
"Kau pernah ke Chicago sebelumnya Natalie sayang." Dia adalah Ibu sosialita yang tahu bagaimana menjamu tamu-tamunya kurasa. Tapi dia jauh dari kata angkuh, dia nampaknya bisa membuat semua orang bisa menjadi temannya.
"Ohh belum baru kali ini punya tugas disini."
"Berapa lama kau bekerja dengan Nathan?"
"Baru setahun lebih Nyonya. Aku kepala unit internal auditor Garcia Int. Saat ini sedang bertugas di West Coast, kantorku di LA, enam bulan ini, tapi aku masih melapor ke Alan."
"Ohh baru setahun, ..." Dia melirik ke Nathan. "Kau mengikuti Nathan kesini selama seminggu juga bukan?"
"Iya Nyonya..."
"Hmm begitu rupanya." Dia mengangguk melihat ke Nathan sebentar, dia nampaknya punya banyak pertanyaan di kepalanya. Tentu saja kenapa kepala auditor bisa disini, tapi aku juga tak punya jawaban pertanyaannya, jika aku ditanya aku hanya akan mengatakan aku sedang ada tugas audit di perusahaan disini. Biarkan Nathan yang menjawabnya.
Makan malam itu berakhir aku naik ke kamarku untuk beristirahat sementara Nathan dan Mamanya mengobrol di ruang lain. Sudah malam aku menghabiskan waktu menonton. Aku baru mau memadamkan lampu ketika terdengar ketukan di pintuku.
"Nathan ada apa?"
"Kau sudah mau tidur?"
"Belum. Ada apa? Aku melihat dia membawa sebuah kantong."
"Mau minta tolong digantikan perban, sepertinya yang lain sudah tidur."
"Ohh baiklah." Itu berarti dia harus membuka bajunya didepanku. Pemandangan bagus yang sayang untuk dilewatkan. Anggap saja ini keberuntungan.
Dia membuka t shirt katun lengan panjang itu karena tidak bisa digulung keatas lukanya hampir ke pundaknya. Pemandangan bagus yang bisa kukagumi terlihat di depanku. Sayang sekali aku hanya bisa menyentuh kulitnya.
"Ibumu tahu ini?"
"Tidak, tentu saja tidak."
"Dia tak tahu kenapa kau perlu pengawal seperti ini?" Apa Ibunya tahu anaknya terbiasa membunuh orang.
"Keluarga kami bukan tak pernah terlibat bisnis berbahaya. Asal kau bertindak cukup hati-hati bahaya bisa dihindari sebenarnya. Aku salah perhitungan, aku sebenarnya sudah berusaha menghindar bertemu dengannya. Itu saja..."
"Sekarang tidak?" Aku bicara sambil mengunting lepas perbannya, sementara sedikit mengorek cerita.
"Apanya yang sekarang tidak?"
"Apa keluargamu tidak terlibat bisnis berbahaya lagi? Menurut namamu kau mungkin punya hubungan dengan Gangster Spanyol bukan, apalagi keluargamu tinggal di Chicago. Aku sedikit membaca..."
"Kau sedikit membaca? Kau sangat penasaran tentangku dan senang menantang bahaya didekatku bukan, kau cukup aneh dan mencurigakan sebenarnya..." Dia menatapku lekat.
"Aku tak suka bahaya, hanya kadang bahaya yang senang menghampiriku tanpa kuminta. Seperti sekarang..."
Sebenarnya beberapa kali aku harus tugas penyusupan, tapi itu biasanya mudah, begitu aku bisa masuk aku bisa melihat apa yang kuinginkan. Tapi yang ini tidak bisa, aku harus masuk sangat dalam, dan hanya bisa puas melihat yang ada disekelilingku. Aku frustrasi hanya ditaruh sebagai pion.
"Kau takut?"
"Siapapun takut dengan kegelapan..."
Dia melihatku, lalu diam, menungguku menyelesaikan menukar perbannya. Aku kemudian merasa aku memancing terlalu jauh sekarang, aku menyesal dengan kata-kataku tadi.
"Kalau kau takut kegelapan kenapa kau ada disini Natalie? Jika kau tahu kenapa kau tak pergi jauh-jauh. Kenapa kau berani berada disini? Sudah kuperingatkan padamu jangan terlibat denganku. Ada yang kau inginkan sebenarnya?" Aku membeku, dadaku berdebar keras. Pertanyaannya memojokkanku.
"Nathalie, kau sudah disini, kenapa sekarang kau minta kembali?" Dia menatapku lekat, aku hampir tak bisa bernapas sekarang. Kami terlalu dekat dan aku tak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya."Kau sudah melewati garisnya, berkali-kali kuperingatkan padamu jangan masuk..."
Jika aku bisa lari aku akan lari sekarang. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya untuk lari.
