
POV Eliza
Aku melihat ponselku. Aku merasa aku harus menelepon Javier memberitahu padanya aku akan menikah. Rasanya ada sesuatu yang kurang jika dia tidak tahu, bagaimanapun aku juga berharap yang terbaik untuknya.
Jadi aku mengirimkan pesan padanya apa aku bisa bicara sebentar dengannya.
Tak lama dia yang langsung meneleponku kembali, aku tersenyum mendapatkan teleponnya. Aku duduk di sofa kamar menerima teleponnya.
"Ada apa Elisa?"
"Sorry apa aku menggangumu." Ini masih hari kerja, walaupun seharusnya ini jumat sore akhir pekan yang harusnya lebih longgar.
"Tidak, tentu saja tidak. Ini hampir akhir pekan, tak ada yang terlalu terburu-buru."
"Javi,... sebenarnya aku mau memberitahumu aku akan menikah besok." Langsung saja ke intinya. Dia sesaat terdiam tak menjawabku.
"Ohh benarkah? Wow, selamat untukmu jika begitu."
"Maaf, aku tak bisa mengundangmu, kau tahu, Fabri cemburu sekali padamu. Maafkan aku sekali lagi... Kami hanya mengundang teman dan lingkungan keluarga saja." Dia tertawa kecil di seberang sana.
"Well, itu tandanya dia mencintaimu. Jangan pikirkan aku, aku senang kau menemukan kebahagiaanmu. Semoga kalian berbahagia... Sungguh aku senang." Sekarang aku tersenyum, andai dia bisa melihat betapa aku senang mendapatkan ucapan selamat berbahagia darinya.
"Aku juga berharap kau menemukan kebahagiaanmu Javi, ... Jika kau menikah nanti aku akan datang jika kau bersedia mengundangku. Jangan sakit hati aku tak mengundangmu sekarang, kumohon ...." Dia tertawa.
"Tentu saja gadis bodoh, sudah kubilang aku tak apa. Kau menelepon dan memberitahu sudah cukup. Aku akan mengundang kalian ke pernikahanku tentu saja." Entah bagaimana mendapatkan bahwa dia tidak marah membuatku lega.
"Terima kasih buat ucapan selamatmu. Aku sangat menghargainya..." Mengatakan pikiranku padanya terasa melegakan.
"Kau layak berbahagia dan mendapatkan yang terbaik, jangan pikirkan lagi masa lalu. Karena memang itu sudah berlalu. Aku hanya bagian masa lalu ... tapi selamanya kita akan jadi teman. Oke sweetheart, berbahagialah ..." Mataku berembun untuk kata-kata terakhirnya. Sungguh aneh kupikir setelah kami bercerai dia yang akan menikah lebih dahulu daripada aku. Tapi kenyataannya malah terbalik... Takdir memang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang menantimu di masa depan yang akan datang.
Aku tak memberitahunya bahwa aku hamil, nanti mungkin dia akan tahu, tapi nanti. Aku tak ingin membuatnya merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena memang aku yang bermasalah di awalnya. Ini kudapatkan karena keajaiban, jadi aku tak ingin membuatnya merasa dia yang salah karena sekarang aku hamil dengan Fabri.
Mungkin karena bukan takdir kami untuk memiliki keluarga ...Entahlah takdir jalannya begitu misterius. Bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengannya di website aneh itu.
Aku membuka website itu, harus login member untuk masuk ke area utama. Tentu saja memberku sudah tak berlaku lagi. Tapi membuka halaman mukanya membuatku merasa kembali terlempar ke waktu-waktu sulit di musim yang lalu, dimana sepertinya keadaan memaksaku seperti di dorong ke ujung jurang. Dan saat pertama kami bertemu di kencan buta itu. Rasanya aku begitu malu berhadapan dengan orang yang mengenalku. Jika saat itu aku bisa masuk ke perut bumi, akan kulakukan untuk menyembunyikan diriku.
"Vanilla apa yang kau buka?" Aku kaget ketika dia muncul di belakangku.
"Ehh ini, ...ehm tidak." Aku menutupnya tapi nampaknya dia mengenali halaman mukanya. Alisnya terangkat. Dia tertawa dan menatapku.
