The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 70. Meet in Milan



Dia tidak meneleponku, dia tidak mengirimkan pesan apapun. Hanya memintaku pergi bersamanya melalui Howard.


Dia sudah mendarat di Milan dua jam lebih cepat dariku menurut Howard dan aku menantikan bertemu dengannya sekarang, bertanya-tanya kenapa dia melakukan perjalanan ini denganku. Pernikahan sahabatnya?  Aku tidak menyangka dia akan membawaku ke lingkaran sahabatnya.


Apa artinya ini baginya? Sahabat adalah lingkaran dekat, kadang lebih dekat dari hubungan keluarga, apa yang dia harapkan dengan membawaku ke lingkaran dekatnya. Aku terlalu banyak  memikirkan ini. Rasanya sangat mendebarkan   ketika kau dipercaya seperti ini tapi juga terlalu takut untuk memastikan sesuatu yang tak kau tahu. Apa aku boleh berharap padanya? Atau  ini hanya bayaran atas bantuan yang diberikannya. Aku tidak tahu jawaban pertanyaan ini atau aku harus bertanya kenapa dia menjebakku di Sicily berhari-hari.


“Howard, apa Nathan tak mempunyai seseorang yang ditemuinya? Jangan takut mengatakan sebenarnya aku hanya ingin kebenaran, sebenarnya aku menebak-nebak apa maksudnya membawaku dalam lingkaran sahabat ini, kadang aku terlalu takut berandai-andai kukira.”


“Sepanjang pengetahuanku tidak. Dia orang yang sangat pemilih Nona dalam bergaul, dia lebih suka menghabiskan waktu dengan pekerjaannya dari pada bergaul dengan gadis tak jelas  yang dia tak kenal. Dia  tidak pernah menanggapi gadis yang tiba-tiba mencoba berkenalan dengannya.”


Benarkah, jadi sampai sekarang  dia belum mendapat pengganti  Amanda. Lalu aku? Apa dia hanya mungkin hanya ingin agar dia tak sendiri di acara pernikahan itu? Sekarang aku mencari alasannya dalam pikiranku. Walaupun yang kutahu aku hanya bisa menebak-nebak, tanpa tahu   yang  sebenarnya.


Aku melihatnya duduk disebuah sofa lounge dengan headset terpasang dan memejamkan mata. Jantungku berdebar, penampilan santainya dengan jaket gelap dan jambang yang agak panjang, rambut yang agak berantakan itu membuat siapa saja berpaling padanya, dan membuatnya seperti orang jahat . Dia seperti berusaha tidur, jantungku berdebar menatapnya, rasanya sudah lama aku tak melihatnya. Aku tak tahu melihatnya lagi membuatku merasa berdebar tak menentu seperti ini.



"Hi, ..." Aku duduk dan menaruh tanganku di lengannya, disampingnya di sofa nyaman lounge itu dan melihat dia membuka matanya. Senyum kecilnya tercipta dan matanya menatapku dengan hangat. Tubuhku merinding mendapat pandangan hangat seperti itu.


"Akhirnya kau sampai..." Rangkulan akrabnya di pinggangku membuatku sekujur tubuhku merinding, dia menarikku bersandar pada tubuhnya tanpa ragu. "Kau terlihat lelah Kate..." Aku sebenarnya tak tahu bagaimana aku harus bersikap didepannya. Tapi sikapnya yang hangat ini membuatku bertanya-tanya apa yang ada dipikirannya.


"Perjalanannya panjang." Aku dengan nyaman bersandar padanya. Tapi dia menerimanya tanpa protes, apa dia sehangat ini pada setiap wanita yang liburan bersamanya. Walaupun Howard bilang hanya wanita yang sudah dipercayainya bisa menyentuhnya. “Kau membuatku duduk berjam-jam di pesawat tanpa pemberitahuan apapun. Aku harus secepatnya menyelesaikan  pekerjaan  untuk cuti panjang.”


"Bukankah kau sudah punya assisten baru.” Dia menyinggung assisten yang dikirimkan untuk mengawasiku itu.


“Dia tidak berguna,  kenapa kau menyebutkannya.” Dia tertawa kecil sambil  melihatku disampingnya. Tatapan hangatnya  membuatku mabuk  dan merona, merasa ingin  menyembunyikan wajahku yang memanas di lehernya dan memeluknya seperti hanya kami berdua sekarang.


