
Liburan yang menyenangkan. Aku kembali ke pertanian dengan senyum lebar. Walaupun aku belum menerimanya, aku juga tidak menolaknya karena dia terlalu manis. Lagipula bagaimana aku menolaknya jika orang tua kami terlibat. Kurasa aku hanya perlu membiasakan diri dengan statusnya yang baru.
"Cara, aku pergi." Guilio mengatakan itu dengan senyum kecil sebelum dia kembali malam sebelum dia kembali ke Milan.
"Iya. Sampai ketemu akhir minggu..." Dia berjanji untuk kembali kesini tiap akhir minggu. Aku akan menunggu janjinya itu.
"Aku akan kembali, aku akan merindukanmu." Kata-kata dia merindukan tetap terasa aneh, tapi mungkin aku akan melihatnya berbeda nanti.
"Itu hanya lima hari lagi. Jangan terlalu berlebihan."
Aku tersenyum kecil dan pikiranku menolak menganggap itu sebagai rayuan, seperti yang sudah kulakukan bertahun-tahun ini, selama hampir dua puluh tahun ini.
Di satu sisi lain aku tahu itu rayuan, hanya saja aku terbiasa selalu ingin mengatakan itu bukan sesuatu yang istimewa karena Guilio itu hanya teman yang tak pernah menganggapku sebagai wanita. Aku membentengi diriku begitu sempurna. Aku bahkan belum terbiasa mengangapnya sebagai sesuatu yang ingin kusentuh, karena selama ini aku tak punya hubungan seperti itu dengannya.
"Bisa aku mendapatkan ciuman perpisahan." Aku diam saja berdiri didepannya. "Di pipi saja..."
Aku menyentuhkan pipiku padanya dengan cepat. Masih belum terbiasa menyentuhnya...
"Pergilah." Dan dia pergi kemudian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ketika dia pergi, ada yang hilang rasanya. Tapi kemudian mulai ada pesan atau telepon yang mengisi malam hariku, saat istirahat makan siang. Rasanya menyenangkan ada yang rutin menanyakan kabarmu lagi.
Saat akhir pekan, aku mulai bertanya apa dia benar akan berada disini, pertanian terutama milik Lucas sudah mulai dikerjakan karena pekerja pun telah kembali.
Dia bilang akan sampai tengah hari di Catania. Aku menjadi takut dia tiba-tiba bertemu dengan seseorang gadis yang cantik, kemudian dia memutuskan gadis itu lebih cantik dariku dan kami kemudian dia tak pernah kembali lagi.
Apa Casanova itu benar-benar akan berubah sekarang. Tidakkah dia berpikir menetap itu membosankan kemudian.
Ketika dia muncul dan mengejutkanku dengan memelukku dari belakang di bar restoran jam makan siang. Aku merasa sedikit melihat keajaiban terjadi.
"Cara mio, kau sibuk..." Dan mencium pipiku singkat seperti dia benar-benar merindukanku dan aku sudah menjadi kekasihnya.
Dia benar-benar kembali kesini. Menempati janjinya awal minggu lalu. Tadinya aku sudah mempersiapkan hatiku. Aku takut dia seperti Bova lebih mementingkan yang lain daripada aku.
"Tidak, hanya memeriksa beberapa hal. Kau sudah makan."
"Belum, aku tidak ingin makan dipesawat sengaja menunggu makan disini."
"Carilah meja, dan pesanlah, sebentar aku menyusul oke." Dia menurut duduk dengan tenang di meja sementara aku menyelesaikan beberapa hal yang lain.
"Kau sudah kembali ke rumah?"
"Belum, setelah makan siang sebentar. Kau mau ikut ke rumah? Mama pasti senang punya teman ngobrol?"
"Kau seharusnya pulang kerumah dulu sebentar, sore kau bisa kesini lain kali. Anak tidak tahu diri..." Dia tersenyum.
"Kau lebih perduli perasaan Ibuku daripada perasaanku. Kau memang kejam."
"Kau yang berlebihan." Perkataannya membuatku ingin memarahinya. "Aku yang jadi tak enak pada Zia sekarang. Kenapa kau kesini dulu, ..."
