The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 62. Risk for a Question 3



Karena aku diam saja. Dia bicara lagi...Kali ini mengangkat daguku.


"Kita akan mulai dengan namamu sayang, beritahu aku nama aslimu..."


Aku tak akan menjawabnya sekarang. Pikiranku buntu setelah mendengar kata-katanya. Jika dia mendapatkan indentitas asliku, nama bossku, yang dilakukannya adalah kemungkinan besar membunuhku. Itu tebakanku dan aku tak merasa tak mungkin salah.


"Kau hanya akan membunuhku jika kau sudah mendapatkan yang kau inginkan, seperti kau membunuh agen Rusia itu. Bukankah begitu, kenapa kau senang bermain denganku... Bunuh saja aku sekarang. Aku tak akan mengatakan apapun padanya.


"Jika aku mau membunuhmu, tak usah kutunggu begini lama Natalie, kenapa kau tak sadar itu. Aku sudah bilang kau hanya pion, kenapa kau mempersulit dirimu. Apa aku membuatmu binggung? Yang kuinginkan hanya membuatmu berpindah pihak. Aku akan melindungimu, selama ini apa kau pikir kami tidak bisa melakukanannya jika ingin membunuhmu..."


"Kenapa kau ingin melindungiku. Apa jaminannya kau akan melindungiku." Aku mencari penjelasan atas tindakannya. Dia memandangiku lama. Kedekatan ini membuat aku merinding.


"Apa semua tindakan baikku belum cukup mengatakan bahwa aku ingin melindungimu. Kau hanya orang yang terperangkap di tengah-tengah pertarungan yang tidak kau mengerti. Menurutlah padaku, kau akan baik-baik saja..."


"Bukankah lebih gampang menghilangkanku jika kau punya izin membunuh."


"Aku berterima kasih padamu karena kau membuka siapa Amanda awalnya, membantu banyak hal di Garcia Int., walaupun belakangan aku tahu kau melakukan itu ada tujuannya. Dan satu lagi kurasa bagian cerita soal Tyson itu benar bukan..." Cerita patah hati dengan tangisan itu masih diingatnya dengan jelas ternyata.


"Jika itu benarpun tak akan ada pengaruhnya buatmu. Biarkan aku pergi, aku tak akan menggangumu lagi." Aku tahu permohonanku itu sia-sia sekarang. Sia-sia aku mencoba.


"Bagaimana caraku membiarkanmu pergi setelah kau tahu segalanya." Nathan meringis. Aku harus membuktikan dia tidak akan membunuhku.


"Kenapa aku harus membunuhmu. Kau tak tahu apa-apa, kau hanya tahu sesuatu yang tak bisa kau buktikan kebenarannya. Kita mulai denhan namamu aslimu Natalie sayang? Berbicaralah dengan pelan, setidaknya jika ada yang mendengar diluar sana, mereka hanya tahu yang ingin kita beri mereka tahu...."


"Apa gunanya lagi untukku, kau sudah menjebakku disini." Aku masih punya pegangan nama boss-ku. Dia pasti mau itu. Dia harus membuktikan dia tidak akan melukaiku.


"Ehm, sebenarnya aku hanya membuat agat akhirnya kau mengakuinya... aku hanya mengatakan ada mobil mencurigakan, bukan aku memastikan itu ada." Dia tersenyum menang, pria licik ini menyebalkan dengan semua rencana yang ada di kepalanya.


"Penjahat!" Aku memukul dadanya, memberontak bergulat untuk melepaskan diri dan sebuah sentakan rasa sakit membuatku hampir menangis.


"Itu akibatnya kau melawanku, lukamu bisa terbuka lagi." Bekas lukanya terasa sakit lagi darah merembes di balik perbanku. "Kau harus ke dokter lagi. Tapi kau harus ke kantor polisi juga..." Dia menghela napas dan melepasku sekarang.


"Biar kuperiksa, buka t-shirt mu..." Aku menepis tangannya.


"Kau bukan dokter. Menjauhlah..."


"Dan kau senang sekali membantah. Aku bahkan sudah pernah membuatmu berada dibawahku, aku bersikap baik padamu. Apa sekalipun aku pernah menyiksamu... Kecuali siksaan yang kau minta sendiri?" Senyum mesu*m muncul dibibirnya, membuatku ingin menendangnya.


"Aku sudah kenyang di jahit dari remaja, aku tukang berkelahi, jika kemarin kau tidak menggelapkan lampu, kau akan melihatnya..." Suaranya tiba-tiba melembut.


"Kau bisa mengangkat tanganmu...Apa sakit." Dia terlihat prihatin sekarang. Aku binggung apa dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan ekspresi kasihannya itu.