“Aku berjanji panjangnya perjalanan ini akan terbayar nanti. Kau akan menyukainya..." Mata dan bibirnya tersenyum untukku, sementara  tangannya merapikan rambutku seperti kami adalah kekasih yang saling melepas rindu setelah lama tak bertemu.


"Kita ke pantai di Sicily?" Aku sudah membayangkan pantai-pantai indah di Sicily, lautan biru Mediterania, cuaca hangat dan masakan Italian yang luar biasa.


"Tidak kita bukan ke pantai, kita ke vineyard sekaligus winery di dekat pegunungan Etna. Kau akan suka, pertanian besar olive dan anggur, sayuran dan berries beserta pengolahan anggur dan olive oil..." Aku terkejut? Itu adalah gambaran  pensiun masa depanku.


"Benarkah, kita ke winery bukankah ini pernikahan sahabatmu? Mereka menikah di sebuah perkebunan anggur atau  sahabatmu ini punya winery di Italia?"


"Iya dia punya, tapi kita menginap di hotel milik istrinya, dia punya hotel yang indah dan restoran dengan pemandangan kebun anggur yang terkenal di Catania."


"Kedengarannya indah sekali..." Sekarang aku sangat menantikan untuk segera sampai ke tempat menakjubkan itu.


"Memang indah kujamin kau akan menyukainya." Aku tersenyum padanya.


"Terima kasih. Kau melakukan semua ini untukku, mengajakku liburan seperti ini..." Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya, hanya mengatakan terima kasih padanya.


"Tak perlu berterima kasih." Mungkin berpura-pura jadi kekasihnya tak apa. Ini liburan kami, walau dia tak mengatakan apapun, tak ada komitmen, tapi dia melakukan semuanya untukku. Itu lebih berharga dari cuma kata-kata dan janji palsu yang diberikan Tyson, tapi dia bahkan tak pernah membuat janji apapun padaku, hanya dianggap teman lalu dilupakan, sudahlah tak ada gunanya merusak kebahagiaan ini dengan mengingat temanmu itu. Jika Nathan ingin aku berlaku sebagai kekasihnya, entah itu hanya pura-pura untuk memberinya muka didepan teman-temannya kurasa  aku tak keberatan.


"Kemarilah..." Aku menyusup masuk ke pelukannya saat dia membuka lengannya membiarkan diriku memejamkan mata mencium wangi tubuhnya. Ini nyaman sekali. Walau aku hanya bisa menikmati ini untuk beberapa saat kurasa itu cukup.


"Nathan, kenapa kau baik sekali padaku? Aku dikirim sebagai mata-mata kau tak sadar itu." Aku bicara sambil bersandar padanya.


"Kau banyak membantuku juga." Dia mengelus rambutku.


"Terima kasih Nathan..."


"Aku harus jadi apa didepan sahabatmu?"


"Jadilah kekasihku." Sudah kuduga dia ingin aku menjadi kekasihnya saat ini. Aku tak keberatan, teman berpura-pura menjadi kekasih ini tak buruk. Dia melakukan banyak hal untukku, bahkan dia mempertimbangkan aku menyukai perkebunan dan membawaku liburan ke sini.


"Kau tahu, sebaiknya kau mencari seseorang untuk menghadiri ini. Mereka sahabatmu tidakkah menurutmu berpura-pura didepan sahabatmu itu buruk." Dia tersenyum saat aku menatapnya.


"Mereka tak akan tahu, asal kau tak  bilang pada mereka. Kau bisa melakukan itu bukan..." Dia bertanya dengan senyum yang disembunyikannya.


"Aku akan melakukannya dengan rela..." Dia tersenyum akhirnya, membuatku terpesona dengan senyum manisnya... Apa aku akan kehilangan senyum hangat ini nanti. Apa seperti Tyson aku akan jatuh cinta dengan senyum hangatnya.


Aku takut yang ini lebih sulit dilupakan.


"Aku tak  sekejam itu, tapi aku suka saat  kau menyetujuinya." Dan aku mendapat ciuman kecil di keningku.  Bukankah ini terlalu manis. Apa maksudnya dia tak sekejam itu. Ini tak kejam. Kenapa dia harus bersikap begini manis. Sekarang aku memejamkan mataku dan membiarkan mimpi ini bisa berlangsung lebih lama lagi.