"Benarkah..." Aku jadi berpikir sekarang. Sepertinya memang benar apa yang dikatakannya. Kadang dia menginap disini tanpa kembali ke rumah. Dia malah punya kamar khusus yang dia sukai disini. "Baiklah terserah padamu saja, tapi aku tak ingin terlihat aku memonopolimu, nanti Ibumu mengira kau tak kembali ke rumah karena aku menyuruhmu kesini dulu. Pokoknya kembalilah ke rumah dulu lain kali sore kau baru kesini, lagipula aku baru free jika sore..."
Aku memberinya aturan itu. Dan membuatnya mengaruk kepalanya. Aku memarahinya didepan Zia sore itu karena tak kembali ke rumah dulu. Zia tersenyum padaku saat aku mengatakan itu...
"Zia senang sekali, punya menantu sebaik kau. Dari dulu Zia tahu kau sangat menghormati orang tua." Zia merangkulku, dia sudah menggangapku menantu, padahal aku belum bisa sepenuhnya menerima keberadaan Guilio.
"Mamma menantumu ini memikirkan perasaanmu, tapi tak memikirkan perasaanku. Aku datang ke sana dia masih sibuk bekerja." Zia tertawa.
"Ohh itu masalahmu sendiri,...kau kurang berusaha." Tapi sehabis itu dia berkata lagi. "Sudahlah pergilah kalian, kenapa kalian masih disini, sana pergi ke kota." Dia rupanya memberi kami kesempatan berdua. Tapi aku sekarang lega, aku tak ingin Zia merasa kehilangan Guilio karena aku.
Tapi aku menangkap sebuah keanehan, nmpaknya Guilio tak pernah melewati term teman kami, mungkin satu kali ciuman di malam tahun baru itu. Tapi setelah itu dia hanya memegang tangan, mengatakan hal-hal yang manis sehingga membuatmu tersipu-sipu, merangkul dengan hangat.
Tapi kau tahu, tak pernah sampai terlalu vu*lgar, maksudku aku tahu kalau dia berkenalan dengan gadis pasti kau tahu kadang itu berakhir dengan one night standing. Gadis-gadis itu terlalu terpesona dengannya...
Dia sebenarnya tertarik kepadaku atau tidak, kenapa dia tidak pernah mencoba sesuatu yang lebih panas, seperti Bova yang memujaku dalam kesempatan pertama.
Beberapa minggu kemudian aku penasaran. Kali ini dia datang sore karena sesuai aturanku dia harus kembali lagi kerumah Ibunya baru boleh kerumahku. Dia mematuhinya...
Hari ini dia memakai t-shirt pendek yang memperlihatkan lengannya, sexy- aku suka lengannya itu. Ini minggu ke 4 kencan mingguan kami, besok sore dia sudah harus kembali ke Milan karena ada pekerjaan pagi. Aku jadi terbiasa menantikannya setelah beberapa minggu ini dia datang.
"Belena..." Dia langsung menoleh dari jalanan karena kupanggil Balena(paus-red). Walaupun dia kadang merangkulku, tapi dulu juga dia sering merangkulku dengan posisi teman. Rangkulan bukan hal yang spesial. Atau karena selama ini aku belum penah mencoba mengodanya jadi dia menunggu takut membuatku marah.
"Kenapa kau memanggilku balena, balena itu masih tinggal di Canary Islands..."
"Belena, apa kau menganggapku cantik..."
"Kenapa kau menanyakan itu, apa aku terlalu Casanova sehingga semua kata-kataku yang memujiku tak pernah kau percaya."
"Tapi kau tak pernah...menunjukkannya..."
"Aku tak pernah menunjukkannya?" Kurasa aku salah bicara sekarang, dia binggung dengan kalimatku.
"Kau ingin aku menunjukkannya bagaimana?" Sedangkan aku tak mungkin menjelaskannya.
"Ehmm tidak lupakan saja..."
"Atau kau ingin aku mengatakannya bagaimana?"
"Tidak, lupakan saja." Aku tak jadi bicara, lebih tepatnya aku tak tahu bagaimana membicarakannya.
"Cara, kau yakin tidak ada yang kau ingin katakan."
"Tidak..." Aku jadi menggeleng.
"Aku tidak berbuat salah padamu?"
"Tidak, tidak ada yang salah." Bukan apa-apa. Mungkin dia takut aku mengangapnya menyamakanku dengan wanita lain. Sedangkan aku orang yang tak berani memulai duluan sejak dulu. Nanti ada saatnya ... tapi dia memang terlalu sopan sekarang.
____ nyambung besok dehhh maap baru ketulis dikit