
"Apa mau kalian?" Aku tak mau basa-basi dengan Callaway ini.
"Nona bagaimana jika kita bicara sedikit sambil makan siang."
"Aku sibuk. Aku tak akan berpura-pura aku mau bekerja sama dengan kalian. Tak ada kerjasama apapun. Aku tak akan mengatakan apapun yang bisa meringankan anakmu." Aku berjalan meninggalkannya.
"Kami akan membayar harga yang pantas Nona." Ibunya menyusulku, tak ada permintaan maaf. Orang kaya memang menganggap uang bisa menyelesaikan segalanya.
"Uangmu tak berarti Nyonya." Aku berjalan cepat meninggalkannya.
"Tunggu dulu aku akan memberimu dia juta..." Dua juta! Jadi dia menghargai hidupku dengan dua juta, keterlaluan. Mencoba menghilangkan nyawaku hanya didenda dua juta.
"Jadi hidupku hanya berarti dua juta." Mereka saling berpandangan ketika aku memicingkan mata dan menanyakan kembali pertanyaan mereka.
"Itu gajimu hampir sepuluh tahun Nona. Kau sombong sekali..." Aku langsung terpancing dengan perkataannya itu.
"Benar sekali itu gajiku sepuluh tahun. Jika aku mati untuk apa itu. Apa kau pikir uangmu bisa membenarkan perbuatan anakmu. Bahkan minta maaf dan menyesalpun kalian tidak. Kalian pikir kekayaan kalian memberikan kalian hak membenarkan perbuatan anak kalian. Bagaimana jika begini saya, mungkin kau punya ratusan juta di rekening kalian, besok akan kusewa pembunuh menghabisi kalian berdua... Buat apa uang kalian? Menimbuni peti mati kalian mungkin?"
Orang-orang kaya ini kadang tak punya logika dan kehilangan nurani mereka.
"Jika kau tak membantu kami. Kau akan menyesal, tanpa bantuanmu pun Tyson bisa menyangkal ...." Giliran Ayahnya yang mengancamku.
"Kita akan lihat siapa yang menyesal Mr. Callaway..." Aku meninggalkan mereka dengan perasaan marah. Entah Tyson atau orang tuanya mereka tak menyesal atau meminta maaf sedikitpun.
"Kau diancam lagi Nona..." Josh bertanya padaku saat dia mengikutiku keluar lobby.
"Dia ingin membayarku dua juta. Tenang saja itu hanya ancaman omong kosong, dia tak akan berani berbuat apapun dengan kondisi sekarang. Itu hanya akan memperberat persidangan anaknya."
"Aku akan tetap akan melapor ke Tuan Nathan kau diancam mereka. Orang kaya itu kadang memang menyebalkan."
Aku akan mengabaikannya menurutku itu hanya reaksi kemarahan dan putus asa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku mengunjungi Ayahku sore ini, setelah kembali dari aku memikirkannya beberapa saat kemarin. Sebuah mini market di pinggiran Brooklyn ini adalah miliknya, dia tinggal diatasnya. Kadang dia suka berada di meja kasir menyapa sendiri para pelanggan.
Sebenarnya dia cukup ramah. Aku melihatnya sekarang, dia menggunakan seragam tokonya.
"Dad, bagaimana kabarmu?" Dia langsung tersenyum melihatku.
"Ahh Kate, Ayah baik-baik saja. Siang-siang kau bisa mampir ke sini. Kau sedang libur..." Dia memelukku singkat, beberapa tahun setelah kepergian Ibu dia tampak terpukul. Tapi kemudian dia ternyata bisa bangkit lagi sampai sekarang. Saat aku SMA dia mengirimkanku sekolah asrama,
Dia baru saja membeli franchise ke duanya di bagian lain Brooklyn. Tampaknya keuntungannya cukup lumayan dan kondisi keuangannya cukup baik. Di umurnya yang ke 60 ini dia cukup sehat.
"Ayo naik ke atas, kau sudah makan, kita bisa memesan sesuatu atau kita bisa makan diluar."
"Disini saja, kau sedang bekerja..."
"Tak apa, ada pegawai yang bisa menungguinya. Ayah hanya senang bisa bicara dengan orang-orang, mengamati orang itu sebenarnya kesenangan. Ayo kita ke restoran yang enak favoritmu. Tunggu sebentar ayo naik ke atas Ayah berganti baju sebentar."
Aku mengikutinya naik ke atas. Tempat tinggalnya terlihat rapi, dia hidup dengan baik disini. Dulu saat masa-masa dia depresi, rumah kami berantakan dan ada bulan-bulan menyedihkan dimana aku harus mencari makanan sendiri dengan uang yang diberikannya. Dia berhenti dari pekerjaannya yang sering berpergian itu waktu Ibu pergi dan menetap di NY, entah bagaimana dia masih punya banyak tabungannya saat itu. Kurasa dia menyadari keadaannya juga membuatku depresi saat itu,... dan dia merasa lebih baik mengirimku ke asrama.
"Kau kembali ke NY, kemarin kau bekerja di LA bukan?" Dia bertanya padaku saat kami sudah duduk disebuah restoran Italian yang dia tahu aku sukai.
