The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 48. Chicago



Aku bangun hampir tengah hari dengan kelaparan. Melihat ponselku hanya ada laporan pekerjaan dari kantor, nanti saja kuperiksa,... karena sekarang aku kelaparan. Aku merapikan diri dan turun ke bawah dengan kelaparan dan mencari makanan ke ruang makan. Aku melihat John duduk dibawah, laki-laki dengan tubuh atletis itu, melihatku dan tersenyum.


“Hai Nat, kau mau carbonara.” Dia menawariku spaggeti, rupanya Deborah sang pengurus rumah membuatkan  kami makan siang. Wanita gemuk yang sudah berumur itu  nampaknya menikmati pekerjaannya disini, tinggal dilingkungan yang seindah ini dan melakukan pekerjaannya dengan tenang mungkin  adalah  salah satu kebahagiaan, dan kedatangan kami nampaknya menyenangkan baginya, karena biasanya dia selalu sendiri. Ada salmon panggang, spagetti dan salad disana, dan sepertinya dia suka memasak.


 


“Nona Natalie,  ini enak kau pasti menyukainya. Masakanku pasti enak. Aku senang kalau menemukan orang dirumah ini. Apalagi  banyak laki-laki tampan disini.“ Deborah mengatakan dengan ringan dan membuat kami semua tertawa.


 


“Banyak vitamin mata Deborah?”


 


“Benar sekali Nona, aku kebanyakan sendiri disini, bisa memasak untuk Tuan dan tamunya adalah kegembiraan. Beritahu  aku apakah ini enak.” Dia mengambilkan piring untukku.


 


“Ini enak, kau memasak dengan sepenuh hati untuk vitamin mata disini.” Sekarang dia tertawa terbahak mendengar perkataanku.


“Nona Nathalie, aku ini sudah berumur, anakku sudah pergi sekolah asrama. Jadi aku menghabiskan waktuku tinggal disini merawat rumah ini, kadang anakku pulang kesini saat liburan, aku bisa berhemat uangku untuk pensiun. Tuan Nathan sangat baik hati membiarkan aku tinggal dan bekerja disini.” Ternyata begitu, Nathan punya orang-orang kepercayaan yang bekerja lama.


"John, Sir Nathan pergi?"


"Iya nampaknya ke dokter mengecek lukanya."


"Ohhh baiklah." Aku perlu mencari keterangan tentang agen KGB itu."Orang yang kemarin bagaimana nasibnya?"


"Hmm... entahlah mereka yang mengurusnya, tidak akan jadi masalah lagi kurasa." John sama sekali belum percaya padaku. Dia tidak akan bersedia memberi keterangan apapun padaku. Aku juga masih merasa Nathan tidak sepenuhnya percaya padaku.


"Kapan dia kembali?"


"Dia sudah pergi jam 9 tadi, aku tak tahu mungkin tidak lama. Yang mengawalnya Howard dan Olson hari ini."


"Ohhh oke..."


"Nona mau jalan-jalan? Tempat ini bagus untuk jogging, ada jalur trail sepeda juga disini. Lurus ke depan ada Lincoln Park. Ada pantai dan dermaga disana dan banyak yang jogging di sana saat pagi dan sore." Deborah memberi tahuku.


"Ahh iya daerah ini memang bagus buat liburan. Aku akan jogging sore jika kau mau ikut nanti boleh." Aku mengecek sekitar daerah ini lewat ponselku. Iya memang didepan sana ada pantai dan dermaga. Ini kota tepi danau Michigan yang indah.


"Ehmm iya baiklah, sepertinya memang daerah yang menarik, aku harus mengecek pekerjaan kantor dulu. Laporan sudah banyak yang masuk."


"Nona ini kekasih Tuan Nathan?"


"Ohh bukan-bukan." Aku staff Tuan Nathan, langsung mengelengkan kepala. "Aku hanya kebetulan terjebak disini."


"Terjebak dengan Tuan Nathan itu tidak rugi Nona."


"Ohhh begitukah?" Sekarang Deborah membuatku meringis. Dia tak tahu apa yang kutanggung jika terjebak dengan Tuannya itu.


"Deborah, jikapun kau mau. Tidak ada yang mau terjebak denganmu Deborah."