"Aku tak mau apapun. Kenapa kau seperti mengancamku. Jika kau ingin aku pergi, aku akan pergi, bukankah kau sendiri bilang aku tak boleh kembali ke LA..." Aku harus mencari jalan keluar, apa yang harus kulakukan sekarang.
"Jangan berputar-putar Natalie, kenapa kau disini?" Aku dalam keadaan bahaya sekarang. Jika aku tertangkap mata-mata aku akan berakhir di kantung mayat. Dia tak akan mengampuniku.
"Apa maksudmu berputar-putar, aku tak mengerti maksudmu..." Aku terintimidasi, ketakutan, kami hanya berdua sekarang. Mudah baginya untuk mengalahkanku walaupun dia sedang terluka.
Aku merasa tak aman , aku bangkit dan menjauh dari Nathan.
Dia menangkap tanganku dan menahanku yang akan menjauh. Aku otomatis berbalik dan menariknya kembali tapi dia menahan tanganku dengan erat. Lepas darinya bukan hal yang mudah, fisiknya lebih kuat dariku.
"Lepaskan tanganku Nathan, kau membuatku takut..." Aku menarik tanganku lagi tapi dia malah yang menarikku mendekat. Aku menahan tanganku di dadanya, dadanya yang terbuka itu sekarang terpegang begitu saja. Aku tercekat, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Terlambat untuk merasa takut Natalie sayang. Seharusnya kau tak pernah melihatku membereskan musuhku. Apa seseorang mengirimmu ke sini untuk memata-mataiku? Aku punya penawaran untukmu, katakan sejujurnya, aku akan mengampunimu, aku berjanji, dan aku orang yang memegang janjiku..." Tatapan dinginnya membuatku merasa seperti mangsa yang terpojok.
Hanya satu cara lolos dari ini. Cara ini entah berhasil atau tidak. Tapi aku tak akan mengakui apapun.
"Tak ada yang mengirimku, apa yang sebenarnya kau bicarakan, kau yang ingin aku disini... Kenapa kau berkata begitu? Kau paranoid? Lepaskan tanganku... Ini sakit." Aku berusaha melepaskan diri. Menarik sekuat yang aku bisa. Tapi tetap dia tak melepaskanku.
"Mengakulah, katakan siapa yang mengirimmu aku akan melepaskanmu, sudahi sandiwaramu...." Sekarang dia mengunci dua tanganku dibelakang pinggangku. Dan memakai tubuhnya sebagai tiang pengunci, aku dipaksa menempel begitu saja padanya.
"Tak ada yang mengirimku. Lepas Nathan, kau membuatku takut ... Aku sama sekali tak mengerti pertanyaanmu."
Aku berkeras dan berusaha melepaskan diri. Posisi apa ini aku bahkan tak bisa melepaskan diri dari kunciannya. Tubuh kami terkunci begitu saja, dengan tubuhnya menempel begitu saja. Satu-satunya cara melepaskan kuncian ini adalah membenturkan kepalaku padanya tapi konfrontasi seperti itu artinya mungkin aku akan terbunuh
"Kau bukan pembohong yang baik... Sudah kubilang aku tak akan melepaskanmu. Mengakulah... Tak usah melawanku, kau tahu bagaimanapun kau tak akan menang."
"Kenapa kau!? Aku tak mengerti maksud pertanyaanmu! Kenapa kau memaksaku begini? Lepaskan aku!"
"Jawab siapa yang mengirimmu kesini!? Aku akan memberimu kesempatan mengakuinya..."
"Aku tak dikirim siapapun! Kau gila! Lepaskan aku atau aku akan melawanmu!"
"Sudah kubilang kau tak akan bisa melawanku." Dia mengancamku terang terang-terangan.
"Kau terlalu yakin." Aku balik mengancamnya.
"Kau boleh mencobanya." Dia mengangkat alisnya menatapku.
"Nathan! Lepas! Aku melakukan segalanya untukmu. Begini balasanmu?" Aku berusaha melepaskan diri, tapi tetap tenaga kami tak sebanding. Dia tetap mengunci tanganku ke belakang, membuat lenganku sakit, dan sekaligus membuat aku tertambat tak bisa bergerak.
"Melakukan segalanya untukku? Bagian mananya, melakukan segalanya untukku."
"Lepas... Ini sakit." Sekarang aku menangis. Setelah tak berhasil melepaskan diri aku membiarkan diriku menggunakan senjata wanita air mata. Aku menyandarkan diriku dipundaknya, menempelkan keningku padanya, menyerah untuk melawan.
"Jangan menangis Natalie, sudah kubilang aku tak akan akan menyakitimu, kau memang melakukan beberapa hal...Mengakulah, kau bisa pergi. Aku berjanji tak akan ada apapun yang terjadi padamu..." Aku tak bisa pergi dan membongkar operasi ini. "Nathalie... Apa benar itu namamu?"
bersambung besok .....