The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 17. Meet Bova Family 2



"Bibi, aku hanya teman Bova. Bukan pacarnya." Aku harus memastikan dia tidak salah sangka.


"Aku tahu kau bukan pacarnya." Dia tersenyum padaku. Ohh, baiklah. Dia tahu....


"Tapi Bibi senang dia mengandeng seseorang. Tadi Bibi memperhatikan kalian, kau dan dia berteman dengan baik. Tak apa, Bibi hanya senang dia punya teman yang bisa dia ajak kesini." Sepertinya sang Ibu ini ingin putranya segera menemukan seseorang.


Tapi putranya menganggap keluarga adalah beban. Ohhh aku tak mau ikut terlibat kekacauan ini.


"Isabella, siapa di sampingmu ini?" Seorang wanita yang seumur dengannya.


"Ohhh ini teman wanita Bova. Maksudmu pacar? Akhirnya..." Bova ini nampaknya membuat keluarga besarnya mencoba menjodohkannya tapi tidak berhasil. Dan kedatangan teman saja membuatnya terlihat luar biasa.



"Ini istrinya Paman pertama, apa Bova pernah menceritakan siapa Paman pertama padamu."


"Maksud Bibi, Vittorio Bova?" Aku masih mengingatnya. Patriarch(Kepala Keluarga) keluarga Bova yang menolong Ibunya kembali ke keluarga.


"Iya, ternyata dia cerita padamu. Ini istrinya Angeli Pier."


"Nyonya senang bertemu dengan Anda. Saya Eliza, teman Bova, bukan pacarnya, saya dipaksa menemaninya kesini sebenarnya." Aku menegaskan sekali lagi hubungan kami. Aku tak mau mereka salah sangka.


"Aku juga senang Bova mempunyai teman akhirnya." Apa apa dengan teman ini sebenarnya. Mereka menganggapnya istimewa sekali." Bibi yang ini juga sama dia bertanya tentang pekerjaanku kemudian, lebih detail.


"Ohh Pectoria, aku tahu restoran itu. Isabella kau tahu itu restoran terkenal di Milan, ternyata teman Bova ini pemiliknya."


"Dia kepala Chefnya."


"Ohh benarkah? Kau profesional chef?"


"Iya..." Aku jadi takut diinterogasi begini rupa.


"Isabella, kau harus mengundangnya ke Pelermo bulan depan."


"Ohh ya, kau benar." Dia mengeluarkan ponselnya.


"Ada apa di Palermo Zia?" Kenapa ada acara lagi.


"Ohh, dua minggu lagi Bibi ulang tahun ke 65, mereka mau merayakannya dengan berkumpul. Jadi kau ikut diundang. Nama lengkapmu sayang..."


"Nama lengkap? Untuk apa Zia?"


"Ahh Zia ingin kau datang. Jadi Zia akan membelikanmu tiketnya. Ini acara akhir minggu, kau tak perlu stay di restoran bukan? Bisakah kau kabulkan permintaan Bibi untuk bergabung di ulang tahun Bibi."


"Apa? Saya tidak bisa, ini acara keluarga. Bagaimana saya bisa ikut acara keluarga."


"Teman Bova bisa dianggap keluarga sayang, Bova jarang menunjukkan teman wanitanya." Sekarang bibi Angeli yang bicara sambil mengikik. Apa-apaan ini. Mana bisa terjadi begini!


"Tidak bisa Bibi, aku ada pekerjaan. Aku berterima kasih atas undanganmu, aku ada pekerjaan. Selamat ulang tahun Bibi, aku ucapkan itu sekarang. Maaf Bibi, aku benar-benar tak bisa, sekali lagi maafkan aku..." Menolak mati-matian adalah satu cara aku pergi dari sini.


"Aku akan mencari Vittorio dan Bova." Bibi Angeli tiba-tiba berdiri. Hah?! Aku harus segera pergi dari sini. "Ohh itu mereka, tunggu Isabella, aku akan membawa anakmu itu kesini."


"Bibi Isabella, kurasa aku harus pergi dulu. Aku ke kamar kecil." Aku beranjak dari kursiku untuk melarikan diri.


"Tunggu sebentar. Itu mereka datang." Tapi tanganku ditahan oleh Ibu Bova sambil tersenyum.


"Mama ada apa?"


