The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 61. Miracle



"Kau dan Eliza belum mempertimbangkan menikah. Mama mengatakan ini bukan karena ingin mendesakmu, Mama lihat kau dan Eliza cocok." Sebuah pertanyaan diajukan oleh Mama tersayangku, hari terakhir aku disini, sementara Eliza sedang berjalan-jalan dikebun. Aku melihatnya dan merangkulnya.


"Mama percaya saja pada kami, ..." Tapi Mamaku menatapku dengan tak percaya, nampaknya dia sudah cocok sekali dengan calon menantunya itu.


"Ini bukan karena Eliza yang menyuruh Mama bertanya." Dia memberitahu alasannya.


"Aku tahu, aku dan Eliza menghargai waktu kami sekarang, itu lebih penting dari hanya status Mama, tidakkah kau berpikir begitu."


"Kalian begitu mengerti satu sama lain. Entahlah Mama hanya berpikir jika kalian bisa punya status, Eliza juga akan bahagia. Tak akan mempengaruhi apapun, Ayahnya dan Mama akan bahagia melihat anak kami berjanji satu sama lain." Aku memeluk Mama. Apa yang dikatakannya memang tidak salah sebenarnya.


"Baiklah Mama, aku tahu maksudmu. Tapi percayalah padaku, aku akan mencari waktu yang tepat oke." Aku hanya ingin menikmati waktu kami, saat aku merasakan dorongan itu aku akan mengatakannya.


"Akhirnya kau mengatakannya."


"Baiklah, jangan terlalu lama."


"Iya Mom. Tak akan lama. Hanya beri kami waktu oke."


Aku mengenyahkan kekhawatirannya. Vanilla dan aku memang sudah saling mengerti, walaupun status memang penting. Ada zona nyaman yang harus ku tinggalkan, rasanya membutuhkan keberanian untuk melakukannya.


\=\=\=\=\=


Dua bulan berlalu, akhir musim gugur menjelang. Musim yang indah. Milan mendingin, segalanya terasa dalam ritme yang tepat. Yang membuatku bahagia, belakangan dia lebih menyempatkan berbagi waktu dari pekerjaan, sehingga kami bisa menikmati waktu berdua lebih banyak.


"Vanilla kau tak bekerja." Dia dengan malas bangun.


"Aku tak merasa baik. Kurasa aku akan tiduran sebentar." Aku meraba keningnya. Tidak panas. Kenapa dia.


"Kenapa? Apa yang kau rasakan?"


"Entahlah, kurasa hanya tak nyaman. Mungkin flu saja. Sudah pergantian musim. Kurasa hanya butuh istirahat.


"Ini hampir akhir pekan, istirahatlah , aku hanya akan pulang cepat nanti. Lagipula ada Ayahmu bukan."


"Iya. Kemarin tak apa kenapa tiba-tiba tak enak badan. Aku masih lemas."


"Aku bilang Marriane membuatkan sup untukmu."


"Iya, thanks. Aku minum susu saja." Tak lama dia duduk dari bed dan minum, aku melihatnya menyeret dirinya dengan malas.


Aku kembali dari kamar mandi dan melihatnya masih dengan air minum yang baru diminum setengah dengan memejamkan mata.


"Lebih baik kuantar kau ke dokter."


"Tak apa... kurasa pencernaanku terganggu. Apa aku telat makan kurasa. Nanti aku minum obat maag..." Belum selesai dia bicara, dia berlari ke kamar mandi. Dia benar-benar muntah.


"Kau baru minum langsung muntah? Ayo ke dokter sekarang."


"Kurasa aku istirahat dulu saja. Aku masih mengantuk. Kemarin aku merasa kelelahan, kupikir aku benar akan flu? Tapi kenapa hari ini malah muntah." Dia langsung kembali ke bed, dan membuatku khawatir.


"Tidurlah, jam 10 kita ke dokter."


"Tak apa aku istirahat saja, kau punya pekerjaan."


