
"Aku merindukanmu. Maafkan aku baru bisa kesini sekarang."
"Setsuko-san, tak apa. Sudah berkali-kali kau meminta maaf." Aku memeluknya wangi gel mandinya membuatku suka berada di dekatnya.
"Kau wangi sekali."
"Aku barusan selesai mandi. Mandilah sana dan kembali padaku segera." Dia merampas ciumanku dengan memaksa seperti biasa.
"Baiklah, aku akan kembali padamu."
Tak butuh lama untuk kembali ke sisinya kemudian. Bisa bicara lagi dengannya setelah tiga minggu tidak bersama. Walaupun dia bilang tak apa, aku merasa bersalah padanya. Teddy Bear ini pengertian sekali.
"Kau sudah makan?"
"Sudah." Aku duduk didekatnya merangkulkan tanganku ke pinggangnya dan meminta pelukannya. Dia tersenyum melihatku menempel padanya.
"Hanii Bee... kau ini kenapa."
"Aku merindukanmu, merasa bersalah tak bisa melihatmu."
"Ya sudah tinggallah disini semalaman jika begitu." Aku melihatnya, semalaman... Bukankah itu artinya, walaupin dia bersikap sopan padaku. Aku bertanya-tanya apakah kami malam ini akan...
Sebuah ciuman lembut menyentuhku. Tapi dia tidak melanjutkan ciumannya. Selama ini dia bersikap sopan apa kepolosanku membuatnya sedikit enggan. Walaupun aku membayangkan banyak hal soal ini... Kurasa ini saatnya.
Aku duduk di pangkuannnya membalas ciumannya. Tangannya memelukku menjadikan aku lebih mendekat lagi.
Sesuatu terasa olehku, jadi seperti ini rasanya duduk diatasnya. Aku memakai celana katun longgar dan sedikut tekanan itu membuatku tersentak, rasanya menyenangkan. Dia menekankan tubuhku kebawah melawannya dan kali ini aku mendes*ah di telinganya.
"Hisao." Aku ingin dia melakukannya untukku.
"Hanii... Jika kau tak ingin aku terpancing jangan menggodaku terlalu jauh atau kau ingin aku melakukannya. Kesempatan terakhirmu untuk mundur." Dia berbisik saat aku memeluknya karena merasakan tekanan yang dibuatnya.
Dia tahu apa yang kumaksud karena sesaat setelahnya aku sudah mendes*ah dalam pelukan dan sent*uhan bi*birnya di seluruh tubuhku. Merasakan pelu*kan pa*nas pertamaku, dan kepandaiannya membuatku melayang di lampu temaram tanpa sehelai benang pun diantara kami. Aku telah berada di bawahnya dan tato yang tersembunyi itu akhirnya memperlihatkan dirinya. Tato harimau di bawah tulang rusuknya... Aku merabanya dengan wajah panas.
"Kau telah melihatnya." Sementara sentuhan bagian dari dirinya membuatku menger*ang, melihatnya mendapatkan diriku dibawah sana terasa s*exy dan sensasi yang ditimbulkannya luar biasa.
"Hisao..." Dia mencoba masuk sedikit rasa sakit membuatku menahannya dan dia mundur memberiku waktu.
"Hanii...kau sangat cantik. Aku terhormat bisa menjadi laki-laki pertamamu yang kau percaya." Dia memanjakanku tidak terburu-buru melakukan apapun membuatku semangkin menginginkan.
Bagian dari dirinya menggodaku dan setiapkali dia menyentuhkan dirinya itu terasa luar biasa.
"Kau sudah sangat ba*sa*h sayang..."
"Hisao... ehm,..." Aku mengeja*ng saat sentuhan intensnya membuat tubuhku tidak bisa bertahan lagi atas sensasinya dan disaat itu sebentuk rasa sakit juga menghantamku. Dia telah sempurna menguasaiku.
"Kau milikku." Rasa sakitnya membuatku mere*mas lengannya. "Tak apa, kau hanya belum terbiasa ..." Dia manahan tubuhnya diatasku. Aku merasa sesuatu memenuhiku. Sebelum pelan-pelan bergerak menungguku nyaman dan menyelesaikan bagiannya. Rasanya sedikit tak nyaman. Berbeda dari yang dia lakukan tadi. Tapi dia nampaknya tahu dan juga tidak berlama-lama, dia menyelesaikannya sendiri dengan tangannya dengan cepat.
"Ini mungkin tak nyaman buatmu di saat pertamamu tapi nanti kau akan mulai menikmatinya..." Dia menciumku, sementara rasa lengket menyelimutiku dibawah sana. Dia tertawa melihat hasil perkerjaannya dengan baik hati membersihkannya.
"Aku akan mengingat ini seumur hidupku..." Saat mata kami bertemu aku tahu aku tak akan pernah melupakannya.
"Entah kenapa rasanya aku lega telah melewati ini, aku takut ini menyakitkan bagimu. Tapi terima kasih sudah mempercayaiku. Aku mencintaimu..." Sebuah ciuman kecil ke keningku membuatku tersenyum.
Aku memeluknya. Dia melakukannya dengan lembut dan membuat pengalaman pertamaku berkesan. Merasa disayang dan dicintai. Hanya itu yang kuinginkan di saat pertamaku. Dan Hisao memberikan semuanya.
Jika kami tidak bisa bersama dimasa depan pun. Aku akan mengingat ini sebagai kenangan manis.