"John, awas kau tak kuberi kau makan lagi. Kau juga tahu aku sudah tua, tapi aku juga pernah muda." Aku merasa John ditinggalkan disini antara dua kemungkinan dia mengawasiku, atau mungkin dia menjagaku? Hal ini sangat besar bedanya.


"Aku percaya kau sangat cantik Deborah..." Aku tertawa padanya. "Terima kasih untuk makanannya ini sangat enak. Aku akan ke atas memeriksa perkerjaan."


"Tentu Nona, jika kau ingin kue, buah dan desert aku punya di kulkas. Aku tak akan membiarkan orang-orang dirumah ini kekurangan makanan."


"Ahh tentu saja, terima kasih Deborah." Aku naik kemudian menyibukkan diriku dengan pekerjaan. Menelepon Alan untuk melapor. Nampaknya juga dia sudah mendengar dari Nathan tentang cerita kami dibuntuti di pertandingan Lakers.


"Tuan Alan, apa ini akan baik-baik saja, sebenarnya bisnis apa yang menyebabkan Nathan bisa diburu seperti itu. Karena aku sudah terlibat kurasa aku boleh tahu bukan." Dia diam sebentar.


"Kurasa nanti Nathan yang akan menjelaskan padamu langsung Nathalie. Dia bossnya dia yang akan menjelaskan." Semua orang belum ada yang percaya padaku. Berarti Nathan pun belum, editor yang bisa menembak dan beladiri ini mungkin terlalu mencurigakan?


"Baiklah, asal aku aman saja, aku tak mau menyusahkan Boss Nathan. Aku hanya penasaran aku terlibat apa sampai diburu KGB."


"Targetnya adalah Nathan jika kau hanya ada ditempat yang salah Natalie. Jika kau ingin keluar bisa melakukannya. Nathan tak akan menahanmu." Tuan Alan tak mengerti aku tak bisa kemana-mana, aku diperintahkan tetap disini. Jika misiku tak berhasil aku tak akan naik pangkat.


"Aku mengerti Tuan Alan. Tapi aku sudah menganggap kalian keluargaku, aku tahu ini mungkin berlebihan. Tapi ya sudahlah aku akan menunggu saja. Aku tak akan bertanya padamu lagi. Nathan bilang aku akan ikut dengannya sampai seminggu disini, aku akan menurut saja, aku tetap mengecek pekerjaan staff dari sini."


"Hmm baiklah. Berhati-hatilah..."


"Baik Tuan." Aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku kemudian. Aku melihat Nathan kembali sekitar jam empat sore. Dia nampaknya punya banyak kesibukan. Aku memutuskan tak akan memaksa meminta keterangan apapun. Tidak ada yang percaya padaku disini. Aku perlu mundur dari meminta terlalu banyak keterangan. Biarkan saja semuanya di status quo.


Aku akan pergi jogging melihat daerah ini, aku membawa t-shirt dan sepatu di koperku. Aku akan pergi berjalan-jalan sekarang.


Howard ada terlihat di ruangan depan saat aku turun sedang makan.


"Howard, aku pergi jogging." Aku memberitahu singkat, jika kalian mencariku aku membawa ponselku." Aku siap berjalan keluar dengan headset dan ponselku. Langit cerah, aku akan menikmati jalan-jalan kali ini. Tempat tinggal orang para milyuner ini memang luar biasa.


"Oke Nona, mau kutemani?"


"Tidak usah, makanlah."


Aku keluar dan melihat arah perjalananku, menyalakan musik dan memulai perjalanan indah ini. Udara terasa sejuk dan taman ini mempunyai semacam kolam besar dengan latar belakang gedung pencakar langit.



Dan jika kau berjalan lurus terus ke depan ada North Avenue Beach, tepi danau Michigan yang ditutupi pasir putih.



Pemandangan kota Chicago waktu malam dari pantai ini akan menakjubkan.



Aku berjalan santai cukup jauh sudah lama aku tak berjalan sejauh ini, aku suka pemandangannya, udara sejuknya membuatku sedikit melupakan tekanan pekerjaanku. Aku harus tetap disini, pada pekerjaanku, bagaimana jika dia tahu aku orang FBI, mungkin aku akan berakhir di kantong mayat juga.