"Tak ada yang penting hari ini, nanti saja agak siang aku ke kantor setelah kau selesai ke dokter." Baru jam delapan, kubiarkan dia istirahat dulu saja. Dia memejamkan mata nampaknya lemas. Aku turun dan memesan Marrianna membuatkan sup untuknya.


Marriana yang heran aku meminta sup bertanya.


"Tuan sedang ingin sup?"


"Tidak, Eliza lemas dan muntah dari dia bangun tidur, nanti jam 10 aku akan membawanya ke dokter."


"Ohh...lemas, muntah?"


"Padahal hanya minum air dia sudah muntah air. Entah apa yang terjadi padanya, kemarin dia tak apa hanya lemas saja dia bilang."


"Ohhh..." Marianne nampaknya memikirkan sesuatu.


"Kenapa? Ada yang salah? Apa dia makan sesuatu kemarin?" Aku berpikir dia makan sesuatu, tapi sama saja aku juga makan tak apa.


"Ehm tidak Tuan, cuma kupikir itu seperti ... morning sickness." Aku terpaku ke Marianne, kurasa tak mungkin. Dia bilang ada masalah dengan kandungannya.


"Kurasa tidak itu hanya salah makan."


"Hmm...Nyonya dan Tuan makan makanan yang sama kemarin. Tanda-tanda itu saya rasa kemungkinan besar." Aku tak tahu harus mengatakan apa. Ada perasaan gembira, tapi sesaat juga tak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi kemungkinan itu sangat kecil. Jika dia bisa, dia tak akan mungkin berpisah dari suaminya yang menginginkan anak.


"Saya berharap itu benar... Akhirnya saya akan punya Nyonya dan seorang bayi." Marriane tersenyum, aku tak tahu aku harus apa. Lebih baik sekarang memastikannya ke dokter. Tak ada yang bisa kulakukan sebelum tahu kebenarannya.


"Aku tak yakin, ...kurasa bukan." Pikiranku jadi tak tenang sekarang antara mengharapkan ini benar atau tidak aku tak tahu.


"Ayo, makan sedikit bisa? Marriane sudah membuatkanmu sup."


"Iya aku makan. Ada apa denganku. Sangat menyebalkan padahal sebelumnya aku tak pernah sakit maag." Dia mengerutu dengan kondisinya sendiri.


Aku melihatnya mencoba makan sup krim, dan roti. Berusaha tapi kemudian memundurkan lagi piringnya.


"Nona, kenapa?"


"Aku tak suka baunya. Membuatku mual." Marriane menatapku dan tersenyum, nampaknya dia sangat yakin dengan apa yang terjadi.


"Ada cracker kering, dan aku membuat es krim yougurt strawberry dan kiwi, Nona pasti suka."


"Es?!" Aku binggung dengan apa yang ditawarkan Marriane.


"Boleh, kelihatannya enak." Marriane langsung memberikan mangkok yogurt beku dengan strawberry dan kiwi itu. Aku melihatnya makan dengan lahap.


"Bagaimana kau bisa..."


"Entahlah, ini enak. Enak sekali."


"Nanti saya buatkan lagi. Saya tahu Nona pasti suka..." Aku memandang Marriane yang sudah tersenyum lebar melihat Nyonyanya makan dengan baik.


"Kenapa kau bisa tahu aku suka ini." Akhirnya dia bertanya.


"Hmm...dulu saat aku hamil 3 bulan pertama yang kusukai dipagi hari hanya asam dan manis, dan es. Rasanya enak sekali. Yang lain dari itu aku tak bisa makan, ..." Eliza diam, memandangiku sebelum kembali ke Marriane.


"Tidak mungkin Marria." Dia menggeleng sendiri.


"Apa yang tidak mungkin Nona." Marriane tertawa. "Teruskan makanmu. Aku mau ke supermarket membeli lebih banyak buah asam nanti. Saya mengecek pekerjaan didepan dulu. Yogurt asam itu masih ada di kulkas." Marriane memberikan kesempatan kami bicara.