"Mama ingin temanmu datang ke ulang tahun Mama. Tapi dia tidak mau, bisakah kau memintanya untuk Mama."


"Dia punya pekerjaan Mama, bagaimana aku memaksanya. Kami hanya berteman, dan mungkin aku sedang ada bisnis denganya...." Untunglah Bova menyelamatkanku.


"Kau harus memintanya, karena ini penting bagi Mama." Astaga sebenarnya apa yang terjadi disini.


"Mamamu memintamu, tak bisakah kau mengabulkan permintaannya untuk ulang tahunnya." Ditambah Bibi Angeli yang mendesaknya.


"Bibi, dia punya pekerjaan. Dia hanya temanku. Bagaimana kalian memaksanya datang karena dia temanku? Kenapa dengan kalian semua..."


"Bibi benar kami hanya berteman. Aku bukan pacarnya Bova. Maafkan aku Bibi." Aku ingìn memperjelas ini. Rencana untuk pura-pura terpesona gagal. Ibunya menganggap ini terlalu jauh.


"Vittorio bicaralah!" Bibi Angeli menegur suaminya.


"Paman? Ibu, Bibi, kenapa kalian membawa Paman dalam masalah ini. Ada apa dengan kalian?" Bova sama binggungnya denganku.


"Jika kau tak menuruti Ibumu, Paman tak mengizinkanmu ikut campur dengan masalah Gianni. Apa keputusan kalian berdua?" Aku dan Bova terdiam. Kenapa sepertinya Paman, Ibu dan Bibinya tahu siapa aku. Aku berpandangan dengan Bova.


"Nona ini undangan Ibu temanmu, kabulkanlah. Kalian membuat senang orang tua ini." Bibi Angeli yang sekarang bicara dengan senyum tapi semua orang tahu dia memaksa.


"Kenapa dengan kalian ini?" Protes Bova tak diindahkan oleh yang lain.


"Bova, kalau kau ingin ikut masalah Gianni turuti Ibumu. Aku tak bisa menolongmu keponakan. Itu perintah. Nona Canalis, maafkan aku, tapi ini permintaan. Tanpa persetujuanmu untuk ikut aku tak bisa mengizinkan Fabricio Bova terlibat denganmu melawan Gianni." Ibu dan Bibinya tersenyum lebar sekarang.


"Eliza sayang, nama lengkapmu." Bibi Angeli yang tersenyum padaku dengan penuh kemenangan.


"Namanya Elizabetta Canalis." Bova yang menyebutkannya sekarang sambil menghela napas panjang.


"Terima kasih putraku sayang." Mereka mengotak-atik ponsel beberapa saat. "Tiket penerbangannya akan dikirim segera, terbanglah ke Palermo Jumat sore dua minggu lagi. Minggu kalian bisa kembali ke Milan. Dan menginaplah di rumah Ibu. Kamar kalian akan disiapkan."


"Aku sudah boleh pergi?" Pamannya menggelengkan kepalanya.


"Hmm pergilah. Isabella, ayo kita pergi menemui keluarga yang lain. Kalian berdua, ingat janji kalian."


Aku dan Bova berpandangan satu sama lain melihat mereka melenggang pergi.


"Sebenarnya apa yang terjadi!? Kenapa aku harus pergi liburan ke tempat Ibumu?!" Aku merasa ditargetkan sekarang.


"Kau pikir aku tahu?" Dia membalasku sama bingungnya ketika nadaku meninggi.


\=\=\=\=\=\=333\=\=\=\=\=\=\=


POV Author


Yang sebenarnya terjadi adalah....


"Isabella lihat Fabri membawa seseorang akhirnya." Angeli Pier menujukkan seseorang ke Isabella Bova.


"Kau tahu kemarin aku menginterogasinya habis-habisan. Kupikir dia menyembunyikan bahwa dia gay. Sekarang dia nampaknya membawa teman wanitanya untuk menenangkanku."


"Isabelle, sudah kubilang anakmu itu normal. Dia hanya belum menemukan seseorang yang bisa memikatnya. Dia tak suka gadis cantik manja yang kau jodohkan. Itu yang berada disisinya Elizabetta Canalis, dia menolong gadis itu dari Gianni, Gianni menjebak ..." Vittorio pamannya mendapat laporan dari Fabricio, keponakannya itu rencananya menyingkirkan Gianni. Dan melaporkan apa yang dilakukan Gianni pada keluarga Eliza. Dia setuju dengan tindakan keponakannya, ini akan membuat jasa mereka diperhitungkan oleh kelompok mereka. Dan dia tahu latar belakang gadis itu.


