
"Kenapa kau?" Hari ini rupanya Guilio muncul disini. Dan muka muram aku membuatnya bertanya.
"Hmm...aku harus meremajakan hampir 35%, aku bisa menerima 10-15% , 35% bagian belakang terlalu banyak."
"Makanya aku bilang kau fokus ke restoran dulu."
"Kupikir aku masih bisa menjual di tahun pertama, setidaknya aku masih ada untuk show off di laporan keuangan tahun pertama, tapi ini sangat menyebalkan."
"Tenanglah, setiap investor tahu investasi farm tidak akan langsung menghasilkan mentereng di tahun pertama, makanya kemarin dia langsung oke karena kau punya restoran dan hotel. Dan kurasa dia tidak akan protes terlalu banyak karena dia juga mendapatkan bisnis lain dariku."
"Ohhh ya? Mendapatkan bisnis lain?"
"Hmm... Mana lihat sini proyeksimu." Dia melihat angka-angka yang tertulis di laptopku.
"Iya memang 35% cukup besar. Hampir 1/3, pendapatanmu terpangkas, biayamu naik signifikan. Tapi ini tahun pertama, ...Bisa dimengerti semua biaya besar konstruksi masih baru hampir selesai."
"Aku baru bs rebound di tahun ke 3, aku harus benar-benar fokus ke restoran dan hotel dulu. Setengahnya ke seasonal product."
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan, lakukan peremajaan itu. Jelaskan kenapa biayamu naik, ini bisa diterima. Jangan terlalu khawatir, aku besok ke Napoli sebentar bertemu Bova, dia tertarik bergabung dengan salah satu investasi temanku, nanti kujelaskan padanya apa yang terjadi disini."
"Ohh yang kau bilang bisnis lain itu."
"Iya nampaknya mereka punya sesuatu untuk dijual di Asia Timur, ...mereka sedang mencari distributor besar."
Aku mengangguk, menjelaskan kepada Guilio tentu saja lebih mudah, tapi dia bisa menolong menjelaskannya pasa Bova ternyata.
"Apa aku harus bertemu Bova juga menjelaskan?"
"Tidak...tidak, aku saja." Dengan cepat dia menjawab. "Kirimkan saja proyeksimu, akan kuurus penjelasannya."
"Aku baru pertama punya investor orang luar, rasanya seperti aku harus melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan."
"Dia akan mengerti..."
"Guiliooooo...." Astaga siapa yang memanggil begitu lantang. Ternyata Joana, teman SMA ku yang sering membully ku juga. Tapi sudahlah mari lupakan itu. Ternyata dia kembali ke sini musim Natal ini.
"Sayangku, aku sudah lama sekali tak bertemu denganmu."
"Joana, apa kabarmu."
Sangat suka warna merah dan pink. Lihatlah gaun maxi merahnya ini, statement semua orang harus melihat padanya. Aku rasa dia pernah menjadi pacar Guilio beberapa saat.
"Iya Monica sahabatku, aku selalu menyempatkan kemari, senang bertemu denganmu lagi." Mendengar senang bertemu denganmu lagi Joana langsung duduk disampingnya, dia tak merasa perlu menyapaku dulu rupanya, tujuannya hanya Guìlio.
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang sedikit malam ini. Tadinya aku mau menyapa Monica, aku baru kembali dari Paris, sekarang Mamma menyuruhku kembali ke rumah, tak ada hiburan disini, aku bosan." Aku meringis, pas Guilio sedang selibat, dia akan bersyukur menemukan gadis sexy ini akhirnya.
"Tidak aku harus ke luar kota besok pagi sekali, aku masih ada pekerjaan. Tak bisa pergi denganmu." Kenapa dia langsung menolak gadis semenarik Joana.
"Ahh Guilio, kenapa kau kejam membiarkanku kesepian." Aku meringis lebar melihat gaya menggodanya yang sangat ...sangat mengoda itu dia melakukannya dengan sedikit menggigit bibirnya, menjalankan jarinya di lengan Guilio mendekatkan dirinya ke lengan Guilio.
"Maafkan aku, aku tak bisa. Aku bicara bisnis dengan Monica setelah itu pulang seperti biasa. Oke Joana yang manis..."
"Kau kapan kembali, kau pasti melewatkan liburan Natalmu di Catania bukan. Bagaimana kalau kita bertemu lain kali."
"Tidak bisa, aku hanya kembali untuk Natal sebentar." Mungkin Guilio memang sedang mencari pencerahan yang tak kunjung didapatkannya, gadis yang mengajarnya dimentahkan semua oleh dia.
"Joana, kau ternyata punya teman tampan disini." Seorang teman Joana bergabung kali ini lebih cantik darinya di mataku.
"Kau jangan kesini. Dia bagianku tak akan kukenalkan padamu."
"Kau pelit sekali Joana. Aku Marcia..." Menyebutkan namanya pun dengan dilembut-lembutkan aku ingin tertawa melihatnya. Sementara Guilio melihatku yang menikmati menonton dia dikerumuni gadis-gadis pemangsa seperti tontonan film romance.
"Guilio,..." Dia terpaksa menerima ciuman pipinya. "Maaf Nona-nona aku dan Monica sedang membicarakan bisnis. Masih di tengah diskusi, jika lain kali aku bergabung dengan kalian boleh, ini harus kubawa besok pagi. Maaf aku tak bisa bergabung dengan kalian..."
"Guilio, nomor teleponmu sayang. Aku akan pergi jika kau memberikan nomor teleponmu." Joana menawar untuk sebuah kesepakatan dia akan pergi.
"Ini... kau bisa meneleponku di sana oke." Guilio mengeluarkan selembar kartu nama putih. Kenapa putih, setahuku kartu namanya hitam. Mungkin dia punya dua kartu nama, casanova yang pintar.
"Ehmm...baiklah, terima kasih. Aku akan meneleponmu oke. Jangan lupakan aku... Bye Guiloo." Ahhh sayang sekali dramanya berakhir, padahal aku menikmatinya.
"Kau benar-benar tidak berniat terlibat dengan wanita sekarang. Kau benar-benar hebat, aku mengagumimu sekarang." Aku tertawa tapi dia menghela napas panjang melihatku tertawa. Aku tidak tahu alasannya.
"Sudahlah sekarang kau yang membuatku kesal."
Aku yang membuatnya kesal? Kenapa?