian kenapa menelepon kami berdua begini?" Aku dan Guilio tersenyum. Terutama Guilio yang sangat bahagia.
"Kami mau memberitahu kalian.... Kalian akan punya cucu segera." Semua orang membeku sesaat sebelum mereka terlalu gembira kemudian.
"Maksudmu Monica hamil...Benarkah?" Dan ternyata semua orang gembira.
"Kapan kalian pulang, kita harus ke dokter segera." Ibuku sekarang yang sudah merencanakan apa yang harus dilakukan. Mereka akan membantu kami, benar juga aku akan punya banyak bantuan.
Semua orang terlalu bersemangat. Wanita hamil akan mendapat perhatian sepenuhnya.
"Kau ingin makan sesuatu, kita cari sarapan yang kau inginkan, atau kau katakan saja apa yang kau inginkan."
"Roti manis dan buah saja, dan susu mungkin."
"Aku akan segera mendapatkannya... Kau tunggu disini saja."
Dia pergi membeli semuannya, mengurus semuanya, bahkan membeli terlalu banyak, membuatku tersenyum senang merasa diperhatikan. Wanita hamil memang ratu...
Pernikahan ini membuat kami membayangkan pernikahan kami. Walau kami tak mau merusak kebahagian Hisao dan Setsuko dengan pengumuman kami sendiri. Saat kembali dia benar tinggal beberapa hari untuk mendapatkanku assiten berpengalaman di kebun, karena aku tak mau manager-managerku terintimidasi oleh manager baru. Aku sebenarnya percaya pada mereka, baiklah semuanya akan baik-baik saja seperti kata Guilio.
Guilio tak masalah kami tinggal bersama Ibu, itu yang membuatku bahagia dan merasa semuanya akan mulus ke depan. Karena Ibu juga seseorang yang sangat kujaga, dia tak sabar menanti cucunya. Dan ada ibu mertua yang juga sering melihatku jika Guilio tak ada. Aku merasa diperhatikan oleh semua orang.
Pernikahan kecil kami terasa membahagiakan kemudian. Ikatannya telah diteguhkan, kedua keluarga yang sebelumnya telah dekat didekatkan lebih erat dalam tali perkawinan keluarga.
"Balena, aku senang semuanya normal lagi..." Setelah upacara pernikahan kecil kami yang terasa sangat akrab, aku duduk bersamanya msngistirahatkan diriku. Setelah sedikit mual di beberapa minggu pertama, sekarang tubuhku mulai menyesuaikan diri dan selera makanku kembali.
"Untungnya kita memilih upacara kecil yang sederhana, rasanya semua keluarga kita bisa merasakan kebahagiaan kita."
"Kau benar... Aku senang sekali hari ini." Dia melihat mataku, mencium keningku.
"Aku menyayangimu dan akan tetap begitu. Voglio invecchiare con te (Aku ingin menua bersamamu) .Ti voglio sempre al mio fianco (Selalu berada disisimu)." Semua kata manis ini adalah sebenarnya, aku percaya.
"Ti amo (I♡y) balena mio..."
Musim semi akan segera berakhir, bunga-bunga anggur mulai gugur dan bulir-bulirnya akan terisi, bunga zaitun telah berbunga. Musim-musim berganti tapi kami akan terus bersama sampai akhir musim kami.
Non posso vivere senza di te balena mio