"Ohh begitu, kasihan sekali. Tapi lihat mereka, gadis itu elegant dan cantik. Dan tampaknya orang yang menjaga keluarganya. Bova nampaknya punya simpati sendiri pada gadis itu."


"Kurasa Bova memang bersimpati padanya. Aku benar-benar khawatir pada Fabricio kakak, sampai kapan dia ingin sendiri seperti itu." Ibu Bova yang sekarang bicara soal mengkhawatirkan anaknya.


"Mungkin kita perlu memaksanya Isabella." Angeli Pier, istri Vittorio sekarang yang bicara.


"Memaksa bagaimana? Kau tahu bahkan Vittorio sudah mengenalkannya ke beberapa orang dia tidak mau. Aku sudah lelah menasehatinya Angeli. Hampir putus asa... bagaimana dia melibatkan dirinya dengan perempuan-perempuan muda itu membuatku putus asa. Kenapa dia berpikir keluarga itu sangat rumit. Kurasa ini salahku dia melihat pertengkaran kami, kehidupan perceraian kami dulu, ..."


"Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau lihat Isabella, baru kali ini dia membawa seseorang. Mungkin yang ini menarik buatnya, kupikir dia punya ketertarikan dengan gadis itu, setidaknya dia bersedia memperlakukannya seperti temannya, jika tidak kenapa dia mau menolongnya begitu jauh? Secara tak sadar dia menyukainya, tapi mungkin dia melihat berurusan dengan gadis-gadis muda lebih mudah dan tetap dalam zona nyamannya."


"Benarkah? Jadi kau pikir apa yang harus kita lakukan."


"Bagaimana kalau kita memaksa mereka bersama. Minggu depan perayaan ulang tahunmu. Bagaimana kalau kita mengundangnya? Lalu mendekatkan mereka ..."


"Mendekatkan mereka? Bagaimana caranya?"


"Dengarkan aku. Kau harus memaksanya datang ke acara ultahmu dua minggu lagi. Lalu kita akan..." Dia membisikkan kata-kata selanjutnya.


"Itu...bisakah begitu. Kedengarannya agak...memaksa."


"Terserah padamu, jika tidak dia akan terus dengan gadis-gadis muda itu. Kau sendiri yang mengeluh padaku soal kekhawatiranmu, setidaknya kita buat dia mencoba dulu."


"Apa yang akan kalian lakukan?" Vittorio bertanya dengan heran kepada istrinya. Dia sudah menganggap Fabricio putranya. Sebenarnya dia juga berharap keponakannya itu punya seseorang yang lebih bisa dipercaya. Dan untuk pertama kalinya keponakannya itu menolong seorang gadis asing.


Agak tidak biasa, walau alasannya bisa diterima. Akhirnya dia juga menyimpulkan ada sesuatu yang menarik keponakannya itu membantu gadis itu. Tampaknya dia menganggap gadis itu menarik, tapi tidak mengambi tindakan apapun setelahnya, hanya dengan sukarela menolongnya.


Ini harusnya memang pertanda baik.


"Kau harus menyetujui yang kami minta kau lakukan nanti."


"Apa yang akan kalian lakukan?" Vittorio bertanya.


"Pokoknya setujui saja."


"Hmm...baiklah. Kalian mau mendekatkannya dengan gadis itu?" Vittorio setuju saja dengan rencana istri dan adiknya ini. Dan nampaknya gadis itu adalah gadis yang baik, perilakunya baik dan bisa membawa diri, keponakannya itu juga nampak nyaman dengan gadis ini.


"Iya. Dia satu-satunya selama bertahun-tahun ini yang pernah dibawa ke depan kita. Kita harus mendekatkan mereka."


"Baiklah terserah kalian."


πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™


bersambung besok..


Semuanya selamat tahun baru 2022 yaaa


Makasih sudah mendukung mak selama 2021


Semoga tahun depan kita semua bisa lebih baik, sehat selalu.


Ketemu lagi tanggal 2, mak besok libur hihi