"Sayang, apa kau mau daftar jadi sugar baby lagi." Aku masih tertawa malu mengingat bagaimana kami bertemu. “Apa aku kurang bagimu...” Dia tahu bukan begitu ceritanya, tapi tetap saja dia dengan senang hati menggodaku.
"Aku hanya mengingat bagaimana kita bertemu, itu sangat memalukan. Bagaimana kau bisa ... sebaik ini padaku. Padahal apa yang kulakukan ... salah." Iya, anehnya dia tidak menghakimiku dan memanfaatkan kesempatan. Dia memanfaatkanku tentu saja pada awalnya tapi dengan cara yang berbeda, tapi pada akhirnya dia tidak pernah meninggalkanku.
"Entahlah, kurasa dari dulu aku selalu berusaha melihat alasan dari semua tindakan. Tapi karena site itu kita bertemu bukan. Sekarang kau jadi sugar babyku seumur hidup, apa kau suka ide itu..." Aku tertawa.
"Aku tak keberatan, karena aku bisa mendapatkan banyak juga. Sangat berlebih malah... Jadi mintalah apa yang kau inginkan, karena sugar daddy yang ini sangat loyal."
"Aku hanya meminta hatimu... Sisanya mengikuti."
"Kau memang sugar baby yang licik. Makanya aku jatuh padamu..."
"Apa itu pujian,..."
"Itu pujian tentu saja."
"Kau akan teken kontrak seumur hidup denganku bedok, mau mundur sugar daddyku sayang.”
“Tidak, aku sudah punya kontrak takdir denganmu. Aku tak akan jadi Ayah yang meninggalkan anaknya.” Aku menimbang perkataannya.
“Ayahmu datang sayang? Apa kau menginginkan dia datang...” Dia berpikir sebentar.
“Aku pernah beberapa kali memikirkannya, tapi Mama tak menyinggungnya. Kurasa Mama tak ingin dia ada, jika kau tanya apa aku ingin dia datang, iya, mungkin. Aku ingin tahu kabarnya kadang, kenapa selama ini dia tak pernah menghubungiku. Mungkin satu hari aku akan mencarinya, ... jika dia sudah bahagia dengan keluarga barunya, akan bagus, mungkin saat dia meninggalkan kami, keadaan sulit, dia berpikir akan lebih baik aku kembali ke Italy bergabung ke keluarga Paman. Kurasa setiap Ayah ingin yang terbaik buat anaknya, mungkin dia melakukan semua itu ... ada alasannya.”
“Kau selalu berpikir baik tentang keluargamu.” Aku senang dia tidak menyimpan dendam.
“Dulu tidak begini, aku membencinya kenapa dia meninggalkan kami. Sejujurnya baru belakangan saat aku diberi anakku sendiri, aku baru diberi pemahaman seperti ini. Anak ini, mungkin akan mengubah banyak hal, menjadi orang tua itu akan banyak merubah kita. Aku sekarang sadar itu.”
“Aku yakin kau akan jadi Ayah yang hebat.” Dia menatapku dengan senyumnya.
“Kau tak boleh menceritakan bagaimana kita bertemu, itu akan jadi skandal. Katakan saja kita bertemu pertama di restoranmu.” Aku tertawa mendengar kata-katanya sekarang.
“Akan jadi rahasia kita saja.”
“Tentu saja, orang dewasa memiliki rahasianya sendiri.” Dia tersenyum soal kesepakatan rahasia kecil kami ini.
“Semoga dia lahir sehat-sehat, dan jadi putri yang berbahagia, tahu mengusahakan kebahagiaannya sendiri.” Aku selalu berdoa untuk kebahagian putriku walaupun dia belum lahir. Kurasa semua Ibu melakukannya. Dan bahkan semua Ayah.
“Kita akan mengajarkan padanya. Agar tidak manja dan bisa berjuang mengapai keinginannya sendiri.” Masa depan masih jauh, tapi aku tak sabar untuk melihat putri kami. Dia akan cantik dan berbahagia seperti kami.
\================
Hi, sorry gak update beberapa hari.
Besok mak akan bikin penutup TCP ...Finally kelar, terus lanjut ke Kang Derrick
Vote dan gift ke TCP aja tanggal 1 baru ke Abang Derrick yaaa
Makasih banyak semuanya