"Ini, tidak mungkin. Bagaimana... bisa?" Dia masih tak percaya apa yang dikatakan Marriana.


"Kita ke dokter oke, aku juga tak tahu apa yang terjadi." Dia memegang tanganku erat.


"Jika ini seperti apa yang dikatakan Marriane, apa kau ... apa kau mau anak ini?!" Sekarang dia hampir mau menangis.


"Hei..hei...Kenapa kau menangis."


"Apa kau akan menyuruhku menggugurkannya?" Pertanyaan gila, bagaimana mungkin aku menyuruhnya membunuh anakku sendiri.


"Eliza, apa yang kau pikirkan. Kau pikir aku gila menyuruhmu menggugurkannya. Ibu akan membunuhku sebagai gantinya jika aku berani begitu gila..." Aku yakin dia akan membunuhku jika aku berani meminta hal gila seperti itu.


"Kau yakin dengan apa yang kau katakan? Karena aku akan mempertahankannya dengan atau tanpa persetujuanmu, tak apa aku membesarkannya sendiri." Aku sekarang memeluknya. Menghadapi hal seperti ini mungkin membuatnya merasa mendapat sebuah keajaiban.


"Sayang, kita harus memastikannya dulu oke. Kau perlu tenang. Tak mungkin aku membiarkanmu melaluinya sendiri. Tak mungkin juga aku menyuruhmu menggugurkannya."


"Kau mau? Kau serius?" Tatapannya setengah tak percaya. Memastikan sekali lagi kata-kataku.


"Aku mau Vanilla sayang, itu anakku, anak kita.." Dia langsung memelukku sangat erat sekarang.


"Aku benar-benar berharap apa yang dikatakan Marianne terjadi. Aku berharap ini benar. Apa benar ada keajaiban untukku." Dia menangis tersedu-sedu sekarang.


"Kau lupa menyebutkan untukku juga..." Aku tertawa, sebenarnya menenangkan dirinya dan diriku juga. "Kita harus memastikannya dulu oke, jangan terlalu berharap nanti kau kecewa." Sekarang dia berhenti menangis.


"Kau benar, mungkin ini hanya...sakit biasa. Rasanya tak mungkin, ini seperti ..." Dia menurunkan harapannya lagi. Menghela napas panjang. "Maafkan aku aku jadi tak rasional sekarang." Nampaknya dia sangat mengharapkan ini aku tahu perasaannya. Dia berusaha tak mengharapkan terlalu tinggi sekarang.


"Tak apa, mungkin benar..."


"Kita ke dokter saja sekarang. Ini mungkin hanya sakit biasa. Ayo aku tak mau merasa benar atau salah seperti ini. Ini menyiksa..." Dia berusaha menertawakan dirinya sendiri.b


"Habiskan dulu makananmu." Aku menunggunya dengan sabar. Sebenarnya juga tak sabar. Kejutan untukku karena aku tak keberatan sekarang. Nampaknya dia akan jadi Ibu yang luar biasa karena bahkan dia bersedia membesarkannya sendiri jika aku tak mendukungnya.


Aku menghela napas panjang. Sekarang aku berdoa semoga benar kami diberikan keajaiban itu.


Perjalanan kerumah sakit rasanya lama sekali. Kami sama-sama lebih banyak diam.


"Jika ini tidak terjadi, tetap aku berterima kasih, karena kau bersedia." Dia memegang tanganku sekarang.


"Vanilla. Kenapa kau harus berterima kasih. Itu sudah seharusnya." Dia menyenderkan dirinya padaku.


"Semoga itu benar. Semoga..." Ternyata aku juga berharap kami mendapat keajaiban.


Tak sabar rasanya saat kami mengambil tes dan menunggu hasilnya. Rasanya seperti seabad kemudian belum terjadi apa apa. Kemudian hasilnya sudah keluar dan kami duduk didepan dokter. Aku mengenggam tangannya seperti dia menggengam tanganku.


bersambung besok----- ya