"Bagaimana pekerjaan semuanya baik?" Dia tidak mengurus Garcia Int lagi, Louis sudah mengambil alih CEO, dia naik menjadi salah satu komisaris sekarang.


"Hmm baik, semuanya baik belakangan..."


"Baguslah jika begitu. Kemarin mereka sudah mulai berbuat rusuh, kau tahu bukan. Sean sudah mengurus semuanya secara diam-diam."


"Aku melihat semuanya di televisi, mulai dari New York Times, itu dipasang sangat besar, hampir seperti iklan dimana-dimana kemarin. Bahkan muncul dengan headline di layar Times Square." Hanya tertinggal satu minggu dari pemilihan, pemberitaan semassive itu akan menghancurkan karakter seseorang dengan  telak.


"Jika kau ingin kembali sebentar memberi salam ke Tysonmu itu boleh. Anggap saja kau sedang melapor ke kantor  pusat Garcia di New York. Kamis ini pemilihan, kita akan kembali Kamis, diatas kertas mereka tak akan bisa memenangkannya dengan serangan semassive itu. Plus kenyataan bahwa anaknya itu bahkan bersekolah di pinggiran Harlem dan bahkan Ibunya masih harus bekerja di bar yang sama. Tak ada yang bisa  diselamatkan dengan citra sempurnanya."


"Apa tak apa jika dia tahu aku yang membocorkan, ..."


"Sebenarnya jika dia tahu pun sudah terlambat, kau hanya ingin melihat muka kekalahannya bukan. Jangan mencari masalah. Ikutlah bersimpati sedikit, Itu akan menyenangkan mampir ke kantormu sebentar. Dengan spesifikasi yang kau sebutkan dia hanya memanfaatkan nama Ayahnya untuk naik begitu cepat, setelah Ayahnya kalah dan tak punya kesempatan kembali karena skandal yang sudah menjadi konsumsi publik, maka sama saja dia pun hanya akan menjadi kepala unit seumur hidupnya. Manjakan dirimu sendiri dengan menyaksikan hasil balas dendammu."


"Ehmn...begitukah." Aku tertawa dengan bayangan menyaksikan wajah Tyson yang muram atas kekalahan langsung Ayahnya. Dan  mungkin jika  dia tahu itu karenaku,  dia  akan bersedia membunuhku. Tapi itu salahnya sendiri karena bersikap tak tahu diri dengan pertemanan kami setelah bertahun-tahun , apa yang kau tabur akan kau tuai secepatnya.


"Baiklah, aku akan mampir sebentar ke NY nanti,  akan menyenangkan  kukira."


"Dan kau akan menikmati liburan ini..."


"Aku selalu suka pertanian luas. Itu mimpi masa kecil yang sepertinya akan terwujud. Aku memimpikan aku akan punya pertanian luas suatu hari nanti membeli wineyard di daerah Napa atau di Bay Area San Fransisco. Aku sedang mengumpulkan pensiunku..." Dia tersenyum mendengar mimpiku itu.


"Dalam dua jam kedepan kita akan segera sampai ke Catania. Kau akan melihat betapa indahnya tempat itu. Itu akan sesuai dengan bayanganmu. Sayang kita tak punya waktu transit panjang di Milan, jika kita punya waktu kita akan ke kota sebentar."


"Kau sering kesana?"


"Guilio adalah teman masa kuliahku. Bersama Hisao, Hisao dua bulan lalu baru menikah, aku ke Tokyo karena itu. Sekarang giliran Guilio, kudengar mereka juga akan segera menyambut kelahiran, Guilio sudah tak sabar lagi untuk menjadi seorang Ayah.."


"Benarkah, kelihatannya mereka sangat berbahagia. Semoga setelah ini kau juga menemukan seseorang." Dia tersenyum dan menatapku yang berada dalam pelukannya.


"Terima kasih atas doamu..." Aku berharap yang terbaik untuk temanku ini.


Bagaimanapun ini akan berakhir. Liburan ini anggap saja liburan indah. Jangan jatuh cinta pada Nathan.


Kalian tak punya masa depan. Cukuplah apa yang terjadi di Catania tinggal di Catania nanti. Betapapun indahnya itu, betapapun romantisnya dia memperlakukanmu.