"Iya, aku sedang mengambil cuti sebentar. Oh ya, sekarang aku kepala unit, aku akan jarang bekerja di lapangan lagi, biasanya aku tugas penyamaran kadang." Sekarang aku baru berani mengatakannya.
"Kau tahu kemarin aku hampir dibawa ke Rusia..." Aku tertawa sekarang. "Sudah tak apa..." Saat itu aku sempat berpikir apa aku akan bertemu Ayah lagi jika aku dibawah ke Rusia, aku belum mengatakan aku berterima kasih padanya tetap bersamaku. Hubungan kami tak pernah terlalu dekat, aku berpikir aku harus memperbaiki hubungan kami. Sekarang aku punya kesempatan melakukannya.
"Apa?! Rusia?!" Mukanya langsung khawatir, "Bagaimana bisa kau terlibat dengan Rusia? Ceritakan padaku..."
"Dad sudah berlalu..."
"Kau harus cerita. Semuanya..." Tiba-tiba situasi menjadi serius. "Aku mau mendengar semuanya. Siapa yang mengejarmu, kenapa dia mengejarmu?"
"Dad, tak ada yang perlu kau khawatirkan semuanya sudah diatasi." Tadi harusnya aku tak menyebutkannya. Aku merasa membuatnya khawatir sekarang.
"Kau harus cerita padaku... Rusia tak akan melepasmu begitu saja. Kenapa kau dikejar sebagai target." Dia memaksaku, tapi kata-katanya membuatku bertanya.
"Dad, kau seperti tahu sifat mata-mata Rusia saja, memang kau pernah terlibat dengan mereka." Aku tertawa.
"Anggap saja Ayah tahu, sekarang ceritakan semuanya sejelas-jelasnya." Sekarang aku terdiam. Sebuah pikiran melintas di kepalaku.
"Dad apa kau seorang agen rahasia? Kenapa kau bilang kau tahu sifat mereka, kau membuatku takut." Dia hanya tertawa.
"Aku hanya ingin tahu ceritanya, ceritakan yang terjadi. Jangan berpikir macam-macam, apa Ayahmu ini terlihat seperti polisi. Aku Ayahmu, aku ingin tahu apa yang terjadi, aku sudah hidup lebih lama darimu..." Sebenarnya aku tak tahu apa pekerjaannya, Ibu hanya bilang dia marketing overseas. Jadi aku mengasumsikan begitu, dia memang kadang sering bekerja sampai berbulan-bulan kami tak bertemu.
"Baiklah, ini yang terjadi..." Aku menceritakan semuanya padanya.
"Siapa namanya? Arthur Kulkov, Koyla, Callaway..." Dia diam ditempatnya. Memikirkan sesuatu. Aku semankin curiga dengan reaksinya.
"Dad, apa kau tahu sesuatu tentang mereka..."
"Tidak, bagaimana aku bisa tahu soal itu...Mungkin ada temanku tahu, aku punya beberapa teman orang Rusia." Dia mengangkat bahunya. Benarkah? Sebenarnya jika dipikir-pikir aku tak pernah tahu tahu teman Ayah satupun. Kenapa dia bisa kenal orang Russia.
Dia menghela napas. "Jadi semua tugasmu di luar itu penyamaran. Itu berbahaya, kenapa mereka menugaskan wanita..." Dia baru tahu kebenarannya.
"Karena aku cantik Ayah, tak seorangpun mencurigai wanita cantik,..." Kecuali seseorang. Nathan, dia akan mencurigai semua orang yang sengaja mendekat, tapi dia memang terlatih mencurigai orang. Apa yang bisa kulakukan tentang kenyataan itu.
"Karena kau cantik ... Well, itu masuk akal juga." Dia tertawa seakan itu bukan hal yang baru.
"Sekarang aku kepala unit, aku tak akan tugas lapangan lagi Dad, aku kepala unit termuda karena semua tugas lapangan itu sekarang."
"Kau wanita Kate, kau masuk FBI, bidang white collar crime? Ayah tak menyangka kau akan bertugas dalam penyamaran. Dan kau tak pernah bilang apapun... Kau benar-benar membuat Ayah khawatir sekarang."
"Semua ada harganya Ayah. Kurasa aku sudah membayar harganya dengan naik ke kepala unit begitu cepat...." Aku menenangkan kekhawatirannya. Kepala unit tak akan mungkin terjun sendiri ke penyamaran . Kecuali mungkin aku akan diberi tugas menagani agen dalam penyamaran nanti.
Ponselku berbunyi dengan suatu pesan.
'Kata Josh kau sedang bertemu Ayahmu, kata Josh kau sedang bersama Ayahmu. Apa aku boleh bergabung?'
Nathan mau bertemu Ayahku juga. Aku tak menyangsikan dia menganggap serius hubungan kami.
"Dad, seseorang ingin bergabung dengan kita bolehkah..."
"Seseorang, maksudmu kekasihmu bukan..."
"Iya..." Aku tersenyum.
"Tentu saja, Hmm sudah saatnya kau memperkenalkan seseorang..." Syukurlah kami menjauhi topik Rusia itu sekarang.